Dokter Perlu Jaga Sikap dan Ucapan pada Pasien Kanker

Dokter Perlu Jaga Sikap dan Ucapan pada Pasien Kanker

31 August 2015 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


konsultasi-dokter edit

Kanker merupakan penyakit yang dianggap menakutkan bagi kebanyakan orang. Ketika seseorang divonis kanker, rasanya kematian sudah di depan mata. Padahal tidak demikian. Apalagi jika kanker terdeteksi sejak dini dan pasien menjalani pengobatan dengan tepat.

Untuk itu, mengatasi pasien kanker tidak hanya membutuhkan pengobatan secara medis, tetapi juga penyembuhan secara psikologis. Kemampuan dokter dalam berkomunikasi dengan pasien kanker ikut menentukan keberhasilan terapi pengobatan.

Direktur Pusat Onkologi & Associate profesor Klinis Fakultas Kedokteran National University of Singapore dokter Ang Peng Tiam mengatakan, dalam hal ini seorang dokter harus bisa berkomunikasi dengan baik pada pasiennya.

“Dokter harus menjaga sikap dan bahasa tubuhnya. Ini penting,” kata Ang dalam peluncuran bukunya berjudul Hope and Healing di Gramedia Matraman, Jakarta, Jumat (28/8/2015).

Ang menceritakan, ada seorang pasien yang takut ketika dokter menyampaikan diagnosis kanker dan meminta pasien menghubungi keluarganya karena harus segera menjalani operasi pengangkatan kanker payudara.

Ucapan dokter tersebut membuat pasien akhirnya meninggalkan pengobatan medis untuk mengobati benjolan di payudaranya.

Pasien kemudian mencoba segala pengobatan alternatif, tetapi tidak membuahkan hasil. Kankernya justru terus berkembang dan sudah mencapai stadium lanjut ketika pasien akhirnya kembali ke pengobatan medis dan bertemu Ang.

Saat pertama kali berkonsultasi dengan dokter biasanya mereka belum siap mendengar vonis dokter, apalagi jika langsung diberitahu tindakan operasi yang harus dilakukannya. Kasus pasien kanker yang ketakutan ketika berobat ke dokter cukup sering ditemui. Dalam kondisi seperti itulah dokter seharusnya bisa menenangkan pasien terlebih dahulu.

Menurut Ang, dokter jangan beranggapan pasien siap mendengar kebenaran akan kanker yang dideritanya. Tetapi jangan pula berbohong mengenai kondisi pasien. Jangan pula langsung menyampaikan semua masalah atau kabar buruk yang akan dihadapi pasien saat itu juga.

“Tatap matanya, katakan yang sejujurnya. Lalu katakan, jangan khawatir. Berikan pasien harapan untuk sembuh dengan langkah pengobatan yang akan dokter lakukan,” terang Ang dari Parkway Cancer Centre Singapura itu.

Seperti ditulis dalam bukunya, Ang mengatakan bahwa penanganan kanker perlu pemahaman dokter tentang psikologi pasien. Dokter sebaiknya bisa membuat pasien merasa nyaman. “Sebagai dokter harus bisa melakukan yang terbaik,” ucap Ang.

Ang menyadari, saat kuliah di fakultas kedokteran dulu, ia tak pernah diajari bagaimana berkomunikasi dengan pasien. Para dokter hanya diajari bagaimana mereka bisa menyembuhkan suatu penyakit. Ia pun berharap, pendidikan kedokteran saat ini juga mengedepankan pentingnya komunikasi yang baik dengan pasien.

Sumber : Kompas.com