Gangguan Saraf Dapat Diatasi

28 August 2007 | Posted in Artikel, berita-lengkap


Gangguan saraf seringkali membutuhkan tindakan pembedahan. Padahal, tindakan operasi itu memiliki risiko infeksi dan perdarahan pada bagian otak pasien. Untuk itu, kini penanganan medis pada penderita gangguan saraf bisa dengan bedah saraf fungsional dan bedah saraf invasive minimal.

Menurut ahli bedah saraf, dr Roslan Yusi SpBS dari Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, Sabtu (25/8), dalam jumpa pers di Jakarta, tindakan bedah saraf invasive minimal adalah tindakan bedah saraf yang dilakukan dengan irisan pada kulit sekecil mungkin.

Sementara bedah saraf fungsional adalah salah satu cabang ilmu bedah saraf khusus yang melakukan tindakan pembedahan pada kelainan-kelainan atau keluhan neurologis tanpa didapatkan kelainan anatomis seperti tumor, cacat bawaan dan kelainan pembuluh darah.

“Tindakan bedah saraf fungsional bisa dilakukan pada penderita epilepsy dengan gejala kejang yang tidak hilang setelah pemberian obat-obatan anti epilepsi yang maksimal,” ujarnya. Tindakan ini juga bisa dilakukan untuk menghilangkan rasa nyeri yang sulit disembuhkan dengan obat-obatan, kekakuan otot pascastroke.

Sementara tindakan bedah saraf invasive minimal dilakukan agar irisan kulit untuk melakukan operasi bedah saraf tidak besar. Beberapa operasi tumor di kepala dan kelainan pembuluh darah otak hanya diperlukan irisan dua sentimeter di alis sehingga tidak meninggalkan bekas pascaoperasinya.

Sumber : KCM