Gizi Anak Indonesia Masih di Bawah Standar WHO

January 4, 2017 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


gizi buruk

KENDATI sudah ada perbaikan gizi balita di Indonesia yang ditandai dengan penurunan stunting ( balita yang menderita tubuh pendek) dari 37,2% menjadi 29%, Indonesia masih menjadi negara dengan anak berstatus gizi buruk. Sebab, saat ini gizi balita di Indonesia berada di bawah standar yang ditetapkan World Heatlh Organization (WHO) yakni di bawah 10%. Menteri Kesehatan Nila F. Moelek baru-baru ini.

“Balita yang mengalami stunting tinggi dan berat badan tidak sesuai. Walaupun status gizi balita di Indonesia membaik, itu tidak merata. Sebab, di beberapa daerah masih tinggi seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) angkanya tertinggi, masih 48,2% anak-anaknya mengalami gizi buruk. Itu data yang dilaporkan Tim Nusantara Sehat” tutur Menteri Kesehatan Nila F. Moelek, baru-baru ini.

Menurut Menkes, bahaya bagi anak yang mengalami stunting, status gizi yang buruk membuat mereka rentan terkena penyakit – penyakit katastropik saat dewasa, seperti jantung koroner, stroke, hepatitis, dan lainnya.

” Ini bisa jadi beban bagi negara kita kalau dibiarkan,” imbuh Menkes. Dari data Kemenkes, pemerintah harus mengeluarkan Rp1, 69 Triliun atau 29,67% beban biaya Jaminan Kesehatan Nasional untuk pembiayaan penyakit katastropik.

Menurut Menkes, bentuk intervensi yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi gizi buruk adalah memberikan makanan pendamping tambahan (MPT) berupa biskuit yang mengandung kecukupan nutrisi. Pada 2016 lalu, MPT yang telah diberikan pada balita kurus sebanyak 5.554,7 ton. Pemberian MPT terus diberikan selama angka gizi di Indonesia masih rendah.

Menkes menegaskan, untuk meningkatkan status gizi dan kesehatan masyarakat, tidak lepas dari pendekatan keluarga.

Direktur Kesehatan Keluarga Eni Gustina menyatakan, keluarga utamanya ibu, memegang peran kunci dalam peningkatan status gizi dan kesehatan. Menurutnya pemahaman ibu dalam pemberian makanan bergizi pada anak penting. Eni mencontohkan, pemberian ASI eksklusif pada bayi di NTT di atas angka rata-rata nasional yaitu sebesar 55%. Tetapi angka stunting di wilayah itu masih tetap tinggi.

” Kita temukan anak-anak di bawah umur enam bulan sehat dan gemuk, tapi begitu di bawah satu tahun mulai mengalami stunting. Ternyata setelah mendapat ASI eksklusif mereka hanya diberi makan ketika bilang lapar. Itu yang perlu diedukasi bahwa pemberian ASI tidak berhenti sampai umur enam bulan, tapi dilanjutkan hingga dua tahun dengan makanan pendamping,” terang Eni ketika dihubungi, Senin (2/1).

Karenanya, dimulai dari masa mengandung misalnya pemberian edukasi gizi bagi calon ibu dan inisiasi menyusu dini serta cek kandungan secara rutin. Pada saat anak usia balita, dilanjutkan dengan pemantauan tumbuh kembang di pos layanan terpadu (poyandu).

” Tugas puskesmas dan posyandu mendorong pendekatan kesehatan berbasis keluarga. Tapi tenaga kesehatan tidak bisa sendiri. Ada kader-kader yang memberikan pendampingan seperti tim bina desa. Biasanya satu kader menjangkau sepuluh rumah,” tukasnya.OL-2.

Sumber : mediaindonesia.com