IDI NTB Kampanyekan Hidup Sehat Tanpa Rokok

IDI NTB Kampanyekan Hidup Sehat Tanpa Rokok

26 July 2019 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


NTB HBDI 2

Peringatan Hari Bakti Dokter (HBDI) ke 111 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi NTB, diisi dengan berbagai aksi nyata untuk mengkampanyekan hidup bersih dan sehat tanpa asap rokok, dalam acara Car Free Day (CFD), di Jalan Udayana, Minggu pagi, (21/7/19). Diawali dengan fun walk memungut sampah oleh para dokter, para medis dan mahasiswa kedokteran, kemudian senam jantung sehat, check up kesehatan dan talk show “Pengaruh Rokok Terhadap Jantung dan Paru”. Menampilkan Dr.Yusra (dokter spesialis jantung) dan Dr. Eva (dokter specialis paru-paru) sebagai narasumber. Dokter Yusra dalam kesempatan itu mengatakan bahwa saat ini banyak ditemukan kasus-kasus pasien yang terserang jantung coroner. Menurutnya, jantung coroner terjadi karena penyempitan pembuluh darah ke jantung. Pemicunya, selain karena hipertensi, kolestrol, gula darah, triglersida dan faktor lingkungan lainnya. Juga sebagian besar kasus penderita jantung, katanya, disebabkan oleh asap rokok, baik bagi perokok aktif maupun bukan perokok (perokok pasif). Karena asap rokok juga akan terhirup oleh masyarakat disekitarnya, meski bukan perokok. Bahkan perokok pasif ini, jelas Yusran, resikonya 13 kali terkena penyakit jantung dibandingkan dengan tanpa asap rokok sama sekali.

Penjelasan senada diungkapkan Dr. Eva. Rokok dapat menyebabkan penyakit jantung dan paru-paru, karena didalamnya mengandung zat-zat berbahaya, seperti nikotin carcinogen,dan aerosol serta zat-zat berbahaya lainnya. Penjelasan tersebut mengundang sejumlah pertanyaan dari masyarakat yang hadir. Diantaranya Haris dari Gunung Sari yang menanyakan efek dari rokok elektrik. Ia mengaku pernah mencoba rokok elektrik, dan setelah di lakukan test terhadap asap yang menempel di kapas ternyata tampak lebih bersih dari rokok biasa. Terhadap hal tersebut, dokter Yusra menjelaskan bahwa rokok elektrik juga sama resikonya. Karena rokok elektrik tetap mengandung nikotin, carcinogen,dan aerosol. Bakan zat-zat tersebut bisa menempel dijendela, kursi, baju dan lain-lain. “Sehingga jika terhirup oleh keluarga atau anak-anak kita, dapat berpotensi menyebabkan penyakit kanker,” jelasnya. Wagub Umi Rohmi tidak luput juga bertanya tentang resiko bagi masyarakat yang hidup dengan perokok. Terhadap pertanyaan tersebut, Dokter Eva menjelaskan bahwa saat merokok maka ada dua efek yang ditimbulkannya. Yakni asap utama yang lebih besar akan beresiko bagi pecandu rokok terserang jantung/paru-paru. Dan asap sampingan yang akan berpengaruh pada lingkungannya atau orang-orang disekitarnya. Secara resiko, kata dokter Eva adalah sama-sama besar kemungkinan terkena penyakit kanker, jantung dan lainnya. Pengunjung lainnya Ikhsan dan Inaq Ruri yang suaminya kecanduan rokok menanyakan solusi mengatasi rokok. Karena menurutnya saat ini anak-anak saja sudah mulai merokok. Sementara pabrik rokok tidak mungkin ditutup. Terhadap hal ini, para dokter dari IDI memberikan Tips, bahwa untuk menciptakan lingkungan yang bebas rokok, maka semuanya, terutama para orang tua harus bisa menjadi contoh bagi anak-anak. Mereka menyarankan untuk berhenti merokok. Untuk bisa berhenti merokok, harus dimulai dari komitmen yang kuat untuk perduli pada diri sendiri dan lingkungan akan pentingnya menjaga lingkungan hidup yang bersih dan sehat. (f3)