DALAM PERSPEKTIF KONDISI MENTAL DAN SOSIAL SERTA ALTERNATIF SOLUSINYA

4 August 2007 | Posted in Artikel, berita-lengkap


Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Pendahuluan Bahwa Indonesia sebagai bangsa dan negara sedang sakit, sudah banyak dibicarakan para ahli. Bahkan ada yang ekstrem melihatnya dengan ungkapan: “Indonesia is beyond help.” Ada juga yang menelusuri penyebab utama penyakit itu dalam format lemahnya karakter kita sebagai bangsa. Dikatakan: When wealth is lost nothing is lost When health is lost something is lost When character is lost everything is lost. Saya sendiri masih berusaha membangun optimisme dalam melihat masa depan Indonesia dengan syarat kita mau mengoreksi segala bantuk dosa dan dusta yang telah kita bebankan kepada bangsa ini dalam tempo yang cukup panjang. Tanpa kesediaan mengakui kesalahan dan kelemahan kita, memang akan sangat sulit bagi kita untuk bangkit secara autentik dan percaya diri.

Makalah singkat ini tentu tidak akan meneropong masalah bangsa ini dari sudut medis, karena habitat saya memang bukan di sana. Saya akan melihatnya dalam perspektif sosio-relijius-kultural, sebuah ranah kajian yang sedikit saya ikuti. Beberapa indikasi penyakit mental bangsa Adalah antropolog Koentjaraningrat yang sudah sejak tahun 1970-an melihat gejala penyakit mental bangsa ini yang semakin lama semakin parah, dimulai sejak masa revolusi kemerdekaan, zaman Jepang, dan masa kemerdekaan. Menurut antropolog ini, revolusi di sisi aspeknya yang positif berupa semangat rakyat untuk membela kemerdekaan tanah air, ada pula sisi-sisi buruknya berupa kerusakan-kerusakan fisik dan mental dalam kehidupan masyarakat luas. Lalu Koentjaraningrat menyimpulkan butir-butir penyakit sosio-kultural-mental itu dalam lima kategori:

  1. Sifat mentalitas yang tidak menghiraukan kualitas;
  2. mental menerabas;
  3. Sifat tak percaya diri;
  4. Tidak ada disiplin; dan
  5. Lemahnya rasa tanggungjawab.

Sekarang kita sudah berada di tahun 2007, sifat-sifat buruk di atas ternyata bukannya semakin menjauh, tetapi malah menjadi semakin kambuh. Lontaran Koentjaraningrat itu pertama kali muncul tahun 1974, pada saat minyak kita masih booming (melimpah), sekalipun sebelumnya telah terbongkar borok Pertamina dengan utang sebesar 12 milyar dolar. Tidak ada penyelesaian hukum dalam kebocoran Pertamina ini, karena penanganannya diserahkan sepenuhnya kepada presiden pada waktu itu. Itu artinya dipetieskan. Jika kita kaitkan dengan kategori Koentjaraningrat di atas, hampir seluruh penyakit mental itu diborong oleh berbagai BUMN termasuk Pertamina, yang sedang jaya-jayanya ketika itu. Mochtar Lubis, wartawan Indonesia yang paling berani ketika itu, menggambarkan kemewahan hidup Ibn Sutowo, Direktur Utama Pertamina ketika itu bersama para petingginya sebagai berikut: “Kami beri saja contoh sederhana Ibnu Sutowo. Dia pun seorang pegawai negeri, bekerja untuk negara pula. Tetapi kemewahan hidupnya dan hidup kawan-kawannya dalam Pertamina sudah di luar proporsi sama sekali dengan penderitaan pegawai negeri biasa.” Contoh tentang budaya mumpung ini cukup bertumpuk, dilakukan oleh anak bangsa yang tuna-moral dan tuna-tanggung jawab. Kita kembali kepada masalah karakter.

Apakah karakter itu? Tidak lain dari pada: “Nilai-nilai yang terpatri dalam diri kita melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan dan pengaruh lingkungan, menjadi nilai intrinsik yang melandasi sikap dan prilaku kita.” Dibandingkan dengan harta dan kesehatan fisik, motto di atas menempatkan karakter seseorang pada posisi tertinggi. Maka lima penyakit versi Koentjaraningrat di atas sebenarnya berkaitan langsung dengan suasana mental kita sebagai warga dan sebagai bangsa. Inilah yang sangat merisaukan kita semua, seakan-akan tidak ada solusi yang tepat bagi penyembuhan kebobrokan mental ini. Pancasila dan bahkan agama seperti tidak berdaya menghadapi penyakit kultur yang semakin parah ini. Berbagai upaya telah dilakukan, tetapi hasilnya sangat minim. Ambillah misalnya masalah korupsi, KPK yang mencoba memberantasnya, hasilnya sangat minim, sementara biaya yang dikucurkan sudah berlipat-lipat. Ada ungkapan klasik dari seorang penyair yang menggambarkan juru obat yang mengaku pintar di samping pasien yang tergeletak: Yang mencengangkan Bukanlah karena anda Punya mukjizat penyembuh seperti al-Masih Yang mencengangkan Adalah kondisi sakit pasien anda Semakin parah. Jika pasien itu adalah Indonesia sebagai bangsa, maka berbagai teori untuk penyembuhannya belum satu pun yang manjur, sekalipun para dukun politik banyak yang menawarkan.

Faktanya, “kondisi sakit pasien semakin parah.”

Umumnya orang melihat gejala penyakit, tetapi apa penyebab pokoknya masih belum ditemukan. Atau sudah ditemukan tetapi tidak bersedia menyembuhkannya. Akhir Nopember 2006, Michael Porter dari Harvard Business School memberikan serangkaian ceramah di Jakarta dalam rangka melihat perkembangan perekonomian di Indonesia. Dengan terus terang Porter meneropong berbagai kelemahan struktural birokratik yang mendera Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Hampir tidak ada perubahan, mental aparat dan pengusaha dikatakan sudah karatan. Yang mencengangkan Porter ialah kenyataan baik pemerintah mau pun pengusaha sudah sama-sama menyadari kelemahan itu, tetapi tetap saja tidak mau berubah. “Para pengusaha bahkan lebih sibuk menggegorogoti “kue” ekonomi yang ada, bukannya berusaha memperbesar “kue” tersebut dengan meningkatkan daya saing.” Ibarat anjing berebut tulang, begitulah tamsilnya aparat birokrasi dan penguasaha dalam berebut kue nasional yang semakin benjol dan mengecil. Sebagai penganut faham ekonomi liberal, Porter lebih menekankan pentingnya Indonesia unjuk gigi untuk bersaing secara global, dengan syarat mau mengubah prilaku sebagai bangsa “peminta-peminta”, menjadi bangsa yang percaya kepada kekuatan sendiri.

Bilamana pengamatan Porter benar bahwa pemerintah dan pengusaha telah sama menyadari berbagai corak penyakit mental yang melilit tubuh bangsa ini, tetapi mengapa tidak mau siuman juga? Mengapa penyakit ini dibiarkan saja semakin akut dari waktu ke waktu? Apakah bangsa ini kita biarkan saja tenggelam secara berangsur tetapi pasti? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sudah dikemukakan sementara pakar, tetapi prilaku tak peduli itu tetap saja tidak berubah. Saya sendiri sudah berteriak di mana-mana agar kita mau berubah, tetapi alangkah sukarnya menembus hati dan kesadaran pendengarnya. Oleh sebab itu saya berharap agar para dokter mulai bersuara lebih keras dan lantang dengan mengemukakan data psiko-sosial yang kuat dan akurat, siapa tahu akan ada dampaknya, akan ada telinga yang mau mendengar. IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dengan ribuan anggotanya, bertebaran di seluruh Nusantara, agar mau turun gunung, tidak hanya sibuk dengan penyakit fisik manusia Indonesia, tetapi tengoklah pula penyakit yang lebih parah berupa penyakit mental. Tentu IDI tidak mungkin bekerja sendiri. Ajaklah psikolog, tokoh-tokoh agama, para pendidik, ilmuwan sosial, dan budayawan yang peduli untuk duduk bersama merumuskan bagaimana strategi yang tepat untuk mengobat manusia yang sudah tahu penyakit tetapi tidak mau berobat.

Tahu masalah tetapi tetap tidak scuh adalah pertanda manusia kurang normal. Tentu yang peduli dengan masalah-masalah besar bangsa tetap ada di antara kita, tetapi umumnya tidak berdaya di tengah lingkungan yang tidak hirau, tidak peka. Jakarta: pusat politik dan komersial Berbeda dengan ibu kota Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara lain, yang memisahkan antara pusat pemerintahan dengan pusat bisnis, Jakarta merangkul keduanya: pusat politik dan pusat bisnis. Sebagai pusat komersial, Jakarta sudah lama dikenal sebagai kawasan “perselingkuhan” politik dan uang. Pada periode yang lalu sekitar 80% rupiah beroperasi di Jakarta. Maka tidak mengherankan penduduk Jakarta semakin padat saja. Tahun 1980-an pendatang baru rata-rata 250 per hari, berusia antara 15-39 tahun. Sensus Penduduk tahun 1990 menunjukkan bahwa penduduk Jakarta berjumlah 8,259,266, sedangkan tahun 1997 sudah menjadi 9,341,400. Sekarang sudah tentu belasan juta, terutama di waktu siang yang berdatangan dari Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bedkasi). Perumahan merupakan salah satu masalah serius di samping masalah transportasi yang tidsak bisa diatasi, sekalipun sudah ditambah dengan Busway. Kamacetan sebagai salah satu sumber stress tetap saja mendera penduduk Jakarta. Kendaraan yang terus bertambah sementara ruas jalan tidak banyak mengalami perubahan. Jakarta juga termasuk salah satu kota metropolitan yang digerogoti polusi udara dan polusi kebisingan yang semakin mencekam. Apakah Jakarta juga kota sakit? Dilihat dari sisi pencemaran lingkungan fisik dan mental, tidak diragukan lagi bahwa Jakarta termasuk di antara kota dunia yang sedang mengerang kesakitan. Kemacetan lalu lintas bukan lagi berita, tetapi derita. Jarak 5 km dalam keadaan tertentu bisa ditempuh dalam tempo dua jam. Hampir semua kita telah mengalaminya. Yang repot adalah jika kita mau ke bandara untuk sebuah urusan penting dan waktu telah kita atur, eh, tahu-tahu macet total. Akibatnya kembali ke rumah dalam keadaan menggerutu.

Jika tidak sabar dan hal serupa berulang kali terjadi, maka sudah pasti akan berlaku kumulatif stress yang akan merusak jiwa dan fisik. Kita tidak tahu masih berapa lama kondisi buruk ini akan berlangsung. Sejak masa Bung Karno dulu sudah ada angan-angan untuk memindahkan ibu kota agar kamacetan lalu lintas dapat dikurangi. Tetapi itu semua pasti menuntut biaya raksasa, sementara negara kita tetap saja mengalami devisit APBN. Sekiranya mau dipindahkan menjauh dari Pulau Jawa yang padat, menentukan lokasi yang tepat tentu tidak mudah. Namun angan-angan serupa itu biarlah terus bergulir, sebab siapa tahu generasi yang akan datang dapat memberi solusi. Jika generasi sekarang yang sudah terlalu sarat dengan beban dosa dan dusta, tentu akan sulit sekali dapat berfikir jernih. Apalagi sebagian besar para elit itu tinggal di Jakarta, kota dengan berjibun masalah. Penutup Adakah solusi untuk masalah bangsa kita? Saya tidak tahu. Paling-paling saya hanya menganjurkan agar manusia siuman di negeri ini diperbanyak jumlahnya. Dalam beberapa kesempatan saya telah sering melontarkan pendapat bahwa yang lumpuh di kalangan bangsa ini adalah hati nurani, yang lumpuh adalah akal sehat. Oleh sebab itu, definisi WHO (World Health Organization) tentang sehat berupa: sehat mental, sehat sosial, dan sehat fisik wajib senantiasa disosialisasikan, dan IDI jelas sekali dapat memainkan peran sangat penting dan strategis untuk menyadarkan masyarakat luas tentang trilogi sehat ini. Para dokter yang hanya sibuk dengan profesinya sendiri, tidak punya kepedulian sosial, berarti tega melihat bangsa ini pada akhirnya akan terjun jurang. Hanya manusia edan saja yang rela melihat bangsa ini tidak punya masa depan yang cerah.

(Disampaikan di depan Forum Diskusi Publik Bulanan PB IDI tanggal 18 Juli 2008, bertempat di kantor IDI Jakarta) Jakarta, 18 Juli 2007