Medical Association South East Asia Nation ke-17: Meeting, Seminar dan Workshop

3 May 2017 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


DSC01288 (1) edit 2

Medical Association of South East Asian Nations (MASEAN) diresmikan pada tahun 1980 di Penang, Malaysia. Tujuan dibentuknya organisasi yang beranggotakan asosiasi kedokteran negara-negara di Asia Tenggara ini adalah untuk menyediakan wadah bagi profesi medis untuk dapat bertukar pandangan, informasi dan sumber daya untuk mencapai tingkat kesehatan tertinggi bagi masyarakat di wilayah ini dan dalam menegakkan citra dan martabat profesi medis. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, diselenggarakanlah pertemuan rutin para anggota MASEAN bertempat di salah satu negara-negara anggotanya.

Malaysia mendapat giliran menjadi tuan ruah pertemuan MASEAN ke-17 pada tanggal 25-27 April 2017. Pertemuan ini diadakan di Hotel Park Royal Kuala Lumpur dihadiri oleh perwakilan setiap negara yaitu Malaysia, Singapura, Myanmar, Vietnam, Thailand, Filipina, serta Indonesia. Sedangkan perwakilan Laos, Kamboja dan Brunei absen pada pertemuan kali ini.

Acara ini dibuka oleh sambutan dari Prof. Lekhraj Rampal, editor Medical Journal of Malaysia sekaligus anggota Malaysian Medical Association, menjelaskan bahwa salah satu tujuan diselenggarakannya acara kali ini adalah untuk meningkatkan kredibilitas para dokter dalam menulis dan untuk meningkatkan citasi.

Tidak hanya berupa pertemuan dari asosiasi dokter negara-negara di Asia Tenggara, acara ini juga turut menghadirkan rangkaian workshop yang bertemakan penulisan dan publikasi jurnal. Acara yang dihadiri oleh berbagai penulis, reviewer dan editor ini mengundang pembicara-pembicara dari beberapa negara yang tulisannya sudah dipublikasi di jurnal-jurnal medis bereputasi, seperti Pubmed dan Elsevier.

Prof. Dr. Wilfred Peh Chin Guan, salah satu editor dari Asia Pasific Association of Medical Journal (APAME), berpendapat bahwa menulis merupakan hal yang sangat penting, meskipun tidak semua orang memiliki kualifikasi untuk menulis. Untuk beberapa situasi tertentu, tenaga medis dituntut untuk dapat menulis sebagai konsekuensi pekerjaan atau pun untuk meningkatkan kualifikasi mereka.

DSC01212 edit

Selanjutnya Beliau menjelaskan bahwa dalam jurnal-jurnal ilmiah, ada yang berperan sebagai penulis namun ada pula yang berperan sebagai kolaborator saja. Penulisan nama kolaborator sendiri ditempatkan di tempat khusus pada jurnal, tidak bersamaan dengan penulisan nama penulis yang umumnya diletakkan di bawah judul. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi agar nama seseorang dapat dimasukkan ke dalam deretan nama penulis jurnal penelitian. Keterlibatan seseorang dalam perumusan konsep dan metode studi yang dilakukan adalah salah satu pertimbangannya.

Isu lain yang sering terjadi pada penulis yaitu terkait plagiat. Penulis juga harus waspada pada adanya self-plagiarism, di mana penulis tidak menyebutkan di mana sebelumnya ia pernah menyatakan pendapat yang sama.

Terkait adanya penulisan nama di bagian penulis jurnal, yang tidak seharusnya ditempatkan sebagai penulis, biasanya dikarenakan adanya budaya senioritas atau pun sebagai penghormatan kepada seseorang, seperti untuk dosen pembimbing, tidak diperkenankan. Menurut Prof. Jose F. Lapeña dari Phililipine Medical Association, jika ingin memasukkan nama seseorang ke dalam tim penulis jurnal, sebaiknya orang tersebut turut dilibatkan dalam studi tersebut, seperti turut merumuskan konsep atau pun metode atau pun.

Cara penulisan nama penulis sendiri juga berbeda-beda. Umumnya, terdapat kesulitan dalam menuliskan nama-nama penulis Asia, yang penulisan namanya lebih bervariasi dari penulis barat. Misalnya saja mengenai penulisan nama keluarga. Pada orang barat, nama keluarga atau nama belakang umumnya terletak di belakang, setelah nama panggilan. Sementara, di Asia, seperti pada orang Korea atau China, nama keluarga diletakkan di depan, sebelum nama panggilan.

Begitu juga dengan penulisan orang Melayu yang terkadang menuliskan “bin/binti” nama orang tua mereka di belakang namanya. Belum lagi adanya kemiripan nama atau nama-nama umum yang sering digunakan di seluruh dunia. Hal tersebut akan menimbulkan kesulitan ketika mencari nama-nama mereka di mesin pencarian. Untuk mengatasi hal tersebut, maka diciptakan sistem ORCID, yaitu sebuah sistem pengenal yang membedakan setiap peneliti yang mempublikasikan tulisan-tulisan mereka. Setiap penulis akan memiliki nomor DOI yang akan dimunculkan pada jurnal yang ditulisnya, sehingga memudahkan identifikasi penulis dan pencarian tulisan peneliti.

Salah satu yang dibahas mengenai kualitas suatu jurnal. Secara internasional, umumnya penilaian tersebut menggunakan nilai impact factor. Namun, Prof. Wilfred berpendapat, tidaklah baik membandingkan jurnal dengan menggunakan impact factor. Hal ini dikarenakan penilaian impact factor tergantung kepada banyaknya orang yang mensitasi tulisan di jurnal tersebut, banyaknya penulis yang memasukkan tulisannya ke jurnal tersebut, reviewer dan lain sebagainya. Untuk beberapa bidang keilmuan yang tidak terlalu banyak orang yang tertarik atau paham, maka jurnalnya tentu tidak memiliki impact factor setinggi bidang keilmuan yang lebih populer. Prof. Jose F. Lapeña juga berpendapat sama, Ia bahkan beranggapan bahwa apa yang ditemukan atau dampak yang diberikan suatu studi lebih penting dari impact factor.

Penulis sering kali merasa takut pada reviewer. Bahkan tidak sedikit yang mengistilahkan para reviewer sebagai monster. Metode meninjau sendiri terdiri dari beberapa cara, ada double blind, dimana baik reviewer dan penulis tidak saling mengetahui identitas masing-masing, terdapat pula metode one blind yaitu reviewer mengetahui identitas penulis, namun tidak demikian dengan penulis. Mereka justru tidak mengetahui siapa reviewer yang akan meninjau tulisan mereka. Prosedur tersebut dilakukan agar tidak terjadi konflik kepentingan (conflict of interest).

Prof. Wilfred menyatakan bahwa profesi reviewer sendiri sebenarnya tidak untuk mencari materi, karena perbandingan materi yang diberi dan waktu, tenaga atau pun usaha untuk meninjau suatu jurnal tidaklah sebanding. Namun terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh reviewer yang justru lebih penting, seperti proses atau pengalaman belajar yang diperoleh, karena reviewer dapat melihat pendapat reviewer lain dan mempelajari kekurangan-kekurangan dari suatu tulisan. Beberapa jurnal bahkan memberikan potongan harga bagi reviewer jurnalnya, jika mereka ingin mempublikasikan karya ilmiah mereka, atau akses gratis ke jurnal tersebut.

Jurnal medis yang perkembangannya terlihat baik di Asis ialah Korean Medical Journal. Sebelumnya prediakt jurnal ini dapat dikategorikan tidak terlalu baik pada tingkat internasional, sama seperti jurnal kedokteran lain di Asia. Namun, beberapa tahun belakangan, jurnal ini melakukan beberapa perubahan, seperti semakin banyaknya penulis yang mensitasi artikel-artikel ilmiah yang dipublikasi jurnal ini sehingga peringkatnya pun semakin menanjak. Mereka juga melakukan perubahan pada design cover dan pada halaman artikel penelitian.

DSC01150 edit

Kegiatan selanjutnya adalah MASEAN Mid Term Meeting ke-17, di mana asosiasi kedokteran dari masing-masing negara menyampaikan masalah atau tantangan, serta situasi terkini kesehatan di negaranya. Indonesia diwakili oleh Dr. Ihsan Oetama, Sp.OG, ketua Bidang  Hubungan   Internasional, Kajian Mea Dan  Globalisasi Ikatan Dokter Indonesia, menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi double burden masalah kesehatan, yaitu penyakit menular yang belum teratasi dan penderita baru penyakit tidak menular yang bermunculan. Luasnya wilayah Indonesia dan belum meratanya persebaran penduduk dan dokter merupakan hambatan yang dihadapi oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Perwakilan negara-negara lain, secara umum menyampaikan mengenai program-program yang diusung oleh asosiasi kedokteran mereka, untuk meningkatkan derajat kesehatan, sekaligus memberdayakan dan meningkatkan kredibilitas profesi medis. Selain tantangan masalah kesehatan, organisasi-organisasi tersebut juga mendapatkan tantangan berupa semakin banyaknya lulusan kedokteran yang belum memiliki karir profesional baik pada sektor pemerintah maupun privat.

Scientific symposium pada acara ini mengusung tema “eHealth – The Way Forward”. Pada sesi ini setiap perwakilan negara memaparkan mengenai situasi dan kondisi penggunaan teknologi informasi terkait pelayanan kesehatan. dr. Seno Purnomo sebagai perwakilan dari Ikatan Dokter Indonesia menyampaikan mengenai perkembangan terkini penggunaan teknologi dalam meningkatkan profesionalisme dokter. Termasuk sistem informasi kesehatan serta publikasi ilmiah. Ikatan Dokter Indonesia juga sudah meluncurkan aplikasi online yang memudahkan para dokter untuk bertukar informasi.

DSC01252 edit

Beberapa negara sudah melakukan berbagai usaha dalam hal ini, seperti diluncurkannya aplikasi kesehatan. Fitur aplikasi ini berupa publikasi informasi kesehatan, penelitian kesehatan, sistem informasi pelayanan kesehatan, rekam medis yang berbasis Electronic Medical Record (EMR), kesehatan reproduksi, bahkan telemedicine, yaitu fitur yang memungkinkan pasien dan dokter berobat dan berkonsultasi jarak jauh menggunakan kecanggihan teknologi. Aplikasi ini sangat berguna terutama dalam situasi kegawatdaruratan. Software ini juga dapat digunakan oleh para dokter untuk mengakses data medis, meskipun masih ada perdebatan mengenai etika fitur ini.

Perwakilan dari Thailand, Prof. Saranatra Waikakul, menyebutkan bahwa tujuan dari aplikasi ini adalah untuk melayani pasien sebaik mungkin dan meminimalisir waktu. Prinsip penggunaan aplikasi ini yaitu aman, efektif, terpusat pada pasien, tepat waktu, efisien dan adil. Adapun hambatan yang umum terjadi pada penerapan sistem aplikasi ini adalah teknologi sistem informasi yang tidak mendukung, kurangnya pengetahuan masyarakat, biaya yang besar, akses sinyal yang tidak dapat ditemukan pada beberapa daerah, serta permasalahan etika terkait akses data pasien.

Beberapa negara menghadapi masalah yang sama, di mana negara tersebut menghasilkan banyak dokter-dokter muda, seperti Malaysia dan Singapura. Untuk mengatasi masalah tersebut, Singapore Medical Association melakukan pendekatan sedini mungkin dengan tiga institusi pendidikan dokter di Singapura. Asosisasi ini sering melakukan kegiatan di kampus-kampus tersebut, bahkan menawarkan keanggotaan gratis pada mahasiswa kedokteran di sana. Dengan bergabungnya mahasiswa ke dalam asosiasi kedokteran, maka mereka akan lebih dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja sekaligus memungkinkan mereka meningkatkan kredibilitasnya. Pemerintah Singapura juga menerapkan sistem funding untuk para dokter yang belum bekerja, termasuk beasiswa ke luar negeri untuk mahasiswa kedokteran.

Masalah lain yang dihadapi oleh semua negara ASEAN yang hadir adalah masalah pembiayaan. Terdapat negara yang sudah menerapkan Univeral Health Coverage seperti Thailand. Maksudnya, pembiayaan pembiayaan kesehatan ditangani oleh negara, dengan syarat masyarakat berobat ke rumah sakit pemerintah. Pembiayaannya diperoleh dari pajak yang dibayarkan oleh warga negara Thailand. Namun, bukan berarti Thailand tidak memiliki tantangan. Menghadapi masalah yang sama dengan Indonesia, yang memiliki perbandingan dokter dan pasien sangat besar, dokter di Thailand rata-rata memiliki waktu bekerja lebih dari 100 jam seminggu. Medical association of Thailand berusaha untuk menurunkan jam kerja tersebut menjadi 60 jam dalam seminggu pada tahun 2020.

Salah satu isu menarik yang juga diangkat dalam diskusi ini adalah standarisasi pendidikan dokter. Mengingat bahkan di satu negara sekalipun, standarisasi di setiap institusi pendidikan berbeda satu sama lain. Isu ini menjadi krusial mengingat adanya kerjasama negara-negara ASEAN dalam bentuk perdagangan bebas, yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community).  Sehingga diharapkan dokter-dokter dari masing-masing negara ASEAN dapat memiliki kompetensi yang sama, sehingga memudahkan para dokter tersebut untuk bekerja di negara-negara ASEAN, bahkan memenuhi standarisasi Eropa.

Pada pertemuan ini, juga dibahas mengenai rencana untuk membuat jurnal grup MASEAN (MASEAN Group of Journals). Menjadi salah satu jurnal internasional kedokteran terbaik merupakan visi dari jurnal ini. Untuk dapat meraihnya, maka grup jurnal MASEAN akan berupaya untuk meningkatkan kapabilitas dan kualitas melalui kolaborasi dan pengembangan setiap anggotanya.

Grup jurnal ini beranggotakan perwakilan dari jurnal yang diterbitkan oleh asosiasi kedokteran negara-negara ASEAN. Berdasarkan hasil diskusi para delegasi negara anggota, maka terpilihlah Professor Amorn Leelarasamee, kepala editor Journal of the Medical Association of Thailand, sebagai ketua grup jurnal MASEAN dan Professor Lekhraj Rampal, dari Medical Journal of Malaysia, sebagai wakil ketua. Pada kesempatan ini, Ikatan Dokter Indonesia terpilih sebagai bendahara.

DSC01292 edit

Masa kerja kepemimpinan tersebut akan dijalankan selama dua tahun, lalu kemudian akan ditinjau kembali. Perubahan tersebut akan dilaksanakan bersamaan dengan rotasi ketua MASEAN. Namun, hanya perwakilan dari asosiasi kedokteran nasional yang menerbitkan jurnal kedokteran yang memenuhi syarat untuk menjabat sebagai ketua, serta memiliki kemampuan yang mumpuni mengenai penelitian dan proses publikasi.

Masing-masing negara aggota juga berhak mengajukan seseorang untuk menjadi International Advisory Panel (IAP), yang akan membantu mencapai visi dan misi dari grup jurnal MASEAN, seperti memberi nasihat, menyumbang artikel dan sebagai pembicara apabila jurnal MASEAN mengadakan konferensi.  IAP terdiri dari 3-4 orang, tidak harus berasal dari ASEAN dengan masa jabatan dua tahun. Orang yang diajukan tersebut kemudian akan divoting pada forum jurnal grup MASEAN.

Proses review artikel yang akan dipublikasi pada jurnal ini akan distandarisasi oleh anggota. Jika ada jurnal yang ditolak oleh salah satu jurnal, maka jurnal lain di grup jurnal MASEAN dapat mengambilnya. Untuk akses jurnal ini, para anggota sepakat untuk menggunakan sistem open access dan akan ditampilkan di website MASEAN. Penulisan atrikel ditetapkan harus menggunakan Bahasa Inggris.

Dirumuskan bahwa pertemuan untuk jurnal MASEAN akan dilaksanakan sebanyak dua kali dalam setahun. Pertemuan tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada pertemuan MASEAN, yang biasanya diselenggarakan sekitar bulan April dan satunya lagi pada kegiatan non-MASEAN, misalnya pada pertemuan APAME. Direncanakan juga adanya workshop atau seminar untuk penulisan ilmiah. Untuk kepentingan jurnal ini, MASEAN akan bekerja sama dengan reviewer lain dari luar negara ASEAN.

Selanjutnya akan dirancang workshop atau seminar bertemakan penulisan ilmiah yang keuntungannya akan dialokasikan untuk pembiayaan grup jurnal MASEAN. Keuntungan workshop/seminar tersebut akan dibagi sebagian ke MASEAN, namun sebagian besar akan tetap untuk asosiasi kedokteran penyelenggara. Pembicara atau pemberi pelatihan dari anggota MASEAN akan difasilitasi berupa biaya perjalanan dan akomodasi, akan tetapi tidak boleh menerima honorarium.

Pertemuan ini juga menginisiasi pertemuan dokter muda di negara-negara ASEAN pada setiap pertemuan-pertemuan MASEAN selanjutnya. Dokter muda yang dimaksud adalah mereka yang belum lebih dari 10 tahun menyelesaikan pendidikan dokternya. Pertemuan ini ditujukan agar perwakilan dokter muda di negara ASEAN dapat bertemu dan mendiskusikan permasalahan yang mereka hadapi serta memperbincangkan kondisi terkini di masing-masing negara.