MENYONGSONG SEABAD KIPRAH DOKTER DAN SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA

MENYONGSONG SEABAD KIPRAH DOKTER DAN SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA

4 August 2007 | Posted in Artikel, berita-lengkap


Berikut ini makalah yang disampaikan oleh DR. Dr. Fachmi Idris M.Kes (Ketua Umum PB IDI 2006-2009) dalam pencanangan program

MENYONGSONG SEABAD KIPRAH DOKTER DAN SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA (20 MEI 1908 – 20 MEI)

Oleh: Pengantar Salah satu fakta sejarah dari proses panjang pembentukan fondasi dan pilar bangun kenegaraan Republik Indonesia adalah keberadaan figur dokter-bumiputera sebagai pelopor munculnya semangat nasionalisme dan kesadaran berbangsa.

Eratnya jalinan benang merah keberadaan dokter-bumiputera dengan lahirnya semangat nasionalisme dan kesadaran berbangsa ini tidak dapat dilepaskan dari watak dan kepribadian yang dibentuk oleh proses pendidikan dan latihan yang dijalani seseorang serta sumpah dan etika yang harus dipatuhinya sebelum berpraktik sebagai dokter. Dalam salah satu kalimat pada “Hippocratic Oath”, dinyatakan dengan tegas: “What ever houses I may visit, I will come for the benefit of the sick, remaining free of all intentional injustice, of all mischief and in particular of sexual relations with both female and male persons, be the free or slaves”, atau seperti yang tertuang dalam dua kalimat pada “Physician’s Oath” The world Medical Association, Declaration of Geneve:

“I will not permit consideration of my religion, nationality, race, party politics or social standing to intervene between my duty and my patient”, “I will maintain the utmost respect for human life from the time of conception, even under threat, I will not use my medical knowledge contrary to the laws of humanity”. Dokter adalah figur yang bekerja mengabdikan profesinya menolong orang yang sakit, tanpa terpengaruh pertimbangan-pertimbangan agama, bangsa, kedudukan sosial, jenis kelamin, suku dan politik kepartaian.

Profesi dokter adalah profesi yang sangat kental dengan dimensi kemanusiaan. Itulah sebabnya, seorang dokter, secara alamiah adalah figur nasionalis sekaligus humanistis. Tidak mengherankan jika pada periode 1908, kelompok pertama yang memiliki semangat nasionalisme adalah dokter. Inilah yang menjadi embrio kesadaran berbangsa yang pada gilirannya melahirkan semangat kebangkitan nasional 20 Mei 1908. Momentum 20 Mei 1908 mengajarkan kepada kita, bahwa untuk merdeka sebagai sebuah negara yang berdaulat kita harus memiliki kesadaran berbangsa, dan untuk bangkit menjadi sebuah bangsa yang kuat kita harus memiliki nasionalisme.

Dokter Wahidin Sudirohusodo–penggagas berdirinya Budi Utomo menyadari bahwa keterbelakangan dan ketertindasan rakyat harus dihadapi melalui organisasi yang dapat memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa. Gagasan yang kemudian diimplementasikan oleh mahasiswa kedokteran (dokter Sutomo dan teman-teman). Dan, sejarah mencatat, 20 Mei 1908 organisasi Budi Utomo lahir. Hari lahir tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah awal kebangkitan bangsa untuk melawan kebodohan dan kesengsaraan. Tujuan organisasi Budi Utomo adalah mencapai kehidupan bangsa yang terhormat. Organisasi ini kemudian bukan hanya miilik para dokter. Organisasi ini menjadi milik bersama yang dijalankan (untuk pertama kalinya) juga oleh tokoh pemerintahan, penulis, opsir, jaksa, dll. Kemudian, kiprah dokter-dokter dan generasi penerusnya-dalam konteks kebangsaan-terus berlanjut, baik di jaman Pendudukan Tentara Jepang, fase perang kemerdekaan, masa mempertahankan kemerdekaan dan sampai hari ini, mengisi kemerdekaan melalui pengabdian profesi. Menjelang seabad kiprah dokter, apakah tujuan untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat sebagaimana dicita-citakan untuk pertama kalinya oleh para dokter tersebut sudah tercapai?

Marilah kita lihat ukuran objektifnya. Secara objektif, untuk cerminan kondisi bangsa dapat dilihat dari beberapa indeks global yang menjadi ukuran terhormatnya satu bangsa, antara lain : Human Development Index (HDI), Human Poverty Index (HPI), Index of Economic Freedom (IEF). Bagaimana HDI Indonesia?

(HDI menggambarkan 3 indikator utama, yaitu: kesehatan, pendidikan dan pertumbuhan ekonomi) Untuk tingkat ASEAN-pun bangsa kita sangat tertinggal. Kontribusi ke-tiga indikator (kesehatan-pendidikan-pertumbuhan ekonomi): saling melengkapi terhadap turunnya kehormatan bangsa. Khusus untuk kesehatan, indikatornya adalah Usia Harapan Hidup (UHH).

UHH merupakan resultan dari berbagai permasalahan program kesehatan di sektor hulu. Program kesehatan semestinya bukan hanya menyehatkan/mengobati orang sakit. Karena kalau prioritas program kesehatan hanya untuk menyehatkan orang sakit, otomatis resiko kematian menjadi sangat dekat. Kemungkinan meningkatnya angka kematian pada semua kelompok umur (apalagi pada usia rentan, bayi dan anak) akan menjadi nyata. Semestinya, program kesehatan diprioritaskan untuk mencegah rakyat agar tidak jatuh sakit. Sakit-sehatnya rakyat lebih ditentukan oleh faktor perilaku sehat dan lingkungan sehat. Program kesehatan harus ditujukan pada perubahan perilaku dan penataan lingkungan. Program kesehatan yang ditujukan untuk merubah/pemeliharaan perilaku (health promotion) memberikan kontribusi sekitar 50% untuk menyehatkan rakyat. Program kesehatan yang ditujukan untuk merubah/pemeliharaan lingkungan berkontribusi sekitar 20% untuk penyehatan rakyat. Bandingkan dengan Program kesehatan yang ditujukan untuk mengobati orang sakit (maksimalisasi rumah-rumah sakit dan puskesmas, untuk pengobatan) hanya berkontribusi sekitar 10% untuk menyehatkan rakyat. Kalau angka kematian meningkat, otomatis rata-rata usia harapan hidup secara drastis turun. Sebagai gambaran sederhana untuk UHH: apabila penduduk Indonesia hanya 2 orang, dengan berbagai sebab 1 orang dapat mencapai umur 100 tahun, dan karena berbagai masalah 1 orang hanya mencapai umur 2 hari, otomatis UHH di Indonesia hanya 50 tahun lebih satu hari (didapat dari perhitungan rata-rata secara matematis yang sederhana, 100 tahun + 2 hari, dibagi 2). Untuk itu, marilah kita bersama-sama merenungkan kejadian penyakit di Indonesia yang memiliki resiko kematian tinggi. Sebagai contoh aktualnya adalah Demam Berdarah. Saat ini, angka kejadiannya semakin mengkhawatirkan. Belum lagi kejadian penyakit-penyakit lain seperti :

TBC, HIV/AIDS, Malaria. Rakyat yang sakit Demam Berdarah, TBC, HIV/AIDS, Malaria, dll, jelas harus diobati namun secara bersamaan harus ada intervensi agar kejadian penyakit ini dapat dicegah. Kalau penyakit ini tidak sempat muncul, resiko kematian menjauh, UHH dapat “diamankan” (kontribusi untuk HDI & kehormatan bangsa bertambah baik). Tentu saja saat ini, intervensi pencegahan sudah dilakukan. Namun fakta menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit-penyakit tersebut masih tinggi. Artinya ada yang harus diperbaiki dalam upaya pencegahan. Harus ada rekontruksi dari upaya-sistem-program kesehatan untuk mencegah rakyat agar tidak sakit. Karena, rakyat yang sakit-sakitan tidak akan produktif, tidak fit untuk bekerja dan tidak cerdas dalam pendidikan. Selain HDI, kondisi objektif HPI & IEF juga harus menjadi perhatian. HPI (Human Property Index) yang meningkat cerminan dari ketidak adilan dalam distribusi kekayaan dan kesejahteraan ekonomi. Sebuah ketidak adilan ekonomi akan berbuah pada kemiskinan. Kemiskinan yang tinggi akan menyebabkan lemahnya akses rakyat untuk memperoleh kesehatan dan pendidikan yang baik. Akibatnya, masalah sehat sosial menjadi beban baru. Masyarakat yang tidak sehat (sakit) secara sosial terdiagnosis dari kondisi, seperti: meningkatnya kriminalitas dan perilaku sosial yang tidak penuh perhitungan. Belum lagi kondisi objektif yang digambarkan melalui IEF (Index of Economic Freedom).

Lunturnya sebagai bangsa terhormat suka tidak suka sudah terjadi. Indonesia adalah negara yang hampir tidak merdeka, campur tangan negara lain dalam pengaturan ekonomi bangsa sangatlah terasa. Kondisi ini semakin diperparah oleh praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang terus terjadi sampai hari ini. Sebuah penyakit mental yang kronis. Sakit fisik, sakit sosial, akhirnya dilengkapi dengan sakit mental. Sakit mental-yang tergambar dari kondisi tidak merasa puas dengan keadaan diri; merasa kecewa dengan keadaan dirinya; dan tidak mau patuh pada aturan-aturan yang ada-sudah menjadi salah satu masalah kesehatan bangsa yang kronis. Bagaimana Peran Dokter Saat Ini? Untuk saat ini, apabila dokter diharapkan dapat melakukan intervensi menyeluruh terhadap kesehatan bangsa (fisik-mental-sosial), mungkin akan muncul skeptisisme di tengah-tengah masyarakat. Sikap skeptis ini wajar, karena selama ini peran dokter lebih ditekankan pada upaya penyehatan fisik. Proses depolitisasi yang tidak disadari dan telah berlangsung sekian lama, ternyata telah memarjinalkan fungsi dokter. Dokter hanya menjadi agent of treatment. Para dokter terjebak pada rutinitas profesionalisme yang sempit. Banyak dokter yang akhirnya lebih banyak memahami bahwa kesehatan (ilmu kedokteran) hanyalah mempelajari segala sesuatu tentang penyakit (misal: etiologi, patofisiologi, diagnosis, terapi, dll). Akibatnya kewajiban untuk menyehatkan rakyat hanya sekadar menganjurkan minum vitamin-vitamin, mineral, tonik, dll, serta mengobati si sakit. Dokter lupa bahwa selain intervensi fisik, dokter harus berperan dalam intervensi mental dan sosial di tengah-tengah masyarakat. Dokter dalam kiprahnya adalah agent of change sekaligus agent of development. Untuk itu, revisitasi tentang peran dan fungsi dokter dalam kesejarahan bangsa Indonesia harus dilakukan. Dua belas bulan

MENYONGSONG SEABAD KIPRAH DOKTER DAN SEABAD KEBANGKITAN NASIONAL INDONESIA (20 MEI 1908-20 MEI 2008)

harus diartikan sebagai langkah-langkah menuju Semangat Kebangkitan Nasional Ke-dua untuk Kalangan Kedokteran, yaitu Semangat Dokter Indonesia untuk Menyehatkan Bangsa. Menyehatkan dalam arti sesungguhnya, fisik-mental-sosial. Sehat bukan hanya tidak sakit. Dari definisi sehat yang diterbitkan WHO dan diadposi juga oleh UU Kesehatan RI, nyata sekali bahwa sehat ini meliputi kondisi fisik-mental-sosial. Definisi kesehatan WHO dan UU Kesehatan RI, yaitu sbb:

“Health is a state of complete physical, mental and social well-being, and not merely an absence of disease or infirmity” (WHO) “Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial, yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis”.

(UU Kes RI) Merujuk pada definisi sehat, jelas terlihat bahwa bangsa Indonesia sedang sakit, yaitu sakit fisik-mental-sosial-(ekonomi) dalam arti yang sesungguhnya. Sekali lagi, “diagnosis makronya” tergambar pada HDI-HPI-IEF Indonesia saat ini. Artinya, diperlukan intervensi yang menyeluruh dalam pembangunan agar bangsa ini menjadi lebih sehat. Upaya (pembangunan kesehatan) untuk menyehatkan bangsa tidak hanya fokus pada upaya memperbaiki kesehatan fisik semata. Memang, sehat fisik adalah komponen terpenting dari keadaan sehat secara keseluruhan. Sehat fisik artinya seluruh organ tubuh berada dalam ukuran sebenarnya dan berada dalam kondisi optimal, serta dapat berfungsi normal. Sehat secara fisik diukur dari parameter nilai-nilai normal dari tanda-tanda vital tubuh, antara lain: denyut nadi pada saat istirahat, tekanan darah. Namun demikian, sehat fisik harus bersamaan dengan sehat secara mental. Sehat secara fisik dan mental seringkali digambarkan dengan semboyan: “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Ciri seseorang dinyatakan sehat secara mental, minimal meliputi: merasa puas dengan keadaan dirinya (tidak pernah merasa kecewa dengan keadaan dirinya); patuh pada aturan-aturan (dapat menerima dengan baik perbedaan antar sesama, mudah menerima kritik); mempunyai kontrol diri yang baik (tidak akan selalu didominasi oleh emosi, rasa kecewa dan marah). Banyak perbedaan pendapat tentang sehat secara sosial (social well-being). Namun demikian secara umum disepakati, bahwa sehat secara sosial berkonotasi dengan kemampuan seseorang untuk membina hubungan keakraban dengan sesama, memiliki tanggung jawab menurut kapasitas yang dimilikinya, dapat hidup secara efektif dengan sesama, dan menunjukkan perilaku sosial yang penuh perhitungan. Secara teoritis, terdapat dimensi lain tentang sehat, yaitu dimensi sehat secara rohani. Sehat secara rohani ini menyangkut hubungan yang trasenden baik secara fisiologis maupun psikologis; berupa rasa “kerohanian” pada diri manusia. Dimensi sehat rohani ini sering terlupakan dan ini masih dapat dimaklumi, mengingat definisi sehat secara rohani sendiri masih kontroversial (penerimaan keberadaan dimensi sehat rohani ini belum merata pada berbagai kelompok masyarakat).