Risperidone Untuk Pasien Depresi Yang Refrakter

Risperidone Untuk Pasien Depresi Yang Refrakter

19 November 2007 | Posted in Artikel, berita-lengkap


Penambahan
antipsikotik Risperidone pada terapi antidepresan jangka pendek mampu
memberikan perubahan atau perbaikan bagi pasien yang tidak respon lagi dengan
pengobatan antidepresan yang standar. Demikian menurut hasil penelitian yang
dipublikasi pada sebuah majalah terkemuka the Annals of Internal Medicine,
edisi bulan November 2007.

Ditemukan
bahwa dengan penambahan Risperidone akan menghasilkan 2 keuntungan yaitu
perubahan psikis pasien sama baiknya dengan pasien yang mempunyai gangguan
persepsi. Pemakaian Risperidone dosis rendah mempengaruhi pasien depresi mayor
yang tidak respon lagi menggunakan terapi antidepresan standar, seperti
diungkapkan oleh Dr. Ramy A Mahmoud. Metode dari penelitian yang berskala besar
ini memilih metode acak buta ganda dengan kontrol plasebo dengan penambahan
pemakaian antipsikotik atipik Risperidone pada terapi standarnya untuk
pengobatan depresi mayor.

Pasien
depresi yang ikut dalam penelitian ini adalah pasien yang merasakan sudah tidak
respon lagi terhadap terapi yang diberikan, dimana pasien yang berhasil
direkrut adalah pasien yang telah mendapatkan terapi standar dari bulan  Oktober 2004 hingga bulan November 2005.
Sebanyak 274 pasien diacak dan kemudian diberikan tambahan plasebo dan
Risperidone, dengan dosis awal Risperidone 0,25 mg per hari dinaikkan
menjadi  0,5 mg hingga 1,0 mg, selama 6
minggu. Dosis dinaikkan hingga 2 mg/hari setelah 4 minggu pada kasus yang sama.
Dari sekitar 141 pasien yang mendapatkan Risperidone, 111 selesai mengikuti
penelitian hingga selesai 6 minggu. Pasien yang mendapatkan plasebo sekitar 133
pasien, 115 pasiennya selesai melakukan penelitian..

Penelitian
dinilai dengan skor atau skala dari HRSD (Hamilton Rating Scale for Depression)
dengan 17 item pemeriksaan, Skala CGI (the Clinical Global Impression–Severity
of Illness) serta berbagai variasi yang meneliti tentang kualitas hidup pasien
dalam mengukur gejala depresi.

Hasil
penelitian yang didapatkan pasien yang mengalami remisi dari depresinya secara
bermakna pada kelompok Risperidone jika dibandingkan dengan plasebo (24,5% vs
10,7%). Proporsi pasien yang respon terhadap pengobatan lebih besar pada
kelompok yang diterapi dengan Risperidone vs plasebo (46,2% vs 29,5%).

Perbaikan
secara menyeluruh juga dirasakan oleh pasien dengan diperlihatkannya hasil
perhitungan skala untuk kualitas hidup, dan hal ini sudah menampakkan secara
langsung setelah penambahan Risperidone.

Efek
samping secara umum ringan dan lamanya juga singkat, dimana ditemukan dari ke 2
kelompok terapi adalah 8,8% terlihat pada pasien pada kelompok Risperidone dan
14,5% pada kelompok plasebo. Kebanyakan pasien yang mendapatkan Risperidone
dilaporkan menderita mengantuk lebih jelas jika dibandingkan dengan plasebo (5%
vs 2%) serta mulut kering (5% vs 1%).


Sumber : Kalbe Farma