PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA

PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA

3 August 2007 | Posted in Artikel, berita-lengkap


Soal Flu Burung : Kementerian Pertanian Harus Lebih Serius.

  1. Semakin meningkatnya jumlah kasus flu burung dengan korban manusia di Indonesia semakin menambah kelam gambaran manajemen musibah di Negara kita. Dari pertemuan Ikatan Dokter Indonesia pada acara Regional Meeting World Medical Association di Tokyo, Japan (akhir tahun 2006) didapatkan informasi tentang beberapa negara yang dikatagorikan “very poor management” dalam penanganan kasus-kasus flu burung. Tidak dinyatakan secara spefisik negara tersebut namun dari data deskriptif yang dipaparkan terkait dengan jumlah korban pada manusia, maka kejadian di Indonesia termasuk yang menonjol. Apabila negara-negara dengan katagori “very poor management” tidak sadar akan statusnya, maka kekhawatiran global akan terjadinya pandemi flu burung akan menjadi kenyataan.
  2. Ada tiga program yang harus diperioritaskan untuk mengatasi kemungkinan terjadinya pandemi flu burung, yaitu surveillance program (pemantauan terus menerus, deteksi dini terhadap terjadinya kasus, baik pada unggas maupun pada manusia), compensation program (ganti rugi yang pantas untuk masyarakat yang unggasnya harus dimusnahkan) dan community awareness program (penyadaran yang terus menerus untuk masyarakat agar waspada dengan penyebaran penyakit ini). Dari ketiga program tersebut, program utama yang harus harus dilakukan oleh pemerintah masng-masing negara adalah penataan program kompensasi.
  3. Program kompensasi pada dasarnya terkait dengan survailans yang dilakukan pada unggas. Sistem survailans pada unggas di sekitar pemukiman harus dilakukan lebih aktif karena sangat efektif untuk mencegah terjadinya kasus flu burung pada manusia. Membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya unggas yang sakit dan mau melaporkan unggas sakit (sebagai bagian dari sistem survailans unggas), untuk kemudian dimusnahkan oleh aparat negara merupakan mata rantai penting. Kompensasi yang sesuai dengan harga pasar dan dibayarkan sesuai dengan janji menjadi prioritas program yang harus dikerjakan setelah masyarakat sadar dan survailans berjalan baik.
  4. Apabila diteliti lebih dalam, ternyata ketiga pendekatan di atas merupakan tanggung jawab yang harus diseriusi oleh sektor yang menangani peternakan (per-unggas-an). Sektor yang bertanggung jawab untuk menangani per-unggas-an harus mempersiapkan dengan matang mekanisme program kompensasi yang akan diberikan. Di Indonesia, sektor tersebut adalah Kementerian Pertanian. Kuncinya, keseriusan Kementerian Pertanian dalam manangani unggas yang sakit harus selalu didukung. Tanggung jawab terhadap keberhasilan menurunkan angka kejadian flu burung pada manusia adalah tanggung jawab seluruh masyarakat termasuk pemerintah daerah, dengan penanggung jawab utama pada Kementerian Pertanian.
  5. Sekuat-kuatnya Kementerian Kesehatan mempersiapkan fasilitas untuk menangani korban flu burung pada manusia, akan menjadi tidak efisien kalau sumber penyakit (unggas) tidak dikelola dengan baik, apalagi kalau pandemi benar-benar terjadi. Dalam konteks kesehatan, keseriusan Kementerian Pertanian berarti keseriusan terhadap penanganan sumber penyakit. Dengan menangani sumber penyakit berarti prinsip-prinsip mencegah penyakit adalah lebih baik dari mengobati penyakit dapat berjalan sebagaimana mestinya.


Demikian siaran pers ini dibuat, mudah-mudahan dapat memberikan manfaat untuk kita semua.

Jakarta, 16 Januari 2007

Ketua Umum DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes Sekretaris Jenderal Dr. Zaenal Abidin