PAPDI Gelar Simposium “Waspada Ancaman Sindroma Syok Dengue dan Emerging Virus Zika”

PAPDI Gelar Simposium “Waspada Ancaman Sindroma Syok Dengue dan Emerging Virus Zika”

23 February 2016 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


DSC_8944 edit

Beberapa bulan terakhir ini dunia kesehatan disibukkan dengan adanya infeksi virus Zika. Sejak pertengahan tahun 2015 didapat wabah penyakit Zika di Amerika Selatan, dengan 17 negara melaporkan terdapatnya infeksi virus ini di negaranya. Penyebaran sporadic muncul di beberapa Negara Eropa, Amerika dan Kanada. Beberapa Negara di Asia pun didapatkan terjangkit. Di Indonesia, lembaga Eijkman memperolel bukti infeksi virus Zika pada sampel pasien dengan demam akut yang dikirimkan dari Jambi pada akhir tahun 2014 hingga trimester pertama 2015 yang lalu, dimana 1 dari 103 sampel yang dikirimkan memberikan hasil yang positif. Adapun kewaspadaan terbesar bagi infeksi virus zika adalah pada kejadian mikrosefali pada janin-janin yang dilahirkan dari ibu yang diduga terinfeksi oleh virus zika semasa kehamilannya. Namun demikian hal ini masih perlu dievaluasi lebih lanjut guna membuktikan hubungan kausalitas.

Demikian dikatakan Dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD, KPTI, FACP, FINASIM Divisi Tropik dan Penyakit Infeksi FKUI/RSCM pada acara simposium tentang “Waspada Ancaman Sindroma Syok Dengue dan Emerging Virus Zika” yang diselenggarakan PAPDI Forum yang bertempat di Ruang Kuliah Penyakit Dalam RSCM Jakarta.

Acara diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Ketua Umum PB PAPDI – Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP.

Selain itu DR. Dr. Leonard Nainggolan, SpPD, K-PTI mengatan bahwa Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi trending issue dengan jumlah insidens yang terus meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Dengan ancaman mortalitas pada kasus-kasus infeksi dengue berat hinga sindroma syok dengue apabila tidak ditangani dengan tepat dan segera. Peningkatan kewaspadaan menjadi sangat penting dalam menghadapi infeksi dua jenis infeksi arbovirus ini.

Keberadaan nyamuk Aedes sebagai vector menjadi sangat penting di dalam penyebaran infeksi virus dengue dan zika. Masih dari satu family flavi virus yang sama dengan dengue, penyakit lain yang mungkin menjadi masalah adalah chikungunya.

Dr. Leonard menambahkan, bahwa gejala awal yang dapat serupa, membuat pendekatan diagnostic klinis tidak jarang menjadi permasalahan di lapangan. Beberapa gejala pada infeksi virus zika seperti demam, munculnya ruam kulit, nyeri sendi dan otot, serta konjungitivitis merupakan gejala-gejala yang sebenarnya masih mungkin juga didapatkan dari inefksi arbovirus yang lain.