Ketua Umum PB IDI Menghadiri Dies Natalis FKUI 2017

February 10, 2017 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


DSC_0054 edit

Produksi dokter7000 sampai 8000 pertahun , kebutuhan Rasio 40 Dokter per seratus ribu penduduk telah tercapai saat ini. Masalah yang dihadapi adalah distribusi dokter yang tidak merata di Indonesia diperlukan regulasi-regulasi.

Untuk meningkatkan mutu dokter Indonesia dan untuk menjawab dan untuk menjawab kebutuhan dokter di era Universal Health Coverage dan MEA, perlu dilakukan regulasi-regulasi bahkan diperlukan perubahan skema skema pendidikan dokter dan Undang-undang Pendidikan Kedokteran.

Demikian dikatakan Ketua Umum PB IDI – Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG dalam acara perayaan Dies Natalis ke-67 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), FKUI melalui Ikatan Alumni FKUI 1992 menyelenggarakan Diskusi Panel “Peran Profesi Kedokteran di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA): Where Are We Now ? pada (8/2) yang bertempat di Aula FKUI Jl. Salemba Raya No. 6 Jakarta Pusat.

Sebagai narasumbar utama dalam diskusi tersebut Menteri Kesehatan RI dalam hal ini diwakili oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Kesehatan, Usman Sumantri yang membawakan materi berjudul “Sistem Kesehatan Indonesia di Era MEA.”

Tema utama yang diangkat adalah tentang kompetensi profesi kedokteran dalam era MEA. Ia mengatakan bahwa tenaga kerja kedokteran Indonesia harus dapat bersaing dalam segi kualitas dengan tenaga dokter dari negara ASEAN lainnya.

Pemerintah, menurutnya telah mendukung hal ini dengan cara melakukan uji kompetensi izin bekerja bagi para dokter serta regulasi berupa kewajiban pendampingan dokter dalam negeri bagi tenaga dokter asing yang bekerja di Indonesia.

Menurut Usman, potensi permasalahan yang terjadi tidak hanya karena kompetisi kualitas tenaga kerja antarnegara, tetapi juga kekhawatiran akan banyaknya dokter di Indonesia yang malah bekerja di luar negeri.

“Yang kita takut kalau dokter spesialis kita ke luar negeri. Padahal kita juga butuh. Banyak daerah yang belum ada dokter spesialis, pemerataan dokter di daerah juga masih menjadi momok tersendiri,” tuturnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan para dokter untuk senantiasa perlu memperbarui pengetahuan dan keterampilannya secara berkala.

“Dunia ini dinamis, jangan cepat puas dengan pengetahuan dan kemampuan yang sudah kita miliki sekarang, agar kita bisa tetap beradaptasi dengan perkembangan dunia,” ungkapnya.