Pengobatan Kanker Dengan Multidisiplin

18 March 2009 | Posted in Artikel, berita-lengkap


Pengobatan Kanker dengan Multidisiplin

Penyakit kanker masih merupakan suatu penyakit yang menakutkan dan menunjukkan kecenderungan yang meningkat, mungkin disebabkan karena perbedaan gaya hidup dan faktor lingkungan dll. Penyakit kanker sudah berjumlah lebih dari 10 juta orang di seluruh dunia dan dilaporkan lebih dari 4,4 juta penduduk kanker terhadap di Asia. Di Amerika pun, angka kematian dari penyakit kanker menempati urutan kedua teratas sesudah penyakit jantung.

Di Negara berkembang pasien dengan penyakit kanker banyak yang datang berobat dalam stadium yang sudah lanjut, sehingga mengurangi keberhasilan pengobatan. Banyak upaya yang harus dilakukan dalam mendeteksi dini penyakit kanker untuk memperbaiki prognosanya.

Demikian dikatakan Direktur Utama RS Gading Pluit Jakarta Dr. Barlian Sutedja SpB dalam simpsoium 2nd Recent Advances in Cancer Diagnosis & Therapy multi disciplinary Approach di RS Gading Pluit Jakarta belum lama ini. Turut berbicara dalam seminar tersebut Prof. Dr. Abdul Muthalib, SpPD-KHOM, Dr. Diah Rini Handjari, SpPA, Dr. Koeswodjo Sadimin, SpPK, Dr. Tjondro Setiawan, Sp.Rad, Prof. DR. Dr. Abdul Aziz Rani, SpPD-KGEH, Prof. DR. Dr. Soehartati G, Sp.Rad (K), Onk. Rad, Dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad dan pembicara tamu Prof. Dr. Med Hans U. Baer.

Sementara itu Dr. Tjondro Setiawan, Sp.Rad mengatakan, untuk itu dibutuhkan berbagai metoda pemeriksaan yang terus berkembang, seperti: pemeriksaan patologi anatomi yang menggunakan metoda pewarnaan histokimia yang lebih baik, pemeriksaan seromarker keganasan yang lebih sensitive dan spesifik, sehingga hasil dapat dipergunakan untuk follow up lebih akurat dan pemeriksaan endoskopi menggunakan pewarnaan khusus endosonorafi endo-laparokopi. Apalagi dengan menggunakan PET-CT yaitu alat mutakhir pertama di Indonesia yang tersedia di RS Gading Pluit untuk pemeriksaan penyakit kanker yang lebih dini, tepat dan akurat.

Dr. Tjondro juga mengatakan, diagnosis yang baik sangat berguna untuk pemilihan berbagai metoda pengobatan yang tepat yaitu dengan sistemik terapi untuk kanker, pembedahan, radioterapi, trans arterial chemo embolization/infusion (TACE/TACI), Photo Dynamic Therapy (PDT) Cryoterapi. Bagi pasien yang tidak dapat disembuhkan dilakukan pengobatan paliatif untuk memperbaiki kualitas hidup terutama dengan metoda penanganan nyeri yang baik.

“Pada symposium ini dibahas hal-hal terkini dalam diagnosis dan penanganan penyakit kanker sekaligus peresmian pembukaan Pain Clinic sehingga pasien-pasien yang datang ke RS Gading Pluit dapat diberikan pelayanan terpadu secara maksimal dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu,” ujar Dr. Tjondro.

Sementara itu Mmenurut Soehartati, pengobatan kanker merupakan upaya multidisiplin, mencakup bedah, kemoterapi, radioterapi, dan terapi target. Sangat sedikit kanker yang sembuh dengan satu disiplin ilmu.

Di RSCM, katanya, pihaknya tengah membuat tumor board berdasarkan lokasi keganasan. Pada pendekatan multidisiplin, kata Muthalib, penentuan diagnosis, stadium, dan pengobatan dilakukan setelah melewati serangkaian pemeriksaan. Misalnya, pengobatan kanker nasofaring oleh dokter spesialis tenggorokan, hidung, dan telinga (THT). Untuk menegakkan diagnosis dan pengobatan, maka dibutuhkan pemeriksaan patologi anatomi, pencitraan (imaging), dan pemeriksaan laboratorium.

Hasil-hasil pemeriksaan itu, dibicarakan dalam tumor board. Setelah operasi pun, katanya, dilakukan pemeriksaan patologi anatomi lagi, untuk menentukan tindakan medis selanjutnya. “Banyak cara pengobatan tumor. Pengobatan yang paling tepat guna harus berdasarkan kondisi pasien,” katanya.

Kemajuan Radioterapi

Dijelaskan, meskipun jenis kanker sama, namun pengobatan antarpasien bisa berbeda, karena pengobatan didasarkan pada hasil pemeriksaan patologi anatomi, yang berbeda antarpasien.

Menurut Muthalib, saat ini cukup banyak obat baru untuk kanker, namun secara garis besar terdiri atas dua, yaitu antibodi monoklonal dan kelompok tirosin. Harga obat baru tersebut, tidak selalu murah.

Berbagai obat itu juga, tegasnya, bukanlah obat dewa. Artinya, obat yang bisa menuntaskan penyakit 100 persen. Walau banyak obat baru, menurut Muthalib, para dokter jangan melupakan terapi standar yang telah ada sejak lama.

Sementara itu, Soehartati mengatakan kemajuan radioterapi kanker di Indonesia tidak kalah dengan Singapura. Pada awalnya, katanya, pasien-pasien Indonesia yang berobat ke Singapura menjalani radioterapi di Indonesia, karena kerja sama RSCM dengan RS di Singapura. “Belakangan, pasien itu berobat permanen di Indonesia, karena peralatan radioterapi di Indonesia tak kalah dengan Singapura. Harganya pun lebih rendah,” katanya.