Mengenal Ante mortem Pada Proses Identifikasi Korban Bencana

Mengenal Ante mortem Pada Proses Identifikasi Korban Bencana

12 January 2015 | Posted in Artikel, Berita, berita-lengkap


Banner-Artikel-1

 

Kasus hilangnya pesawat AirAsia QZ 8501 beberapa waktu lalu sudah menemukan titik terang. Jenazah korban yang sudah dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat segera diidentifikasi.  Dalam proses identifikasi inilah, ada istilah yang disebut proses ante mortem dan post mortem.

Identifikasi dalam kematian penting dilakukan, karena menyangkut masalah kemanusiaan. Selain itu juga dikuatkan berdasarkan Keputusan bersama Menkes dan Kapolri nomor 1087 / Menkes / SKB / IX / 2004 NO.POL.Kep / 40 / IX / 2004 tanggal 29 september 2004 disebutkan bahwa setiap korban mati pada bencana massal harus dilakukan identifikasi yang sesuai dengan kesepakatan bersama antara Depkes dengan Kepolisian.

Identifikasi Massal adalah proses pengenalan jati diri korban massal yang terjadi akibat bencana. Identifikasi dilakukan dengan memanfaatkan ilmu kedokteran dan kedokteran gigi pada korban baik hidup maupun mati.

Dalam pelaksanaan identifikasi diperlukan data-data yang berupa data ante mortem mapun data post mortem. Tim forensik biasa melakukan identifikasi dengan cara mencocokkan data ante mortem dan post mortem untuk mengenali jenazah. Terdapat dua metode yang biasa dilakukan untuk pengumpulan data  ante mortem. Metode sederhana menyangkut visual, perhiasan, pakaian dan dokumentasi dan metode ilmiah meliputi pemerikasaan sidik jari, rekam medis, serologi (pemeriksaan cairan tubuh seperti darah, air mani, air liur, keringat, dan kotoran di tempat kejadian perkara), odontologi (gigi), antropologi, biologi (termasuk tanda lahir atau cacat).

Data-data sebelum korban meninggal atau ante mortem ini didapatkan dari keluarga terdekatnya. Sidik jari bisa ditemukan pada surat pribadi semacam SIM, Ijasah, KTP. Sementara untuk DNA bisa dicocokkan dari keluarga sekandung korban semisal orang tua dan anak-anak. Dan tanda-tanda lainnya, seperti tanda lahir, biasanya dikenali secara detail oleh keluarga terdekat.

Setelah semua data diperoleh kemudian dicocokkan antara data ante mortem denganpost mortem. Untuk mendapatkan hasil yang akurat tim identifikasi harus mendapatkan data primer untuk menentukan identitas jenasah adalah sidik jari, profil gigi, dan DNA. Jika data itu tidak bisa didapat bisa di lakukan pemeriksaan sekunder yaitu visual, dokumen (SIM, KTP, Paspor), pakaian. Kelemahan kita, karena salah satu data ante mortem yang terbaik yaitu profil gigi belum dimiliki oleh kepolisian atau dari lembaga manapun. Ini karena belum adanya kesadaran di masyarakat untuk memeriksakan diri kedokter gigi secara rutin dan mencatatkan profil gigi geliginya. Profil gigi berguna karena meski sudah mengalami pembusukan lanjut, profil gigi akan tetap sama sampai beberapa tahun, dan setiap orang memiliki susunan dan bentuk gigi yang unik dan berbeda.

Saat ini tim SAR gabungan sedang berpacu dengan waktu, dikarenakan tubuh jenazah yang ditemukan tak lagi utuh sehingga menyulitkan proses identifikasi. Seperti yang dikemukakan oleh Kepala Sub Bidang Kedokteran Polisi (Kasubid Dokpol) Bidang Kedokteran Kesehatan (Biddokes) Polda Jawa Tengah, AKBP Dr. Sumy Hastry Purwanti Sp.F “Air laut mempercepat proses perusakan itu. Biasanya kalau sudah sepuluh hari sudah masuk ke tahap skeletonisasi” di Lanud Iskandar, Rabu (7/1).

Tentunya kita semua berharap seluruh jenazah dapat ditemukan secepatnya agar kerusakan tidak semakin parah. Dengan demikian, proses identifikasi pun dapat berjalan lebih cepat, dan keluarga korban mendapatkan kepastian atas nasib keluarga mereka.