Iklan Rokok Adalah Musuh Bersama

Iklan Rokok Adalah Musuh Bersama

28 January 2008 | Posted in Artikel, berita-lengkap


Karena berdampak pada kesehatan dan menyebabkan kematian. Kita tidak boleh toleransi terhadap sponshorship rokok. Kita harus mengubah pola
pikir, bahwa merokok bukanlah pertanda suatu kehormatan. Jangan lagi
populerkan bahwa merokok itu makruh.

Menteri Pemberdayaan
Prempuan Meuthia Hatta mengatakan hal itu, ketika membuka workshop
Perlindungan Anak dari Dampak Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok, yang
digelar Komnas Perlindungan Anak di Jakarta, Senin (28/1). “Kita harus
melihat kecendrungan anak-anak dan remaja merokok sejak usia dini
sebagai keprihatinan,” katanya.

Kementerian Perempuan yang
mengurus anak-anak dan perempuan pernah mendapat dana Rp 200 juta dari
industri rokok, tapi hal itu dikembalikan meski sebenarnya kami butuh
uang. Bahkan tidak hanya itu, karena kepedulian kepada anak-anak, kami,
kata Meuthia, juga tidak menerima sponsor dari susu formula, kecuali
untuk ibu hamil karena yang dituju adalah kaum ibu, dengan tujuan agar
ia dan janinnya sehat.

Menurut Meuthia, perokok harus disadarkan
begitu besar biaya yang harus dikeluarkan dari merokok. Survey tahun
1981-1997 pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, sedang, dan
tinggi, menunjukkan bahwa pada kelompok ekonomi masyarakat rendah,
pengeluaran untuk merokok naik 227 persen, yaitu dari Rp 343 per orang
per hari menjadi Rp779 per orang per hari. Saat ini diperkirakan lebih
besar lagi seiring dengan kenaikan harga barang.

“Suatu beban
ekonomi yang berat mengingat hampir 60 persen pengeluaran mereka masih
untuk pemenuhan kebutuhan makan, demikian jelas dampak merokok terhadap
proses pemiskinan. Pengeluaran untuk rokok sebenarnya dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga (anak balita), khususnya pada
keluarga-keluarga miskin,” papar Menteri Pemberdayaan Perempuan itu.

Meuthia
berpendapat, perlu adanya regulasi untuk melindungi masyarakat, anak
dan remaja dari bahaya merokok, hingga saat ini pemerintah hanya
mempunyai PP_Nomor 19 Tahun 2003 tentang larangan iklan rokok di TV
pada tanyangan Pukul 17.00 sampai dengan 20, tempat ibadah, sarana
kesehatan dan pendidikan, tempat anak-anak beraktivitas, tempat dan
kendaraan umum. Larangan pemberian rokok secara gratis, namun
efektivitasnya sampai saat ini belum terlihat mengingat beragamnya
kondisi dan situasinya.

“Para tokoh agama dan ulama perlu
menyebarluaskan tentang hukum merokok dari sudut hukum agama (Islam),
jika perlu mengeluarkan fatwa yang lebih keras mengingat merokok lebih
banyak mudharatnya dari manfaatnya,” jelas Meuthia.


KCM