Rapat Kerja MKEK PB IDI: “Banyak Tuntutan Pasien, Karena Tidak dekatnya Dokter dan Pasien”

Rapat Kerja MKEK PB IDI: “Banyak Tuntutan Pasien, Karena Tidak dekatnya Dokter dan Pasien”

26 April 2013 | Posted in berita-lengkap


“Dalam Rapat Kerja Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) ini diharapkan bisa memperbaiki citra dokter di mata masyarakat. Jadi  usulan-usulan ini akan kita tampung dalam tim kecil kemudian disirkulasikan kepada para anggota semua,  dan Kita ambil skala prioritas untuk di  implementasikan,” ujar Ketua Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK) PB IDI Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad (K) kepada Idionline dalam acara Rapat Kerja MKEK yang diselenggarakan PB IDI selama dua hari di Jakarta belum lama ini.

Dalam acara tersebut dibuka oleh Wakil Ketua Umum (Ketua Terpilih) Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG (K), dan dilanjutkan dengan penjelasan singkat dari Ketua MKEK Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad (K) serta pembahasan materi yang disampaikan oleh Dewan Pakar PB IDI Prof. Dr. Razak Thaha, MSc dengan penjelasan tentang “Pokok-pokok Penyusunan Rencana Strategi dan Rencana Operasional Program Kerja.” Hari kedua dilanjutkan dengan Diskusi kelompok.

Dr. Prijo mengatakan, kalau dilihat dari hasil diskusi ini (rapat kerja PB IDI),  bahwa banyak dari para anggota yang hadir (sekitar 90%), terutama membicarakan masalah pencegahan, yaitu mereka pertama menginginkan dalam pendidikan kedokteran terutama pendidikan spesialis adalah masalah etik harus ditekankan, dan kedua, dalam pembinaan dokter yang sepanjang hayat yang terkait dengan CPD atau di PB IDI ada BP2KB hendaknya etik juga diangkat menjadi  bagian tak terpisahkan. “Dengan demikian itu akan diingat oleh para anggota MKEK sepanjang perjalanan menjadi dokter, sehingga kita dapat mencegah terjadinya hal-hal yang selama ini yang dikeluhkan di masyarakat,” tutur Dr. Prijo.

Dr. Prijo memberikan contoh, seperti ada seorang dokter kebetulan tulisannya jelek, menyebabkan hampir saja pasiennya mengalami kecelakaan, karena salah memberikan obat dari apotik. Kebetulan pada waktu itu pasiennya tidak menuntut, karena pasien itu hubungannya sangat baik dengan dokter tersebut. Tetapi sebaliknya apa yang terjadi saat ini banyak hubungan pasien dengan dokter tidak begitu erat, maka banyak terjadi berbagai macam tuntutan pasien.

Apalagi nanti dalam era Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Kartu Jaminan Sosial (KJS), dokter dengan memeriksa pasien yang begitu banyak, maka di khawatirkan hubungan dokter dan pasien menjadi terganggu, maka barang kali memang harus diatur kedepannya. Berapa jumlah pasien yang layak ditangani oleh seorang dokter sehingga tetap terjaga hubungan dokter dengan pasien sebagaimana yang diharapkan keinginan pasien.

Dr. Prijo memberikan contohnya dalam penelitian di Negara Kanada, ada pasien permintaan 18 menit untuk konsultasi dengan dokternya. Kalau dibawah 18 menit ternyata banyak pasien yang komplen, apalagi dibawah 10 menit ternyata sepertiga dari populasi yang diteliti malah banyak terjadi pengaduan kepengadilan.