7,6 Juta Balita Indonesia Tergolong Pendek

7,6 Juta Balita Indonesia Tergolong Pendek

22 April 2013 | Posted in berita-lengkap


Sembilan puluh persen masalah anak pendek di dunia terjadi hanya di 36 negara dan Indonesia merupakan negara ke-5 terbesar sebagai penyumbang anak pendek dunia. Dari 23 juta anak balita di Indonesia, 7.6 juta (35.6 persen) tergolong pendek (Riskesdas, 2010). Angka stunting dan gizi buruk yang tinggi merupakan masalah kesehatan yang serius karena merupakan gambaran kehidupan 100 tahun atau 2 generasi sebelumnya dan juga kehidupannya mendatang. Indonesia berupaya mengejar ketertinggalan pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) melalui perbaikan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan yang sinergi dengan inisiatif global yaitu gerakan Scaling-Up Nutrition (SUN).

Melalui Seminar dengan tema “Gizi Optimal pada 1000 Hari Pertama Kehidupan: Pencegahan Infeksi, Malnutrisi dan Penyakit Tidak Menular di Indonesia” diharapkan peranan para dokter umum, dokter spesialis, ahli gizi serta akademisi agar lebih fokus dalam usaha-usaha pencapaian kondisi optimal pada periode 1,000 hari pertama kehidupan. Demikian dikatakan Ketua Umum PP Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (SPGKI) Prof. DR. Dr. Abdul Razak Thaha, MSc, SpGK dalam sambutannya pada acara seminar “Gizi Optimal 1000 Hari Pertama Kehidupan: Pencegahan Infeksi, Malnutrisi dan Penyakit Tidak Menular di Indonesia yang diselenggarakan belum lama ini (20/4)di Jakarta.

Dalam acara tersebut dibuka oleh  Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI, Dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTN&H, MARS. Disampaikan juga rekomenadi berkaitan dengan Regulasi dan Bukti Ilmiah Mengenai Penggunaan Klaim Kesehatan Probiotik dan Prebiotik di Indonesia yang merupakan hasil rangkuman diskusi pada Workshop Bukti Ilmiah dan Regulasi Manfaat Probiotik dan Prebiotik di Indonesia pada tanggal 19 April 2013.

Selanjutnya Ketua Umum PB IDI Dr. Zaenal Abidin, MH mengatakan dalam sambutannya, bahwa yang paling penting dari dunia kedokteran selain kompetensi dokter adalah etika profesi, dan ada juga etika sejawatan. “Karena itu saya sering sampaikan kepada sejawat yang lain, jangan pernah berbicara tentang profesi luhur, kalau etika kesejawatan tidak ada diantara kita, oleh karena itu etika menjadi perekat diantara kita,” tutur Zaenal.

Dr. Zaenal juga menekankan bagaimana pentingnya asupan gizi, karena agama telah mengajarkan bahwa generasi itu dimulai dari calon ibu. “Jjadi sebelum 1000 hari kehidupan harus sudah dipersiapkan dengan baik dan bahkan setelah 1000 kehidupan pun tetap kita pertahankan,” ujar Dr. Zaenal.

Dr. Zaenal dalam sambutannya juga mengingatkan, masalah gizi telah menunjukkan, bahwa gizi primadona hari ini dan dimasa depan, Gizi tidak saja berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan kemiskinan, ekonomi, politik, sosial budaya, ketahanan nasional, harga diri suatu bangsa, martabat, dan rasa malu suatu negeri.

Dr. Zaenal memberikan contoh apabila ada suatu pejabat negeri yang hari ini tidak membicarakan masalah gizi, pada setiap pertemuan resmi atau pertemuan pentingnya, boleh dikatakan bahwa pejabat tersebut tidak paham terhadap kebutuhan negerinya atau rakyatnya. “Mungkin karena pejabat itu baru bangun dari tidur panjangnya,” tegas Dr. Zaenal.

Hal yang sama bila seorang dokter tidak memikirkan gizi pasiennya tentu bisa dipertanyakan. Karena kalau gizi pasien tidak diperhatikan tentu kesembuhannya sangat lambat yang berisiko biaya mahal.

Dr. Zaenal juga menambahkan bahwa persoalan kemudian, apa saja Formularium terapi gizi itu. “Kalau Formularium obat dan farmasi kita semua tahu. Apakah gizi bisa masuk dalam formularium obat? Kalau tidak maka PDGI harus berjuang untuk membuat formularium terapi sendiri, dan setelah membuat formularium PDGKI pun harus berjuang memperkenalkan dan meyakinkan pihak lain akan formularium tersebut,” tutur Dr. Zaenal.

Probiotik dan Prebiotik

Dalam acara tersebut juga diadakan Workshop pada tanggal 19 April 2013 yang membahas masalah pembuktian secara ilmiah dan Regulasi Manfaat Probiotik dan Prebiotik di Indonesia. BUkti ilmiahnya yaitu, pertama regulasi dan edukasi, yaitu regulasi mengenai probiotik dan prebiotic akan sangat diperlukan baik dari BPOM (aspek penilaiannya) maupun Kemenkes (aspek strain spesifij dan dosisnya), sehingga menjadi dasar substansisasi dari labeling (claim) maupun iklan. Post market probiotik harus diatur untuk mengawasi pemasaran probiotik dan prebiotic. Edukasi kepada konsumen baik dari berbagai pihak yaitu pemerintah, organisasi profesi/akademi, organisasi pengusaha, Ngo, dll.

Kedua, dengan pengembangan ujik linis, yaitu lebih banyak studi harus dilakukan di bidang pre dan probiotik diberbagai target penyakit untuk mendapat bukti ilmiah klinis. Peranan akademisi dan organisasi profesi PDGMI dan PDGKI sangat penting mengenai hal ini.

Uji klinis itu harus disesuaikan dengan target populasi peruntukannya, penelitian pada dewasa perlu dikembangkan, disamping penelitian pada anak, penelitian probiotik harus dilakukan secara strain spesifik, meta analisis perlu dilakukan, dirintis untuk menggunakan produk local, multiple versus single strainprobiotik atau spesifik dan sinbiotik.

Ketiga, Industri yaitu industri dalam inovasi produk probiotik dan prebiotic produknya dapat mentaati peraturan dan klaim yang sesuai dengan evidence-based yang ada. Industri mendukung penelitian ilmiah secara indepeden dan berkualitas internasional (scientific peer review publication) dan berpatrisipasi aktif dalam edukasi masyarakat yang terintegrasi dengan program CSR.