Launching Aplikasi IDI Kerjasama dengan Docquity

Launching Aplikasi IDI Kerjasama dengan Docquity

29 November 2016 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


DSC_0022 editDSC_0029 edit

Saat ini tercatat 135 ribu dokter anggota IDI yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Keberadaan dokter-dokter tersebut ada yang bertugas di perkotaan dan pedesaan yang tergolong kepada daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan (DTPK). Keberadaan dokter di DTPK memiliki catatan akan hambatan dan kendala dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Demikian dikatakan Dr. Ulul Albab, SpOG yang mewakili Ketua Umum PB IDI dalam sambutannya pada acara Press Counference Launching Aplikasi IDI Kerjasama dengan Docuity pada hari ini (29/11) yang bertempat di Sekretariat PB IDI Jalan Samratulangi 29 Jakarta.

Dr.  Ulul menambahkan, bahwa dalam pelayanannya kepada masyarakat, dokter diwajibkan untuk terus memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran terkini. Kewajiban untuk tetap mempernaharui pengetahuan dan keterampilan juga menjadi syarat bagi setiap dokter untuk mendapatkan sertifikasi dari kolegium dan diregistrasi kembali di Konsil Kedokteran Indonesia setiap 5 (lima) tahun sekali.

Sementara itu Dr. Mahesa Paranadipa, MH Bidang Keorganisasian dan Informasi Kelembagaan PB IDI mengatakan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi bagi dokter yang diakui berdasarkan Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran mempunyai peran dan tanggung jawab untuk memfasilitasi anggotanya agar tetap menjaga kompetensinya. IDI juga harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar fasilitasi tersebut dapat menjangkau seluruh anggotanya.

Saat ini, jelas Mahesa, penggunaan alat komunikasi berupa smartphone atau perangkat elektronik lainnya yang terhubung dengan jaringan internet telah berkembang sangat pesat di Indonesia. Berdasarkan survey dr UC Browser tahun 2015, penggunaan smartphone mencapai angka 95% di masyarakat. Kondisi ini tentunya harus dimanfaatkan IDI untuk dapat memfasilitasi anggotanya. Namun dengan adanya kendala akses jaringan internet di beberapa daerah terutama di DTPK, mendorong IDI untuk mencari bentuk failitas yang juga dapat dimanfaatkan oleh anggota IDI di daerah tersebut.

Selain itu, Amit Vithal dari CEO Doquity mengatakan bahwa Docquity adalah sebuah aplikasi berbasis mobile apps adalah salah satu solusi yang saat ini didorong IDI untuk dapat dimanfaatkan oleh anggota. Docquity memberikan tiga fitur utama yaitu CME online (memberikan informasi ilmiah kedokteran terbaru serta melakukan evaluasi diri), professional networks (memberikan ruang komunikasi antar dokter untuk mempererat hubungan kesejawatan dan berbagai informasi), dan telekonsultasi antar dokter (memberikan dukungan konsultasi jarak jauh hanya antar dokter).

Untuk saat ini fitur CME Online dan Professional Networks, kata Mahesa, yang dihadirkan bagi anggota dengan tujuan mempercepat penyebaran informasi ilmiah kedokteran terbaru. Selain itu, fitur CME Online juga dapat dimanfaatkan bagi anggota IDI untuk mengumpulkan Satuan Kredit Profesi (SKP) yang menjadi syarat untuk sertifikasi ulang (resertifikasi).

Keunggulan Docquity adalah aplikasi ini dapat tetap digunakan meski tidak ada jaringan internet yang terhubung ke perangkat elektronik. Sehingga anggota IDI yang beredar di DTPK dapat tetap bisa membaca artikel-artikel ilmiah yang sebelumnya telah ter-dowload, untuk kemudian dapat juga mengikuti uji diri.

“Seluruh penggunaan aplikasi ini di gratiskan untuk seluruh anggota IDI, dan saat ini aplikasi dapat di download di Apple Store maupun di Play Store,” ujar Dr. Mahesa.