Indonesia Masih Sangat Kurang Dokter Spesialis Orthopedi dan Trauma (SpOT)

Indonesia Masih Sangat Kurang Dokter Spesialis Orthopedi dan Trauma (SpOT)

20 September 2013 | Posted in Berita, berita-lengkap, Internasional


Indonesia Masih Sangat Kurang Dokter Spesialis Orthopedi dan Trauma (SpOT)

kneeIndonesia masih sangat kekurangan dokter spesialis Orthopedi dan Trauma (SpOT) . Padahal Kebutuhan spesialis bedah tulang terus meningkat. Tidak hanya masyarakat umum tetapi juga atlet. Hal itu dibenarkan anggota senior The Indonesian Othopaedic Association  (IOA) sekaligus Founding Chairman Indonesian Hip & Knee Society (IHKS) Dr. Nicolaas C Budhiparama Jr. FICS, SpOT (K) saat ini saja Indonesia hanya memiliki 600-an dokter orthopedic. Tidak hanya kurang penyebarannya juga belum merata, akunya saat pembukaan 3rd Annual Scientific Meeting of Indonesian Hip & Knee Society (IHKS) di Jakarta belum lama ini.

Dari 600 dokter itu tidak lebih dari 100 orang yang sekaligus dokter spesialis lutut dan panggul. Padahal banyak kasus cedera, baik itu aktivitas sehari-hari, faktor usia, kecelakaan lalu lintas, dan aktivitas olah raga yang membutuhkan perawatan khusus pada bagian lutut dan panggul.

Menurut sejumlah penelitian idealnya satu dokter spesialis bedah tulang di Indonesia 500 ribu penduduk. Tapi kenyataannya satu dokter spesialis bedah tulang di Indonesia rata-rata menangani lebih dari 1 juta penduduk.

Nico menambahkan, jumlah pasien cedera tulang di Indonesia cukup tinggi. Sebanyak 60 persen Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit di Indonesia adalah patah tulang. Apalagi Indonesia rentan terhadap bencana alam, seperti gempa dan longsor yang rentan sekali menambah jumlah pasien cedera tulang dan trauma.

Maka itu lewat IHKS pihaknya ingin membuka peluang kepada dokter spesialis bedah tulang di Indonesia untuk mengambil spesialis lutut dan panggul “Melalui program Fellowship, kami akan membuka pintu seluas-luasnya kepada teman sejawat untuk bisa menempuh pendidikan lanjutan di bedah tulang lutut dan panggul,” papar Nico.

Ditambahkan oleh Dr. Edi Mustamsir, PhD selaku Ketua Panitia IHKS ke-3 ini, kesempatan pendidikan lanjutan kepada dokter spesialis bedah tulang, selain untuk menambah jumlah dokter spesialis lutut dan panggul, juga untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. “Ini  supaya pasien kita tidak pelu lagi melakukan treatment atau surgery (operasi) di luar negeri. Karena dokter di Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan dokter spesialis yang ada di luar negeri,” ujarnya.

Pertemuan IHKS ke-3 kali ini, berhasil mengundang 50 pakar top dunia di bidang Hip dan Knee dari 15 negara Amerika, Eropa dan Asia, dan tentu saja didukung oleh para pakar dalam negeri. Para pakar ini tidak hanya sekedar leading expert di bidang Hip and Knee dan Sports Medicine, tetapi juga sudah menjadi The World’s Legend (Legenda Dunia).

Pertemuan ini berlangsung selama 4 hari dan dibahas berbagai aspek Hip, Knee dan juga Sport Medicine yang mencakup penanganan sehari-hari sampai penemuan-penemuan terbaru dan tercanggih seperti Robotic Surgery.

Kegiatan IHKS ini juga diikuti oleh hamper 700 peserta dokter bedah orthopedic dan spesialis lainnya. Sudah menjadi komitmen sejak awal bahwa iHKS akan terus melakukan berbagai usaha untuk melatih para dokter bedah othopedi dan terus mengembangkan ilmu bedah othopedi khususnya dalam berbagai permasalahan lutut, panggul dan cedera olah raga.