Gizi Penting untuk Cegah Stunting

Gizi Penting untuk Cegah Stunting

23 July 2018 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


Gizi-Buruk (1).jpg adit

MASALAH gizi hingga kini masih menjadi tantangan bagi anak Indonesia. Tidak sedikit anak Indonesia yang seharusnya bisa menjadi generasi penerus bangsa dengan tingkat kecerdasan tinggi justru mengalami gagal tumbuh alias stunting akibat kekurangan gizi kronis.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Tahun 2013 menyebutkan, angka stunting di Indonesia mencapai 37,2%. Padahal, Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah menetapkan batas toleransi stunting harus di bawah 20%.

Dr. dr. Damayanti Rusli S, SpA(K) yang juga seorang dokter spesialis anak, nutrisi dan penyakit metabolik menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi anak gagal tumbuh akibat kekurangan gizi berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga usia dua tahun pertama kehidupan.

“Kalau kita bicara stunting, dua tahun pertama kehidupan itu penting. Gizi harus lengkap karena kalau enggak nanti enggak bisa tumbuh, enggak tinggi, pengaruh juga ke otak, akibatnya anak jadi enggak cerdas,” ujarnya saat mengisi acara diskusi bersama Habibie dan Anak Indonesia di kediaman Habibie, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/7).

Namun perlu diketahui, menurut dr Damayanti, pemenuhan gizi anak dan orang dewasa itu berbeda. Terlebih pada bayi di bawah usia dua tahun yang masih mengonsumsi air susu ibu (ASI) serta memerlukan makanan pendamping dengan kandungan karbohidrat, lemak, dan protein.

Meski bayi usia enam bulan ke atas memang sudah diperbolehkan mengonsumsi makanan pendamping air susu ibu (MPASI) namun tidak perlu berlebih karena di dalam ASI sudah terkandung gizi lengkap yang dibutuhkan oleh bayi.
“Otak itu 85% dibentuk dari lemak sehingga seseorang perlu mengonsumsi banyak lemak sebelum usia semakin tua. Kalau sudah tua ngga boleh lagi makan lemak banyak-banyak, kalau bayi ASI saja cukup karena 50% nya adalah lemak,” ucap dr Damayanti, Anggota Divisi Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM.

Oleh sebab itu, ia meminta para ibu untuk dapat benar-benar memperhatikan komposisi MPASI yang diberikan pada bayi. Jangan sampai terjebak oleh tren yang sedang berkembang saat ini yaitu MPASI dalam bentuk puree berupa buah dan sayuran.
“Sementara yang dibutuhkan bayi untuk pertumbuhannya bukan cuma itu, tapi harus lengkap gizi,” tukasnya.

Selain itu, dr. Damayanti mempertegas, pemberian asupan gizi tidak sembarang melainkan sesuai stadium pertumbuhan.Buah dan sayur untuk bayi diberikan secara bertahap dan tidak boleh dengan porsi yang terlalu banyak seperti untuk orang dewasa.
“Di bawah dua tahun, sayur dan buah hanya dikenalkan. Kalau orang dewasa sampai setengah piring (porsi), kalau bayi enggak karena itu serat jadi engga boleh banyak-banyak,” cetusnya.

Di samping itu, cara pemberian pun hanya dijadikan sebagai camilan (snacking).Buah tidak perlu dijus tetapi cukup hanya dikerok atau jika bayi sudah bisa mengunyah boleh dipotong dadu kecil-kecil sekaligus untuk merangsang pertumbuhan gigi.

Protein hewani
Terlepas dari itu, paling penting di antara semua gizi yang dibutuhkan untuk mencegah stunting ialah protein hewani termasuk dalam bentuk susu. Kandungan asam amino esensial di dalamnya merupakan yang paling lengkap sehingga dapat membantu pertumbuhan dan kecerdasan otak anak.

“Protein hewani paling banyak itu ikan. Jadi Indonesia sebenarnya tidak pantas stunting, orang Indonesia engga boleh pendek karena protein hewaninya banyak dan sebagai negara kepulauan ikan kita melimpah di mana-mana,” tandasnya. Namun perlu diingat, aturan gizi lengkap dan seimbang yang telah disosialisasikan oleh Kemenkes. Disebutkan, pola makan bergizi seimbang artinya 50% terdiri dari buah dan sayur, 50% karbohidrat dan protein dengan pembagian sepertiga lauk protein dan dua pertiga lauk karbohidrat.

“Tetapi aturan itu berlaku untuk orang dewasa. Anak-anak terutama bayi ngga begitu karena tadi, kebutuhannya lain,” tukas dia.

Lebih lanjut, aturan pemberian protein hewani pada bayi juga tidak bisa langsung dengan ikan biasa yang umum dikonsumsi orang dewasa.Melainkan dengan jenis ikan yang memiliki tekstur lembut ataupun bisa juga diganti dengan ayam atau daging.

“Sebenarnya sampai mereka remaja, semua asupan gizi itu penting. Tapi yang paling penting itu kelengkapannya, kekurangan satu saja seperti protein hewani itu bisa ngga tumbuh dan ngga cerdas,” sebut dr. Damayanti.

Kendati, pada kasus tertentu diperlukan food for special medical purpose (FSMP) atau pangan dengan gizi khusus.Kategori makanan tersebut ditujukan untuk pasien yang memiliki penyakit, kelainan, atau kondisi medis tertentu sehingga memiliki kebutuhan nutrisi yang tidak dapat terpenuhi dengan mengonsumsi makanan standar atau biasa.

“Yang jelas, apapun jenis makanan yang dikonsumsi harus memiliki kandungan gizi lengkap sesuai kebutuhan. Apalagi bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Indonesia ketiga BJ Habibie menegaskan bahwa setiap orang tanpa terkecuali anak berhak atas kesehatan sebagaimana tertuang dalam amanat Undang-Undang No 36/2009 tentang Kesehatan pasal 4.
“Saya optimis dengan masa depan bangsa. Anak Indonesia adalah sumber harapan bagi kita semua sehingga semua kebutuhannya harus terpenuhi,” terang Habibie.

Berdasarkan pengalamannya, ungkap Bapak Dirgantara Indonesia tersebut, agar anak Indonesia sehat harus banyak minum air putih.Selain juga perbanyak makan sayur di samping mengonsumsi makanan yang mengandung gizi lengkap lainnya seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Saya juga minum susu, kata Habibie.

“Kecerdasan anak Indonesia sangat ditentukan oleh asupan gizi yang dikonsumsi sejak masih bayi. Jadi kalau mau cerdas itu awalnya harus sehat, baru kemudian pendidikan dan tak kalah penting pembudayaan,” pungkas Habibie.

Sumber : mediaindonesia.com