Dari Pengukuhan Prof. DR. Dr. Ari Fahrial Syam,SpPD-KGEH, MMB, FINASIM : “Seharusnya Seorang Staf Pengajar Mempunyai Kompetensi yang Berhubungan dengan Teknologi Industri 4.0″

Dari Pengukuhan Prof. DR. Dr. Ari Fahrial Syam,SpPD-KGEH, MMB, FINASIM : “Seharusnya Seorang Staf Pengajar Mempunyai Kompetensi yang Berhubungan dengan Teknologi Industri 4.0″

10 September 2018 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


Prof. Ari F                                                                                                                                                                                              

“Saat ini kita memasuki era disrupsi, semua orang sedang euforia memanfaatkan era teknologi tinggi, era teknologi industri 4.0, bahkan sekarang juga sudah disiapkan teknologi industri 5.0. Jangan sampai kita tidak memanfaatkan kesempatan ini secara optimal termasuk dibidang penelitian kedokteran. Di era teknologi industri perubahan yang terjadi bukan dalam puluhan tahun tapi dalam berapa bulan saja, tidak terpikir dulu bahwa dengan bantuan teknologi ini kita bisa melakukan transaksi pemesanan dan jual beli hanya melalui gadget ini. Tanpa bergerak hanya memainkan jari-jari berbagai transaksi jual beli bisa kita lakukan. Perguruan tinggi memang harus melakukan terobosan melakukan penelitian dan inovasi dalam menyambut teknologi industri 4.0 ini,” ujar Prof. DR. Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM dalam Pidato Pengukuhan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (8/9) di Aula IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Jakarta Pusat.

Prof. Ari menambahkan, bahwa Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada sambutan hari pendidikan nasional tahun 2018 telah mengingatkan perguruan tinggi harus lebih sensitif atas perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Perguruan tinggi diminta menjawab tantangan kondisi disruptif ini. Di era teknologi industri 4.0 ini dengan mengandalkan artificial intelligence (AI), big data dan internet of things. Ketiga hal ini juga sudah merambah pelayanan kesehatan sehingga institusi pendidikan kedokteran juga harus mengantisipasi kebutuhan pasar akan kondisi ini. Berbagai pelayanan kesehatan global juga di dorong untuk memanfaatkan teknologi industri ini melalui artificial intelligence. Dengan menggunakan sistim rekam medik yang baik, dokter dibantu oleh teknologi untuk mendapat gambaran tentang kondisi pasien dan memprediksi apa yang akan terjadi kemudian sehingga perawatan pasien dapat diberikan lebih baik. Saat ini untuk menampung penelitian dibidang AI ini sudah ada jurnal internasional dengan nama Artificial Intelligence in Medicine.

Prof. Ari juga melaporkan bahwa di bidang endoskopi gastrointestinal sudah dibuat kapsul endoskopi tanpa kabel (wireless capsule endoscopy) yang dilengkapi indikator penanda perdarahan, secara otomatis kapsul endoskopi dapat memberi tanda lokasi perdarahan pada saluran cerna. Dokter yang melakukan pengamatan tidak perlu satu persatu melihat gambar tersebut tetapi nanti ada penanda yang memberikan informasi sehingga kerja dokter semakin mudah. Dokter tidak perlu melihat secara manual tetapi teknologi membantu mana yang perlu dilihat dan yang tidak perlu dilihat. Penemuan ini mempermudah buat dokter mencari penyebab suatu penyakit sehingga tata laksana yang tepat dapat dilakukan dengan cepat.

Kemajuan teknologi tinggi juga berdampak pada penegakkan diagnosis dan arah pengobatan masa depan berupa personalized medicine. Pendekatan klinis pengobatan kepada masing-masing pasien berbeda-beda disesuaikan dengan informasi genetik dan epigenetik masing-masing individu dan informasi genetik ini juga dibutuhkan untuk melakukan berbagai upaya pencegahan. Diprediksi ke depan, akan dibuat obat-obat yang bersifat personal untuk mengatasi berbagai penyakit yang semakin kompleks terutama penyakit kanker.

Prof. Ari mengingatkan beberapa waktu yang lalu pakar endoskopi gastrointestinal dunia dari Asian Institute Gastroenterology India, Prof Nageshwar Reddy, meengatakan bahwa khayalan yang ada saat ini tentang suatu pelayanan kedokteran bisa menjadi kenyataan di era teknologi yang terus berkembang. Suatu saat nanti ketika seseorang akan mengambil batu di saluran empedu hanya cukup datang ke vending machine atau mesin jual otomatis untuk membeli kapsul endoskopi yang sudah dilengkapi dengan robotik. Kapsul yang kita telan ini akan menuju muara papila vateri, melakukan proses potong dan selanjutnya mengeluarkan berbagai alat sampai akhirnya berhasil mengeluarkan batu dari saluran empedu. Khayalan ini bisa saja menjadi kenyataan di masa depan.

“Beberapa bulan lalu pada satu pameran alat kesehatan di Washington DC yang kebetulan saya hadir pada acara tersebut, salah satu perusahaan China sudah berhasil menciptakan kapsul endoskopi yang bisa dikendalikan dari luar tubuh manusia seperti layaknya kita bermain game, ke depan tidak mustahil kapsul ini bisa bekerja seperti robot dikendalikan dari luar untuk melakukan berbagai kegiatan diagnostik dan terapeutik. Untuk siap bersaing memang seharusnya seorang staf pengajar mempunyai kompetensi yang berhubungan dengan teknologi industri 4.0: seorang staf pengajar mempunyai kompetensi yang berbasis internet of thing sebagai basic skill, kompetensi di bidang riset untuk membuat proposal, menghasilkan penelitian dan publikasi atau paten dengan inovasi yang tinggi, mempunyai kemampuan untuk mengomersialisasikan inovasi yang telah diciptakan, staf pengajar siap bersaing di era globalisasi dan mampu memprediksi perkembangan zaman ke depan dengan memanfaatkan big data yang ada.”

“Pengalaman saya dalam 17 tahun terakhir meneliti kuman Helicobacter pylori (H. pylori), kuman yang menyebabkan orang sakit lambung mulai dari sakit maag biasa, tukak lambung atau duodenum sampai terjadinya kanker lambung menunjukkan bahwa kita harus menyiapkan penelitian di era disrupsi dan tehnologi industri 4.0, tutur Prof. Ari.