Diskusi Hari Anak Nasional Tahun 2020 : Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Sejak Usia Dini

Diskusi Hari Anak Nasional Tahun 2020 : Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Sejak Usia Dini

7 July 2020 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


Generasi emas sejak dini

Diskusi dimulai dengan mendengar pengantar singkat dari inisiator penyelenggara diskusi, dr. Zaenal Abidin. Mengawali pembicaraannya, Dr. Zaenal mengatakan topik diskusi kita bulan ini digeser sedikit, dari yang sebelumnya hampir semua berurusan dengan covid-19 ke masalah anak. Kebetulan pada tanggal 23 Juli adalah Hari Anak Nasional sehingga kami selaku penyelenggara diskusi bersepakat menengok masalah anak, anak Indonesia dan anak kita semua.

Diskusi yang serial ini akan diusahakan membatasi diri agar lebih fokus kepada masalah gizi dan kesehatan,  sesuai latar belakang kolaborator penyelenggara diskusi. Diskusi terselenggara atas kolaborasi:  Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Dep. Kesehatan BPP. KKSS, Bakornas LKMI PB. HMI dan, www.sadargizi.com .

Dr. Zaenal kembali mengutip mengutip rekomendasi diskusi publik yang pernah dilakukan sembilan tahun silam. Ketika itu Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi dan Lembaga Kajian Kesehatan dan Pembangunan (LKKP) menyelenggarakan diskusi dalam rangka Hari Anak Nasional 2011.  Diskusi yang bertajuk: “Gizi Salah, Otak Kosong, Bangsa Sakit, Siapa yang Bertanggung Jawab?”  tersebutmerekomendasikan beberapa hal, sebagai berikut:

  1. Pemerintah yang merupakan mandatori Negara menjamin keadilan pangan (food justice) serta wajib menjamin ketersediaan dan akses untuk pemenuhan hak dasar anak dan ibu hamil dalam rangka memerangi gizi kurang serta memasukkannya dalam skema Jaminan Sosial Kesehatan yang bersifat universal.
  2. Mencegah meningkatnya gangguan kesehatan pada anak-anak akibat gizi lebih dengan memfasilitasi dan mendorong terbentuknya regulasi yang mengatur pembatasan gula pada makanan bayi dan anak, termasuk memasukkan pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah sehingga anak Indonesia dapat terpapar sejak dini mengenai pola hidup sehat,  cara memilih jajanan yang bergizi seimbang, membaca lebel informasi gizi pada kemasan makanan, dll;
  3. Melakukan fasilitasi terbentuknya teman sebaya “anak sadar gizi” dan merevitalisasi kantin/warung sehat di sekolah dengan menu jajanan gizi seimbang;
  4. Melakukan pemberdayaan kaum ibu (keluarga):

-   Agar memiliki kemandirian ekonomi sehingga dapat mengelola keuangan rumah tangganya secara mandiri.

-   Agar memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan pola asuh yang baik, penuh kasih sayang kepada anaknya, memasak sendiri untuk anaknya disertai rasa cinta, serta menyiapkan dan membiasakan anaknya sarapan pagi.

-   Agar memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengolah makanan secara bervariasi, padu-padan, sesuai takaran porsi, dst.

-   Agar memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memilih bahan makanan dan mengutamakan bahan yang bersumber lokal yang masih segar dengan kandungan gizi terjamin, mudah, murah, serta halal.

5.  Membudayakan gerakan kearifan mengkonsumsi sumber gizi (kearifan gizi atau nutrition wisdom) yang meliputi : (a) gerakan membatasi kunsumsi lebih yang dapat mengakibatkan penyakit, (b) gerakan menghemat konsumsi pangan untuk menyisakan sebagian sumber gizi kepada generasi berikutnya; (c) gerakan “solidaritas gizi”.

Mengutip rekomendasi diskusi (tahun 2011) di atas tentu saja sekedar refresing, sebab boleh jadi tidak lagi relevan untuk dibahas saat inilagi pula sudah berlalu cukup lama. Tentu banyak hal yang telah berubah dan dicapai akibat kemajuan pembangunan sehingga tak ada lagi yang perlu didialogkan.

Lalu, bagaimana masalah kesehatan anak Indonesia saat ini? Dalam pemberitaan beberapa media massa tahun 2019, dikatakan bahwa pada tahun tersebut terdapat empat masalah kesehatan anak di Indonesia, yakni:  Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBRL), gizi buruk, obesitas dan, merokok.

Bila ditelisik lebih jauh, tentu masalah anak di Indonesia bukan hanya terbatas pada empat hal di atas.  Sebab, setiap fase tumbuh kembang anak memiliki problematikanya sendiri-sendiri. Karena itu, pada Seri diskusi Hari Anak Nasional tahun ini, kami memilih untuk mendiskusikannya berdasarkan kelompok usia anak. Mulai dari usia: 0-2 tahun, usia 3-5 tahun, usia 6-9 tahun dan; usia anak remaja 10-19 tahun. Pada pembahasannya nanti tidak menutup kemungkinan keempat masalah kesehatan anak tahun 2019 di atas akan dibicarakan kembali.

Diskusi pekan I (pertama) hari ini, Sabtu, 4 Juli 2020, jam 15.30 – 17.00. (selama 90 menit) memilih kelompok usia 0-2 tahun, dengan topik:  “Ikhtiar Mewujudkan Generasi Emas Indonesia Sejak Usia Dini.” Dua narasumber kita hari ini akan berbagi tugas untuk membahas topik ini.  Dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK., sebagai dokter spesialis gizi klinik akan mengupas topik ini dari sisi gizi dan kesehatan, sementara Dinuriza Lauzia , M.Psi., sebagai psikolog akan membahasnya dari kacamata seorang psikolog. Moderator: dr. Muh. Fachrurrozy Basalamah (Direktur Bakornas Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam – PB. HMI).

Dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., SP.GK

(Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi/Dosen FKK UMJ)

Lewat paparannya yang berjudul “Gizi Optimal di Masa 1000 Hari Pertama Kehidupan,” Dr. Tirta Prawaita Sari mengupas topik Hari Anak Nasional pekan pertama. Ia memulainya dari fase sembilan bulan semenjak hamil hingga dua tahun setelah dilahirkan. Gizi optimal tentunya ia tidak disiapkan baru ketika anak lahir, tetapi ia disiapkan jauh sebelumnya. Karena itu ketika kita akan melahirkan generasi unggul, generasi emas maka harus disiapkan jauh sebelum anak itu lahir.

Sesungguhnya kehidupan seseorang kita melihatnya sebagai siklus sehingga saling berkaitan. Apa pun yang terjadi pada seseorang dalam suatu waktu pada umur tertentunya maka perkembangan pada umur tententu tersebut akan dibawah kepada kelompok umur berikutnya. Hal yang paling nyata, anak yang dilahirkan dalam keadaan baik, in syaa Allah dan sesungguhnya ia telah mendapatkan perawatan kesehatan, mendapatkan asupan gizi, mendapatkan kasih sayang semenjak sebelum ia dilahirkan, yakni ketika masih dikandung oleh ibunya selama sembilan bulan.

Pelayanan/asupan gizi dan pemberian kasih sayang yang dilakukan selama sembilan bulan ini tentunya telah pula disiapkan oleh sang ibu jauh sebelum ia mengandung. Yaitu, pada saat ia mulai remaja, mulai pubertas, saat organ-organ reproduksinya mulai terbentuk. Pada saat inilah merupakan masa awal, di mana seorang ibu berinvestasi menyiapakan diri untuk melahirkan generasi unggul.

Contoh yang patologisnya, bayi yang memiliki berat badan lahir rendah (BBLR) sebenarnya merupakan hasil dari ibu yang ketika ia hamil menderita kurang energi kronik dan sepanjang kehamilannya kenaikan berat badannya sangat rendah sehingga anaknya dilahirkan dengan BBLR. Kemudian tumbuh menjadi balita yang kurang energi protein, lalu berkembang menjadi anak usia sekolah, remaja yang mengalami ganguan pertumbuhan dan seterusnya, seperti sebuah siklus yang bila tidak segera diputus maka akan menjadi lingkaran setan yang berulang-ulang.

Riset kesehatan dasar 2018 (Riskesda 2018), masalah yang dihadapi Indonesia dikerucutkan pada satu pada satu persoalan yang terus-menerus digaungkan dan dikampanyekan untuk menjadi perhatian bersama. Masalah gizi Indonesia yang paling terkenal yakni stunting.

Stunting buka hanya masalah gizi yang dialami oleh orang Indonesia, tapi dialami sebagian besar penduduk di dunia, terutama negara-negara berkembang. Stunting mendapat perhatian khusus karena ia memiliki dampak, dan ia juga merupakan indikator yang paling penting untuk menunjukkan masalah gizi secara keseluruhan pada suatu negara. Stunting pada Riskesdas 2018, baik pendek maupun sangat pendek ditemukan sebesar 30,18%, mengalami sedikit penurunan dari sebelumnya.

Data status gizi buruk dan gizi kurang pada balita, secara angka sebenarnya kita turun sedikit dari 19,6% (2013) menjadi 17,7% (2018), tapi angka ini tidak signifikan penurunannya. Hal ini sangat menyedihkan karena masalah gizi buruk dari dulu sampai sekarang problemnya masih sama dan perkembangan perbaikannya tidak terlalu menggembirakan.

Mengapa kita fokus pada stunting, karena :

  1. 1.  Stunting merupakan sebuah indikator yang menggambarkan asupan gizi yang tidak adekuat dalam waktu yang lama. Jadi yang dibicarakan adalah tinggi badan. Kalau seorang anak tidak mendapatkan asupan gizi yang adekuat dalam waktu yang lama maka akan terlihat nyata pada pertumbuhannya, dan mengetahui pertumbuhan itu biasanya indikator yang paling muda dipakai adalah tinggi badan.
  2. 2.  Stunting menggambarkan faktor lingkungan penderitanya serta menjelaskan keterkaitan yang sangat kuat. Paling gampang adalah faktor lingkungan pada saat ia dikandung.
  3. 3.  Stunting memberikan dampak jangka pendek yang signifikan, keterlambatan intervensi akan berakibat permanen.
  4. 4.  Stunting memberikan dampak jangka panjang, intervensi yang cepat tepat akan sangat efisien dan efektif menyelesaikan masalah.
  5. 5.  Stunting secara politik menggambarkan komitmen pemerintah terhadap kesehatan rakyat. Karena ini berkaitan situasi asupan gizi yang tidak adekuat dalam waktu lama. Sehingga kita dan negara lain pun bisa menilai suatu negara apakah punya prioritas yang baik untuk kesejahteraan rakyatnya.

Siklus stunting. Anak yang lahir dengan BBLR akan menjadi anak yang stunting, kemudian menjadi anak remaja perempunan (kalau ia perempuan) yang malnutrisi dan akan menjadi ibu yang malnutrisi pula sehingga kembali melahirkan anak dengan BBLR. Karena itu kita  perlu memutus rantai tersebut dengan cara memberikan intervensi pada 1000 pertama kehidupan, semenjak dari kandungan sampai bayi lahir.  Menjaga semua hal yang terbaik dan menghindari semua kemungkinan terburuk bagi bayi adalah upaya yang perlu dilakukan oleh ibu sebagai modal dan investasinya.

Dampak jangka pendek signifikan yang akan dialami oleh anak yang stunting adalah perkembangan otak tergangu, perkembangan organ-organ tubuh,  IQ rendah dan daya tahan tubuh menurun. Sedangkanakibat jangka panjangnya dapat produktivitasnya terganggu, memiliki ukuran tubuh yang pendek dan karena program metabolik sudah terganggu sejak bayi maka akan memiliki resiko penyakit degeneratif  seperti dibetes mellitus, jantung dan pembuluh darah, hipertensi, dan kanker. Ia pun  akan menjadi beban negara yang sangat besar dan memiliki resiko kematian yang cepat. Seperti diketahui bahwa penyakit yang paling banyak mengambil porsi pembiayaan BPJS Kesehatan adalah penyakit degeneratif ini.

Prioritas perhatian gizi pada level rumah tangga:

  1. Ibu hamil dan anak kurang dari 2 tahun
  2. Balita dan anak sekolah
  3. Manula
  4. Penderita penyakit tertentu dan penyakit degeratif

Salah satu hal yang sering menjadi masalah pada saat kehamilan adalah kekurangan zat besi dan asam folat, yang mengakibatkan terjadinya anemia. Karena itu pemantauan zat besi dan asam folat pada ibu hamil sangat penting. Sayangnya indikator yang kita pakai untuk memantau adalah indikator anemia. Padahal anemia adalah tahap terakhir dari kekurangan zat besi. Boleh jadi banyak orang yang sudah kekurangan zat besi tapi belum berdampak pada haemoglobinnya sehingga belum terjadi anamia. Karena itu, dr.Tirta Prawita Sari menyarankan agar wanita subur yang ingin hamil, atau berencana ingin hamil jangan lupa atau terlebih dahulu memeriksakan status zat besinya.

Anemia pada ibu hamil dapat mengakibatkan komplikasi kehamilan dan persalinan serta dapat pula mengakibatkan kecacatan pada janin. Karena itu konsumsi tablet tambah darah (TTD) yang berisi zat besi dan asam folat harus dilakukan secara rutin meskipun ibu hamil itu tidak anemia.

Proporsi anemia pada ibu hamil menurut Riskesdas 2018 mengalami peningkatan dari 37,1% (2013) menjadi sebesar 48,9%  (2018). Sekalipun pada data Riskesdas tersebut dikatakan bahwa stunting yang merupakan dampak dari anemia pada ibu hamil angkanya mengalami penurunan.

Berkaitan cakupan TTD pada remaja dan ibu hamil. Remaja puteri yang mendapatkan TTD sebesar 76,2%. Dari yang mendapatkan TTD tersebut, 80,9% didapatkan dari sekolah (program sekolah). Dari 80,9% yang mendapatkan dari sekolah, hanya 1,4% yang minum secara rutin sesuai ketentuan (lebih atau sama dengan 52 butir/pertahun atau 1 butir/minggu).

Bagaimana dengan TTD pada ibu hamil? Perlu diketauhi bahwa ibu hamil itu mendapatkan TTD selama tiga bulan (trimester terakhir kehamilan) sebanyak lebih atau sama dengan 90 butir (1 butir/hari). Ibu hamil yang mendapatkan TTD sebesar 73,2 %. Dari 73,2%  yang mendapatkan TTD tersebut hanya 24% yang mendapatkan TTD yang sesuai ketentuan, yakni lebih atau sama dengan 90 butir (1 butir/hari). Dari yang mendapat 90 butir tadi hanya 38,1% yang mengonsumsi penuh/rutin setiap hari sebanyak lebih atau sama dengan 90 butir.

Apa yang harus dikerjakan? Ibu hamil perlu mendapatkan gizi yang optimal. Optimal artinya jumlah disesuaikan dengan kebutuhan (usia, jenis kelamin, aktivitas fisik), jenis yang adekuat. Gizi optimal meliputi: Cukup energi (karbohidrat dan lemak); Cukup protein (hewani dan nabati) dan; Cukup vitamin dan mineral. Ukurannya bagaimana? Perhatikan piring makan sekali makan. Jenis dan warna menjadi indikator sederhana ketersediaan zat gizi dan selanjutnya perhatikan pula jumlah yang menjadi penentu adekuatnya. Ibu hamil dan ibu menyusui membutuhkan tambahan energy 180-600 kkal serta 20 gram ekstra protein perhari agar kebutuhan zat gizi janin dan bayi terpenuhi.

Pertanyaan yang sering muncul, apakah kita butuh suplemen? Kembali perhatikan variasi warna (lima warna) pada piring makan Anda, bila sudah cukup berati itu sudah adekuat.

Berikut ini panduan suplemntasi FE pada ibu hamil menurut kemenkes 2015

  1. Non anemia 90 tablet @60 gram saat hamil dan 90 tablet tablet post partum
  2. Anemia 2 tablet @60 gram selama 30 hari dan dilanjutkan 1 tablet @60 gram selama 3 bulan

Selanjutnya anak telah lahir. Selama usia 0-6 bulan wajib diberikan ASI (ASI ekslusif). Namun, setelah mencapai usia enam bulan, ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan bayi untuk tumbuh optimal. Karena itu makanan pendamping ASI (MP. ASI) yang adekuat wajib diberikan untuk mengatasi nutrient gap yang ada. Setiap anak yang mendapatkan ASI sebanyak 550 ml setiap harinya berpotensi besar megalami kekurangan energy, protein, zat besi dan vitamin A bila tidak mendapatkan MP. ASI yang adekuat.

Ada tujuh bahan pangan yang harus ada dalam MP ASI yaitu : makanan pokok (padi-padian, beras, umbi-umbian atau sagu), produk susu/yougur/keju, telur, kacang-kacangan, makanan berdaging (sapi atau ikan), bahan makanan yang mengandung vitamin A, zat besi dan energi, serta sayur dan buah-buahan.

Bahan pangan yang wajib ada dalam MP ASI adalah makanan berdaging (sapi atau ikan); Makanan yang mengandung vitamin A, zat besi, dan energi; Makanan pokok (padi-padian, beras, umbi-umbian atau sagu) serta; Sayur dan buah-buahan.

Asupan zat gizi yang adekuat akan memperbaiki status gizi bayi dan anak, dan selanjutnya akan menurunkan mortalitas.

 

Dinuriza Lauzi, M.Psi

(Psikolog, Penulis dan Konten Kreator)

Ketika berbicara 1000 hari pertama pada bayi maka memang kita tidak bisa fokus kepada si bayinya saja, karena bayi 0-2 tahun itu sangat bergantung dengan ibu. Karena ibu adalah figur utama yang menjadi sumber kebergantungan bayi pada periode awal pertumbuhan dan perkembangannya. Ibu dan bayinya adalah satu paket. Maka memperhatikan kondisi mental ibu menjadi penting seiring kondisi asupan mental pada bayi usia 0-2 tahun.

Pada periode awal bayi khususnya usia 0-5 bulan, ibu adalah penyedia asupan gizi utama bagi bayi melalui asi eksklusif sebelum adanya MPASI. Ibu yang memiliki kondisi psikologis yang bahagia dan positif akan mudah memberikan asupan mental yang positif terhadap bayinya. Bayi akan merasakan kasih sayang ibu, penerimaan juga kedekatan emosional yang terbangun melalui aliran ASI.

Untuk mendapatkan kondisi psikologis ibu yang positif maka kita runut ke belakang sejak  masa kehamilan. Karena proses psikologis seorang ibu terhadap bayinya sudah dimulai sejak ibu pertama kali melihat hasil tes pack. Perasaan bahagia ibu yang melihat 2 strip hasil tes pack, kemudian disusul dengan perjalanan kondisi kehamilan mulai dari trimester pertama hingga trimester akhir akan menjadi dasar bagaimana kondisi psikologis ibu saat melahirkan bayinya. Tiap trimester kehamilan pun ibu akan mengalami perasaan yang berbeda-beda. Bisa saja kondisi psikologis yang dialami ibu di trimester pertama akan menetap atau muncul kembali di trimester akhir. Karena kondisi psikologis tidak bisa runtut prosesnya seperti tahapan trimester kehamilan.

Perasaan yang berkecamuk antara bahagia, cemas, khawatir, takut, senang dan sebagainya akan dirasakan ibu selama proses hamil dan diawal kelahiran bayinya. Hal ini khususnya bila ibu baru pertama kali punya pengalaman memiliki anak.

Sehingga kalau kita ikuti kondisi psikologi si ibu hingga hari kelahiran disitulah 1000 hari pertama kehidupan si bayi dilihat. Disitu akan dilihat bagaimana pola pengasuhan, pola pendidikan kepada si bayi tersebut.

Asupan mental pada bayi 0-2 tahun sangat penting, karena kita sedang berbicara tentang manusia dimana manusia memiliki konsep-konsep yang sangat dinamis dan kompherensif yang tidak hanya terdapat aspek fisik saja tapi juga ada aspek mental psikologis yang masuk ke perkembangan seorang anak atau seorang individu.

1000 hari pertama pada kehidupan anak dimulai sejak usia 0-2 tahun adalah masa-masa kita menanamkan pondasi dasar pembentukan karakter.

Pada fase inilah bayi belajar untuk menguasai aspek-aspek fundamental perilaku yang akan berlanjut ke fase selanjutnya dalam tumbuh kembang anak tersebut. Disini bayi mulai belajar untuk adaptasi, pengendalian juga disiplin. Tiga aspek dasar yang secara signifikan memberikan pondasi pembentukan kepribadian anak di masa yang akan datang di fase perkembangan selanjutnya.

Demikian rangkuman serial diskusi Hari Anak Nasional Pekan I, semoga bermanfaat. Bilang ingin mengetahui lebih lanjut silakan buka www.sadargizi.com atau menghubungi narasumber kami.

 

Billahit taufik walhidayah.

Salam Sehat Indonesia.