Dokter dan Guru Sejatinya

Dokter dan Guru Sejatinya

3 January 2013 | Posted in Artikel, artikel-ketua, berita-lengkap


“Orang pinggiran”. itulah sebutan akrab bagi orang miskin yang papah, duafa, dan orang tak berpunya lainnya. Sebutan orang pinggiran ini melekat, boleh jadi karena memang orang miskin itu hidupnya selalu di pinggiran. Namun mungkin pula karena mereka terpinggirkan oleh keadaan atau karena sengaja dipinggirkan, tanpa ada upaya untuk menolong dan menariknya ke tengah pusaran peradaban untuk hidup berdiri tegak, sebagaimana warga lainnya.

Kita tinggalkan dulu istilah dan berbagai sebutan bagi kaum tak berpunya itu. Kita sedikit beralih untuk bicara tentang dokter. Berbicara tentang dokter adalah bicara mengenai saya, Anda, teman sejawat lain, dan tentang kita semua sebagai suatu komunitas profesi yang memiliki sifat dan tradisi luhur. Profesi yang mengabdikan hidupnya untuk manusia dan kemunusiaan. Bahwa kemudian dokter mendapat honorarium karena pengabdiannya, itu semata karena wujud penghormatan pasien atas jasa yang telah dokter berikan kepadanya.

Semakin puas pasien atas pelayanan yang diberikan oleh dokter maka pasien pun semakin menaruh hormat dan terima kasih kepada dokternya. Tingginya penghormatan itu pun agak sulit untuk menyeragamkannya. Sebab itu semua bersifat pribadi, bisa dalam bentuk non materi dan dapat pula berwujud materi. Penghormatan yang berwujud materi pun juga tidak mudah mengukurnya kualitasnya. Karena besanya materi yang diberikan seseorang pasien yang kaya kepada dokter tidak serta merta menunjukkan kualitas penghormatannya.

Sekarang kita kembali kepada orang miskin dan ada apa dengannya? Terkait dengan orang miskin ini, saya teringat nasihat guru saya, dosen kami semua. Ketika saya dan teman seangkatan baru saja menginjakkan kaki di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas), tahun 1983, sebagaimana di fakultas lain di seluruh Indonesia waktu itu, diadakan orientasi studi dan pengenalan kampus, disingkat OSPEK. Guru kami, Dr. H. A. M. Akil, SpPD (sekarang Profesor) sebagai dekan FK Unhas, berkesempatan memberikan pengarahan. Acara tersebut berlangsung di ruang G-20 (ruang kuliah Anatomi Fakultas Kedokteran Unhas) Kampus Baraya. Kebetulan ketika itu ada dua ruangan yang sangat berkesan bagi kami mahasiswa baru, yakni G-20 dan J-01.

Ketika Prof Akil (begitu kami murid-muridnya menyebut namanya) masuk ruangan, suasana menjadi hening, tidak ada suara gaduh. Pertanda akan dimulainya acara penyambutan dan pengarahan kepada kami mahasiswa baru. Salah seorang panitia OSPEK menyilahkan Prof. Akil untuk memberi pengarahan. Kesan saya sebagai mahasiswa baru, beliau bukan hanya sebagai pimpinan fakultas, tetapi ia juga sebagai seorang guru, bahkan sebagai sosok orang tua yang kharismatik.

Saat itu memang saya sudah sampai pada pemahaman bahwa guru atau dosen itu bukan hanya sekedar pengajar, tetapi mereka adalah sosok “orang tua”. Orang tua di sekolah atau di madrasah atau pun di perguruan tinggi. Karena itu saya berkeyakinan bahwa tidak pernah ada istilah bekas guru, sebagaimana tidak pernah ada bekas orang tua, bekas ayah atau bekas ibu.

Saat memberi pengarahan, Prof Akil berpesan kepada kami yang masih berkepala gundul, belum tahu apa-apa tentang dunia kedokteran, dengan kalimat, “Ananda sekalian! Ketika Ananda nantinya masuk ke ruangan praktikum Anatomi, jangan sekali-kali Ananda memegang cadaver, sebelum Ananda berdoa. Mendoakan mayat tersebut, sebab dengan belajar dari mayat itulah nanti Ananda akan menjadi dokter”.
Dua puluh tujuh tahun kemudian, tepatnya 2010, saya bertamu ke ruangan beliau di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar. Sengaja saya menanyakan kembali, nasihat yang pernah yang beliau pernah sampaikan kepada kami. Tentang mendoakan cadaver sebelum menyentuhnya. Sebagai guru beliau mulai bercerita tentang dokter dan orang miskin. “Dr. Zaenal, orang miskin itu adalah gurunya para dokter. Caba bayangkan seandainya tidak ada orang miskin, apakah masih ada cadaver yang dapat dipakai praktikum oleh calon dokter? Kalau bukan karena orang miskin, apakah ada pasien yang dapat disuruh buka mulut, buka mata, dan telinganya untuk kalian periksa dan mengambil pelajaran darinya? Dan bahkan ketika nantinya menjadi residen, calon dokter spesialis, tetap saja mesti berguru kepada orang miskin.”

Satu pelajaran hidup lagi yang saya peroleh dari Prof Akil. Sebab selama ini, pemahaman saya baru sampai pada guru atau dosen yang sering berdiri mengajar dan mendidik di depan kelas itu adalah orang tua. Dari perjumpaan-perjumpaan tersebut membuat saya semakin yakin bahwa sejatinya orang miskin itu adalah gurunya para dokter. Guru yang tak pernah mengeluh, marah, dan lelah mengajarkan ilmu kedokteran kepada para calon dokter sampai menjadi dokter atau dokter spesialis. Karena itu selayaknya para dokter memberi penghomatan dan perhatian kepada guru sejatinya. Dan juga semestinya para dokter menaru rasa malu (siri’, masiri’: Bugis) kepada guru sejatinya, sehingga ia senantiasa berhati-hati dalam bertutur kata serta berperilaku terhadapnya. Baik ketika sang guru masih sehat walafiat, terlebih lagi ketika ia sakit. Wallahu a’lam bishawab. Salam Sehat Indonesia!

Zaenal Abidin