PAPDI Gelar Jumpa Pers “Aspek Medik Transplantasi Ginjal “

PAPDI Gelar Jumpa Pers “Aspek Medik Transplantasi Ginjal “

4 February 2016 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


P_20160203_160513

Di Indonesia data yang pasti jumlah Penyakit Ginjal Kronik (PGK) maupun Gagal Ginjal Tahap Akhir (GGTA) belum ada. Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) sedang menyusun Indonesian Renal Registry (IRR). Diperkirakan sebanyak 25.000 pasien baru (100/pmp) per tahun dan 120 ribu (400/pmp) pasien GGTA yang membutuhkan Terapi Penyakit Ginjal (TPG).  Data IRR melaporkan bahwa baru sekitar 12 ribu an (10%) pasien yang mendapat dialisis. Jumlah tersebut saat ini melonjak cepat karena dibiayai oleh BPJS sehingga beban pemerintah untuk biaya dialisis sudah menempati urutan ke-dua terbesar dari 3 jenis penyakit (kanker, ginjal, jantung) yang membutuhkan dana terbesar BPJS. Dialisis harusnya menjadi sarana antara untuk mencapai transplantasi adalah kemajuan ilmu kedokteran dari tadinya mythos telah menjadi realitas.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum PB Pernefri – Dr. Dharmeizar, SpPD, K-GH dalam acara Konferensi Pers PAPDI tentang “Peran Profesi Penyakit Dalam pada Penyakit Ginjal mulai Pencegahan sampai dengan Transplantasi” pada (3/2) di Jakarta.

Sementara itu Dr. Tjetjep DS, SpF, SH dalam paparannya tentang “Aspek Medikolegal Transplantasi Ginjal” mengatakan, bahwa transplantasi organ atau jaringan tubuh dilalukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk dikomersilkan. Organ dan atau jaringan tubuh tidak boleh diperjual belikan.

Pengambilan organ dan atau jaringan tubuh dari seorang donor harus memperhatikan kesehatan pendonor yang bersangkutan dan mendapat persetujuan pendonor dan atau ahli waris atau keluarganya.

Acara diawali dengan sambutan disampaikan oleh Ketua Umum PB PAPDI – Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP dan sebagai moderator Dr. Sally A Nasution, SpPD K-KV, FINASIM, FACP.