Waspada Hujan Abu Vulkanik

17 February 2014 | Posted in Artikel, Berita, berita-lengkap, news-nasional, slider


Pengungsi Gunung Kelud (Foto Courtesy : Sindonews.com)

Istilah “vulkanik” berawal dari nama “Vulcan”, Dewa Api Romawi. Abu vulkanik tersusun atas partikel-partikel hasil fragmentasi batu vulkanik ( kurang dari 2mm) yang terbentuk selama eksplosi vulkanik. Baik melalui longsoran batu panas yang mengalir di sisi gunung berapi ataupun semprotan cairan lava merah yang panas. Berbagai bentuk abu vulkanik tergantung pada jenis gunung berapi dan bentuk erupsinya. Warnanya dapat berkisar antara abu-abu sampai hitam dan ukurannya bervariasi seperti kerikil sampai sehalus bedak. Partikel abu yang masih baru mengandung lapisan asam yang dapat mengiritasi paru dan mata. Lapisan asam ini dengan cepat dihapus oleh hujan yang kemudian dapat mencemari sumber air lokal.

Efek debu vulkanik pada kesehatan terbagi atas beberapa kategori, yaitu efek respirasi, gangguan mata, iritasi kulit dan efek tidak langsung lainnya. Pada beberapa erupsi, partikel abu tidak berbahaya jika dihirup ke dalam paru. Tetapi pada pajanan yang berat, individu yang sehat pun dapat mengalami rasa tidak nyaman di dada dengan peningkatan batuk dan iritasi.  Gejala respirasi karena inhalasi debu vulkanik tergantung beberapa faktor yaitu konsentrasinya di udara, ukurannya (kurang dari 10 mikron), frekuensi dan durasi pajanan, terdapatnya kristal silika, kondisi meteorologis, faktor kesehatan manusianya, dan penggunaan peralatan pelindung respirasi. Gejala akut (jangka pendek) lebih berupa iritasi hidung dan tenggorokan seperti hidung berair disertai nyeri tenggorkoan dan batuk kering. Abu vulkanis disertai hawa panas dapat menyebabkan panas piroklastik. Panas ini bisa mengakibatkan kematian akibat luka bakar di saluran pernapasan atau sesak napas. Mereka dengan gangguan paru sebelumnya, dapat mengalami kondisi yang semakin buruk.  Pada kasus yang jarang, pajanan lama debu vulkanik mungkin menyebabkan penyakit paru yang serius seperti silikosis. Iritasi mata adalah efek yang juga sering  terjadi. Partikel kerikil vulkanik dapat menyebabkan goresan pada mata (abrasi kornea) dan konjunktivitis. Pengguna lensa kontak khususnya, harus lebih waspada dengan masalah ini dan sebaiknya melepas lensa mereka untuk mencegah terjadinya abrasi kornea. Iritasi kulit juga dapat terjadi, khusunya jika abu mengandung zat asam di dalamnya.

Langkah pencegahan yang dapat dilakukan berupa :

  1. Gunakan pakaian pelindung dan masker debu yang efektif. Masker berukuran N95 sampai N100 dapat menghindari masuknya debu berukuran atau kurang dari 10 mikron. Jika tidak ada masker, sebaiknya menggunakan sapu tangan, kain atau pakaian yang dapat menyring partikel abu yang besar.
  2. Mereka dengan bronkitis kronis, emfisema dan asma disarankan untuk tetap di dalam rumah dan hindari pajanan yang tidak perlu.
  3. Bersihkan abu di tempat yang berventilasi baik dan basahi atau percikkan air  ke debu untuk mencegah pergerakannya.
  4. Gunakan “googles” atau kacamata  dibandingkan lensa kontak untuk melindungi mata dari iritasi.
  5. Jaga pintu dan jendela terus tertutup untul mencegah debu masuk ke dalam rumah.
  6. Hindari mengemudi atau jika anda dalam perjalanan, jaga jarak kendaraan anda. (Dr. Bulkis Natsir)