Hari Gizi Nasional, Ayo Perangi Stunting

Hari Gizi Nasional, Ayo Perangi Stunting

28 January 2019 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


-hari-gizi-nasional edit

Masalah stunting di Indonesia masih menjadi persoalan yang prevalensinya cukup tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) menunjukkan angka kejadian stunting di Indonesia mencapai angka 30,8%. Angka ini masih jauh di atas ambang yang ditetapkan WHO sebesar 20%.

“Kita punya masalah ganda, sebagian adalah malnutrisi, sebagian lagi kelebihan berat badan, dan yang paling tinggi di antara keduanya itu adalah stunting,” kata dokter spesialis nutrisi dan penyakit metabolik pada anak Damayanti Rusli Sjarif dalam acara Frisian Flag Indonesia MilkVersation Hari Gizi Nasional 2019, di Jakarta (23/1/2019).

Stunting adalah perawakan pendek karena kekurangan gizi jangka panjang atau malnutrisi kronik. Hal ini juga bisa terjadi karena asupan nutrisi yang tidak optimal. Beberapa kejadian stunting terjadi karena penyakit tertentu.

Untuk mengetahui anak stunting atau tidak, kata Damayanti, anak harus diukur tinggi badannya dengan cara yang benar. Hasilnya kemudian di-plot dalam sebuah grafik. Setelah itu baru bisa ditentukan apakah anak mengalami stunting.

Apakah semua anak pendek itu stunting?

Menurut Damayanti hal itu tidak benar. Dalam ilmu kedokteran perawakan pendek yang disebabkan kekurangan nutrisi disebut stunting. Perawakan pendek juga bisa disebabkan oleh faktor keturunan, tetapi bukan karena kekurangan gizi.

Stunting selalu ditandai dengan penurunan berat badan yang tadinya normal, selain itu anak juga mengalami penurunan fungsi kognitif.

“Kira-kira usia 3 bulan bisa ketahuan stunting karena asupan makanan tidak cukup,” kata Damayanti.

Tetapi, pemeriksaan mengenai stunting harus dilakukan oleh dokter profesional.

Menurut penelitian, kata Damayanti seseorang anak yang stunting akan mengalami penurunan IQ. Itulah sebabnya permasalahan ini sangat serius. Kalau anak sudah stunting, segala upaya perbaikan tidak akan mengubah banyak.

Pada 1.000 hari pertama kehidupan, seseorang mengalami perkembangan otak yang paling signifikan. Itulah sebabnya pada masa ini kebutuhan gizi yang baik harus dipenuhi dengan sungguh-sungguh.

Gangguan Fungsi Kognitif

Sebenarnya, bukan soal perawakan pendek yang dipersoalkan, tetapi gangguan fungsi kognitif, gangguan pembakaran lemak, dan penurunan fungsi kekebalan.

“Selain itu pada masa jangka panjang dewasa dia berisiko mengalami obesitas, hipertensi, dan penyakit degeneratif lainnya,” kata Damayanti lagi.

Itulah sebabnya, Damayanti menegaskan agar bayi pada 1.000 hari kehidupan pertamanya tidak boleh mengalami malnutrisi. Selama waktu tersebut anak juga harus dipantau tumbuh kembangnya. Cukupi kebutuhan anak dengan gizi lengkap dan seimbang dengan variasi makanan.

Gizi yang diperlukan pada anak di bawah dua tahun adalah lemak, protein hewani, dan karbohidrat. Pada makanan pendamping ASI (MPASI), penuhi kebutuhan tambahan seperti zat besi dan asam amino esensial yang lengkap.

Pencegahan kejadian stunting pada anak dapat dilakukan dengan deteksi dini. Misalnya, ketika anak tidak terlihat pertumbuhan dan perkembangannya sesuai umurnya. Pastikan untuk memperbaiki asupan nutrisi yang cukup, lengkap, dan sehat.

“Timbang anak dengan benar, lalu cocokkan dengan grafik, apabila anak didapati pendek, harus dirujuk ke dokter,” katanya lagi.

Kalau tinggi dan berat badan anak masih normal, pemantauan harus dilakukan secara rutin.

Sejauh ini strategi penanggulangan stunting di Indonesia telah dilakukan dari posyandu, puskesmas, dan dokter spesialis anak. Akan tetapi tanggung jawab utama dalam pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak tetap ada pada orang tua.

Sumber : Bisnis.com