Ivermectin, Obat Ajaib Hewan dan Manusia Peraih Nobel Kedokteran 2015

Ivermectin, Obat Ajaib Hewan dan Manusia Peraih Nobel Kedokteran 2015

20 October 2015 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


nobel-kedokteran

Guru Besar Universitas Kitasato, Jepang, Satoshi Omura, dan peneliti pensiunan Universitas Drew, New Jersey, Amerika Serikat, William C Campbell, memenangi hadiah Nobel Fisiologi/ Kedokteran 2015. Mereka dinilai berjasa menemukan dan bekerja sama mengembangkan obat ivermectin.

Ivermectin selama ini dikenal sebagai “obat ajaib” setelah penemuan obat ajaib sebelumnya seperti penisilin dan aspirin. Ivermectin disebut obat ajaib dan menjadi pionir karena dapat membunuh cacing nematoda dan hewan berbuku-buku artropoda baik di dalam tubuh maupun di luar tubuh hewan dan manusia.

Ivermectin sudah berumur 45 tahun. Pada tahun 1970-an awal, Institut Kitasato bekerja sama dengan perusahaan AS Merck, Sharp and Dohme (MSD), meneliti organisme yang diambil dari tanah untuk diuji di laboratorium. Peneliti ingin mengetahui bioaktivitasnya. Organisme itu hanya ditemukan di tanah di Jepang (Sathosi Omura dan Andy Crump: Ivermectin, ‘Wonder Drug’ from Japan: The Human Use Perspective, dalam http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3043740/).

Karena ada potensi bioaktivitas, sampel tersebut dibawa ke laboratorium MSD untuk diteliti lebih jauh. Hasilnya, ditemukan zat bioaktif yang dinamakan avermectin. Dari avermectin, peneliti membuat turunan kimiawi yang dinamai ivermectin.

Ivermectin merupakan zat macro-cyclic lactone yang ampuh melumpuhkan nematoda dan artropoda melalui jalan masuk ion klorida menembus membran sel. Penelitian sedang dilakukan untuk mengetahui apakah ivermectin dapat membunuh nematoda dan artropoda dewasa ( http://jac.oxfordjournals.org/content/34/2/195.abstract).

Tahun 1981, ivermectin diproduksi secara komersial untuk kebutuhan hewan. Ivermectin terbukti efektif untuk membunuh parasit, seperti cacing gelang usus, cacing paru-paru, caplak, kutu, tungau, dan lalat tanduk. Parasit tersebut umumnya menyerang hewan.

Ivermectin juga dapat membunuh caplak Rhipicephalus (Boophilus) microplus yang menyebabkan kerugian ekonomi pada peternakan sapi. Sebagai contoh, serangan caplak pada 80 persen populasi sapi di Brasil menyebabkan kerugian 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 27 triliun per tahun.

Di dunia praktik dokter hewan, ivermectin, dengan berbagai nama merek dagang, dipakai untuk kasus cacingan dan kudis karena tungau (Sarcoptes scabiei) pada hewan. Sekarang, dokter hewan lebih mudah mengobati hewan, baik hewan ternak maupun hewan kesayangan, agar terhindar dari serangan parasit.

Pada manusia, penggunaan ivermectin pertama kali dicoba tahun 1988 untuk membunuh cacing gelang Onchocerca volvulus yang menyebabkan penyakit onchocerciasis atau kebutaan sungai. Penyakit kebutaan sungai ini ditularkan oleh lalat hitam dari genus Semulium sp yang berkembang biak di sekitar sungai. Kebutaan terjadi karena mikrofilaria dari cacing tersebut berada di mata penderita.

Pada tahun 1970-an, onchocerciasis menjadi penyakit endemik di 34 negara, dengan rincian 27 negara di Benua Afrika, 6 negara di Benua Amerika, dan 1 negara di Semenanjung Arab. Pada tahun 1973, Kepala Bank Dunia Robert McNamara menyatakan onchocerciasis sebagai penyakit penting yang perlu diperangi karena mempunyai dampak sosio-ekonomis yang besar.

Sejak ditemukannya ivermectin, tahun 1987, obat tersebut diproduksi besar-besaran untuk memberantas onchocerciasis. Selain itu, upaya memberantas lalat hitam juga dilakukan. Namun, dalam laporan terakhirnya, Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan 17,7 juta orang masih menderita penyakit onchocerciasis. Sebanyak 270.000 orang di antaranya buta dan 500.000 orang penglihatannya berkurang.

Kaki gajah

Selain onchocerciasis, ivermectin digunakan untuk membunuh parasit cacing mikrofilaria, seperti Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, atau Brugia timori, yang menyebabkan penyakit filariasis atau kaki gajah pada manusia. Sebanyak 70 persen kasus kaki gajah di Indonesia disebabkan oleh Brugia malayi.

Di Indonesia, ada 241 dari 511 kabupaten/kota endemis penyakit kaki gajah (Kompas, 2/10). Menteri Kesehatan Nila Djuwita Anfasa Moeloek mengatakan, sejak 40 tahun lalu, upaya eliminasi kaki gajah telah dilakukan. Persentase yang terinfeksi kaki gajah turun drastis dari 19,6 persen pada 1970 menjadi 4,7 persen pada 2014.

Karena kasusnya belum tuntas, Presiden Joko Widodo mencanangkan Bulan Eliminasi Kaki Gajah di Lapangan Tegar Beriman, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 1 Oktober 2015.

Program eliminasi dilakukan dengan pemberian obat setahun sekali selama lima tahun berturut-turut untuk mencegah penularan. Selain itu, bagi penderita, minum obat juga mematikan mikrofilaria dalam tubuh.

Di Indonesia, obat yang dipakai oleh Kementerian Kesehatan adalahdiethil calbanasin citrate yang dikombinasikan dengan obat cacing albendazole. Namun, di negara lain obat yang dipakai adalah albendazole yang dikombinasikan dengan ivermectin.

Selain jadi beban kesehatan, kaki gajah menimbulkan beban ekonomi bagi pasien dan orang yang merawatnya. Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kementerian Kesehatan Vensya Sitohang memaparkan, menurut perhitungan tahun 2000, kerugian ekonomi seorang pasien kaki gajah pada 2015 mencapai Rp 2,7 juta per tahun. Porsi kerugian terbesar adalah hilangnya waktu produktif penderita dan orang yang merawatnya.

Kini, selain untuk onchocerciasis dan kaki gajah, ivermectin juga dipakai untuk mengobati sejumlah penyakit parasit pada manusia, seperti strongyloidiasis, kudis, pediculosis, gnathostomiasis, dan myiasis.

Strongyloidiasis adalah penyakit cacing yang disebabkan oleh cacing gelang Strongyloides stercoralis yang menginfeksi sekitar 35 juta orang per tahun. Kudis atau scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan tungau Sarcoptes scabiei var hominis yang menjangkiti 300 juta orang per tahun. Pediculosis adalah penyakit kulit karena kutu rambut Pediculus humanus. Gnathostomiasis adalah penyakit cacing yang disebabkan oleh cacing Gnathostoma spinigerum. Myiasis adalah penyakit kulit karena larva lalat tumbuh di kulit.

Dengan dampak positif yang besar di dunia dari ditemukannya ivermectin tersebut, Satoshi Omura dan William C Campbell memang layak mendapat Hadiah Nobel.

Sumber : Kompas.com