Indonesia Masih Kekurangan Dokter

Indonesia Masih Kekurangan Dokter

19 October 2017 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


dokter 4

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) menyatakan kebutuhan dokter di Tanah Air masih kurang. Pasalnya, setiap tahun kebutuhan dokter mencapai 1.980 orang per tahunnya.
“Kami sudah menghitung berapa kebutuhan tenaga dokter, diperkirakan kita akan kekurangan hingga 25.740 pada 2030 atau kekurangan setiap tahunnya,” ujar Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti, Ali Ghufron Mukti di Jakarta seperti dikutip Antara,belum lama ini.

Seandainya setiap tahunnya, lanjut dia, bisa menghasilkan 8.000 dokter maka kekurangan dokter tersebut bisa diatasi. Dia menjelaskan kekurangan dokter banyak terjadi di luar Jawa.

“Untuk menghasilkan dokter, tidak hanya masalah produksi sarjana, tetapi juga kualitas, etika profesi, penempatan, dan keberlangsungan,” ucap dia.

Untuk menghasilkan dokter memerlukan setidaknya waktu enam tahun, karena harus menunggu banyak hal, termasuk uji kompetensi. Masa kuliahnya saja, ia menyebut membutuhkan waktu empat tahun.

“Ini yang kita dorong. Kalau ada program studi harus bisa menjaga mutu, sarana prasarana harus cukup dan dosen harus jauh lebih banyak dari pada prodi lain,” imbuh dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Kelembagaan Kemristekdikti, Patdono Suwignjo menjelaskan, Kemristekdikti mencabut moratorium prodi kedokteran yang sudah berlaku sejak Juni 2016. Namun, izin penyelenggaraan prodi kedokteran itu hanya diberikan untuk daerah tertentu yang belum memiliki fakultas kedokteran.

“Program studi kedokteran akan diberikan kepada daerah-daerah yang sampai sekarang belum ada prodi kedokteran seperti Banten dan Gorontalo,” kata Patdono.

Patdono memberi contoh, Banten yang berada tak jauh dari Jakarta, kondisi kesehatan di daerah tersebut sangat genting. Kemudian, untuk memenuhi izin penyelenggaraan program studi yakni dosennya minimal 26 orang dan juga memiliki rumah sakit pendidikan atau bekerja sama.

“Jika syarat-syarat tersebut dilengkapi, maka akan diberi izin,” jelas Patdono. Pembukaan prodi baru tersebut, lanjut dia, dimulai sejak awal September dan akan ditutup pada 17 September.

Sumber : metronews.com