Hari Anak Nasional Tahun 2020 : Berinvestasi Pada Anak Usia Balita

Hari Anak Nasional Tahun 2020 : Berinvestasi Pada Anak Usia Balita

16 July 2020 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


anaknasional

Ada yang menarik dari diskusi pekan ke II, karena diselipkan pembacaan syair istimewa  berjudul “Anak”, karya Kalil Gibran, yang dijadikan sebagai rujukan pendidik anak usia dini. Kemudian dilanjutkan pengantar singkat dari inisiator penyelenggara diskusi, dr. Zaenal Abidin. Mengawali pembicaraannya, dr. Zaenal mengatakan topik diskusi kita yang kedua ini merupakan lanjutan dari diskusi pekan I yang berkesinambungan.

Diskusi yang serial ini akan diusahakan membatasi diri agar lebih fokus kepada masalah gizi dan kesehatan pada anak, sesuai latar belakang kolaborator penyelenggara diskusi. Diskusi terselenggara atas kolaborasi:  Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Dep. Kesehatan BPP. KKSS, Bakornas LKMI PB. HMI dan, www.sadargizi.com .

Dr. Zaenal mengutip ceramah Almarhum Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur). Ketika itu Cak Nur mengutip Sabda Rasulullah yang menganjurkan para sahabat untuk menanam pohoh kurma. Menurut Cak Nur, pohon kurma itu adalah tanaman jangka panjang, yang bila kita tanam sekarang, belum tentu kita sendiri dapat menikmati hasilnya. Tapi bila saat ini tidak ada yang menanam pohon kurma maka dipastikan bahwa di masa depan tidak akan ada yang dapat menikmati buah kurma. Jadi “menanam” itu adalah berinvestasi.

Menanam juga berarti memelihara. Hal ini dapat kita simak dari Sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa menanam pepohonan, dan menjaganya dengan sabar, serta merawatnya hingga berbuah, maka segala sesuatu yang menimpa buah-buahnya akan dianggap sedekah bagi Allah.” (HR. Ahmad).

Dengan demikian, menanam pohon itu adalah investasi dan sedekah. Andai saja pohon itu tidak bebuah, pastikan bahwa kita telah melakukan suatu kebaikan. Kita telah berinvestasi sekaligus bersedekah air dan udara segar (oksigen) bagi orang lain. Ini baru investasi menanam pohon.

Melakukan yang terbaik kepada anak tentu merupakan investasi yang amat luar biasa. Anak yang sehat, takwa, jujur, cerdas adalah investasi terbaik untuk masa depan alam semesta, masa depan umat manusia, masa depan bangsa. dan bahkan investasi untuk kehidupannya setelah hari ini (akhirat).  Karena alasan itu pula sehingga komunitas ini secara khusus membuat serial diskusi tentang anak

Diskusi kita pekan II (kedua) hari ini, Sabtu, 11 Juli 2020, jam 16.00 – 17.30. (selama 90 menit) memilih kelompok usia 3-5 tahun, dengan topik:  “Berinvestasi pada Anak Usia Balita” Dua narasumber akan berbagi tugas untuk membahas topik ini, yaitu Dr. Meita Dwi Utami, M.Sc., Sp.A., sebagai dokter spesialis anak anak membahas “Deteksi dini masalah tumbuh kembang balita.”  Sementara Wahyu Aulizalsini, M.Psi., sebagai psikolog akan membahas “Stimulasi untuk mengoptimalkan perkembangan balita.“ Dengan moderator dr. Intan Kautsarani

 

Dr. Meita Dwi Utami, M.Sc., Sp.A.

(Dosen FKK. Univ. Muhammadiyah Jakarta)

Lewat paparannya yang berjudul “Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita” dr. Meita Dwi Utami, M.Sc, Sp.A, menjelaskan diagram konsep mengenai proses tumbuh kembang. Komponen mikro, mini, meso, dan makro serta lingkungannya, merupakan hal penting untuk memenuhi kebutuhan dasar anak berupa asuh, asih dan asah.

Ciri khas tumbuh kembang anak yang pertama adalah tumbuh, yaitu bertambahnya ukuran, jumah sel, jaringan interseluler, bertambah ukuran fisik, struktur tubuh dengan kata lain dapat dihitung kuantitatif. Ciri khas yang kedua ada kembang, yaitu bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, sesuatu yang dinilai secara kualitatif. Kedua hal ini dapat terjadi baik sesuai tahapan jika mendapat stimulasi, deteksi, intervensi dini yang optimal.

Nilai penambahan berat badan, panjang badan dan lingkar kepala, jika terjadi penambahan tapi tidak memadai disebabkan karena nutrisi tidak adekuat, dan jika gagal tumbuh anak akan mengalami dampak jangka panjang.

Bayi mengalami gangguan pertumbuhan bila:

  • PB/TB beberapa periode <P3 (-2 SD)
  • Kurva BB anak mendatar atau menurun hingga memotong >2 garis persentil
  • LK < P3 (berhubungan dengan degenerasi sistem saraf pusat atau gangguan perkembangan kognitif)

Stunting merupakan perawakan pendek yang disebabkan oleh kekurangan gizi jangka panjang atau malnutrisi kronik akibat asupan nutrisi yang tidak optimal (kuantitas dan kualitas makanan yang salah) dan kebutuhan nutrisi yang meningkat akibat kondisi kesehatan suboptimal karena adanya penyakit.

Pantau perkembangan setiap kunjungan anak sehat. Skrining perkembangan penting dilakukan seiring tumbuh kembang anak. Skrining ini dilakukan pada usia 9, 18, 24 atau 30 bulan. Alat skrining memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi dalam mengenali keterlambatan perkembangan dan masalah perilaku.

Pemantauan perkembangan usia balita dipengaruhi oleh usia kehamilan, nutrisi, penyakit yang dialami seperti cacingan, stimulasi dan dukungan emosi dari keluarga. Kemudian ada Uji tapis dengan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) dan Uji tapis berupa Denver II atau Bailey Infant Neurodevelopmental Screener/BINS.

Stunting tidak ada obatnya, tindakan terbaik adalah mencegah stunting dengan cara memperbaiki nutrisi ibu, pemberian ASI eksklusif, pemberian MP-ASI (tepat waktu, aman, sesuai tahapan dan berkualitas), penambahan micronutrient (vitamin A, Fe, garam beryodium, fortifikasi makanan) dan pemantauan tumbuh kembang balita dan akses air bersih, fasilitas sanitasi dan lingkungan yang bersih.

Pentingnya nutrisi untuk pertumbuhan otak dan organ tubuh sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun.

Stimulasi perkembangan anak dapat dilakukan dengan memberi contoh setiap hari sambil bermain dengan kasih sayang, memberi pujian/penghargaan dan melakukan Intervensi khusus: pada anak berkebutuhan khusus.

Melindungi/mencegah infeksi, cedera, kekerasan, eksploitasi, penelantaran pada anak dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan (makanan, minuman, badan, pakaian, air, dan lingkungan), imunisasi (lengkap dan teratur) dan penerapan UU Perlindungan Anak

 

Wahyu Aulizalsini, M.Psi

(Psikolog & Dosen Fakultas Psikologi Univ. Bhayangkara Jakarta)

Perkembangan anak usia dini sangat penting bagi orang tua dan guru pada umumnya. Karena lingkungan yang paling dekat dengan anak adalah orang tua.

Bonding emosi harus dibangun oleh orang tua sejak dini, baik ibu atau ayahnya.

Perkembangan harus distimulus dan harus berubah. Perkembangan awal menentukan perkembangan selanjutnya. Jika diawal tidak dilakukan maka perkembangan selanjutnya akan bermasalah.

Orang tua terkadang membentuk label emosi dan ketakutan pada anak secara tidak langsung. Karena jika anak di ajar dengan celaan maka anak akan belajar mencaci maki.

Stimulasi anak harus diatur oleh orang tua sehingga tidak memunculkan emosi pada anak. Orang tua perlu meminimalisir bahkan menghilangkan perkataan atau ucapan yang dapat mempengaruhi kondisi emosi anak.

“Jangan takut, kok segitu aja gak bisa” ini adalah contoh stimulasi yang salah dari orang tua yang dapat memicu emosi anak, sehingga emosi anak berpengaruh dan anak malah lebih takut untuk berbuat dan tidak berani mencoba.

Penting bagi anak untuk diajari kemandirian sesuai usia, misalnya 18-24 bulan anak sudah harus bisa makan sendiri. Perkembangan anak harus berjalan sesuai usianya. Perkembangan emosi dan perkembangan kognitif harus sama-sama di stimulus, kita tidak bisa hanya memperhatikan perkembangan kognitif anak.

Demikian rangkuman serial diskusi Hari Anak Nasional Pekan II, semoga bermanfaat. Bila ingin mengetahui lebih lanjut silakan buka www.sadargizi.com atau menghubungi narasumber kami.

 

Billahit Taufik Walhidayah.

Salam Sehat Indonesia.