IDI Kini Mempunyai Program Proteksi

12 March 2015 | Posted in Berita, berita-lengkap, hbdi-2015, news-nasional


DSC_1535 edit

“IDI dan dokter Indonesia mestinya tidak boleh melepaskan diri dari persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini, baik itu persoalan kesehatan, persoalan ekonomi , persoalan politik, persoalan hukum dan lainnya. Artinya kalau bangsa ini harus hancur, maka kita hancur bersama-sama. Jangan bangsanya hancur, dokternya enak-enak saja atau melarikan diri, tidak bertanggung jawab,” ujar Ketua Umum PB IDI – Dr. Zaenal Abidin, SH, MH dalam sambutannya pada acara jumpa pers Hari Bakti Dokter Indonesia 2015 (HBDI) dan Penandatanganan MoU Program Proteksi Dokter Indonesia yang diselenggarakan pada 10 Maret 2015 di Sekretariat PB IDI Jl Samratulangi Jakarta.

Dr. Zaenal mengatakan, karena sampai saat ini bangsa ini belum sembuh, bangsa ini masih sakit, sakit politiknya, ekonominya, psikisnya, dll. Perlu dirawat dengan baik. Rawat bangsa ini agar tetap berada pada bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan bangsa terpecah belah, hanya karena ada pulau yang tidak terlayani kesehatannya.

“Jangan sampai lebih memilih pindah ke Malaysia dibanding Indonesia hanya karena pulau itu atau wilayah perbatasan itu tidak mendapatkan perawatan dari Indonesia, padahal kita mesti merawatnya,” tutur Dr. Zaenal.

Oleh karena itu, kata Zaenal bahwa  tema HBDI 2015 ini “ Dokter untuk bangsa strategi merawat Indonesia.

Turut bicara Ketua Panitia HBDI 2015 –  Dr. Astronias B. Awusi, SpPK,M.Kes.

Selain itu pada saat yang sama Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menggandeng perusahaan asuransi Asei Indonesia untuk melindungi para dokter atas risiko malpraktek. Diharapkan, proteksi semacam ini membuat dokter bekerja lebih tenang dan profesional.

Penandatanganan kerjasama dilakukan Ketua Primer Koperasi (Primkop) IDI, Dr Kadarsyah dengan Dirut PT Asuransi Asei Indonesia, Eko Wari Santoso, yang disaksikan Ketua Umum PB IDI, Dr Zaenal Abidin, SH, MH dan undangan lainnya.

Setelah itu dilakukan pula penandatanganan kerjasama PB IDI dengan Dirut PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim untuk program perlindungan hari tua dan risiko meninggal dunia.

Dalam sambutannya Dr Zaenal  menjelaskan, asuransi risiko malpraktek diperlukan jika melihat  kasus gugatan atas tuduhan malpraktek oleh dokter semakin meningkat akhir-akhir ini. Kondisi ini tidak saja membuat stress para dokter, tetapi juga membuat “bangkrut” keuangannya.

“Karena selama proses penyelesaian kasusnya, dokter jarang praktek, padahal butuh biaya untuk jalan ke sana ke sini. Belum lagi, kalau pihak penggugat minta kompensasi uang. Dokter langsung bangkrut,” tuturnya.

Soal proteksi malpraktek bagi dokter, menurut Zaenal,  IDI sebenarnya sudah digagas sejak lama. Namun, sulit mencari perusahaan asuransi yang memiliki produk khusus Tanggung Gugat Medikal Malpraktek.

“Saat bertemu dengan Asuransi Asei Indonesia, gagasan soal proteksi malpraktek ini klop. Sebagai perusahaan asuransi yang khusus menangani kerugian, Asei punya produk asuransi khusus seperti yang diinginkan IDI,” ujarnya.

Ditambahkan, premi untuk bisa ikut program proteksi ini beragam mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu per bulan. Dana tersebut bukan sejenis premi yang hilang jika habis waktunya, tetapi masuk dalam program hari tua yang dikelola Asuransi Jiwasraya.

“Jadi ada 3 manfaat dari program ini, dokter mendapat tunjangan hari tua dari premi yang telah dibayarkan, sekaligus proteksi dari risiko malpraktek. Jadi uangnya tidak hilang. Ini jadi semacam menabung untuk hari tua, tetapi dilindungi asuransi proteksi,” ujarnya.

Dr. Dien Kurtanti, General Manager Primkop IDI menjelaskan, setiap dokter yang sudah tergabung dalam asuransi ini jika terkena kasus tinggal menelpon tim penanganan kasus di IDI. Nanti bersama dengan pihak asuransi akan menyelesaikan kasus mulai dari mediasi hingga diputus oleh pengadilan.

“Selama proses mediasi hingga pengadilan, biayanya ditanggung pihak asuransi. Bahkan jika diputuskan bersalah, biaya pertanggungan  hingga Rp 1,5 miliar itu pun dibayarkan asuransi. Dokter bisa lebih tenang, karena urusan sudah dilakukan asuransi,” ujarnya.

Peran Primkop IDI dalam kerjasama ini sebagai administrator mulai dari pendistribusian kontribusi premi dan perantara klaim untuk kepentingan asuransi anggota IDI.