PDEI Jakarta Bantu Pengungsi di Kalideres

PDEI Jakarta Bantu Pengungsi di Kalideres

10 April 2018 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


PDEI satu

Sekitar 400-an pengungsi dari Afghanistan, Somalia, Ethiopia, Yaman, Sudan, Pakistan, dan Sri Lanka hidup di trotoar jalan di Kalideres.

Mereka adalah pengungsi yang bertujuan mencari suaka di negara-negara lain.

Kehadiran mereka yang terlantar ini amat kompleks terutama dalam pemenuhan kebutuhan mendasar seperti: hunian, pangan, dan kesehatan. Mereka rentan jatuh sakit, terutama balita dan anak-anak. Mereka kesulitan mendapatkan air bersih yang hanya didapatkan di toilet umum atau mesjid terdekat. Mereka juga menggantungkan harapan bisa makan minum dari bantuan warga sekitar.

Kelompok rentan seperti perempuan, ibu hamil, orang tua, dan anak-anak perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hari yang lalu, salah seorang pengungsi yang hamil dilarikan ke RS Kalideres untuk melahirkan. Namun dengan susah payah anaknya tidak tertolong karena sulit dirujuk ke beberapa RS lainnya untuk operasi dengan alasan ranjang penuh.

Hampir semua pengungsi ini belum memiliki jaminan kesehatan dan akses layanan kesehayan.

Minggu siang (8/4) dokter-dokter dari  PDEI Jakarta menginisiasi layanan kesehatan kepada pengungsi tersebut. Sebanyak 82 orang diperiksa dan diobati. Nyatanya, mereka tidak mendapat pelayanan kesehatan yang memadai sejauh ini.

Saat ini baru relawan Amnesty Internasional Indonesia, Dompet Dhuafa dan LSM Selasih  yang existing di sana, mereka yang day to day memberikan pendampingan kepada setiap pengungsi, termasuk mengantar ke puskesmas atau RS.

Dokter Iswanto selaku penanggung jawab kegiatan ini mengutarakan maksud kegiatan ini sebagai bentuk respon dan merangsang penentu kebijakan untuk bereaksi terhadap permasalahan ini.

“Bantuan kesehatan ini murni inisiatif teman-teman dokter dan relawan tanpa pendanaan khusus dari pihak tertentu,” lanjutnya.

Ketua PDEI Jakarta dr Halik Malik MKM yang ikut terjun ke lokasi menambahkan bahwa dari 5 dokter yg melakukan pelayanan kesehatan, 3 orang diantaranya sempat bertugas di kamp pengungsi rohingya di cox’s bazaar bangladesh, mereka memang sudah terbiasa diterjunkan untuk misi kemanusiaan.

Selain itu, menurut dokter Halik yang sempat bertugas di Asmat terkait KLB Gizi Buruk dan Campak ini, layanan kesehatan dalam bentuk pengobatan saja tidak cukup, pada kondisi ini setiap hari pasti ada yang sakit, pemenuhan hak-hak dasar pengungsi lebih penting, semua pihak perlu memastikan itu.

“Seharusnya setiap pengungsi mendapat jaminan kesehatan, termasuk akses terhadap layanan kesehatan manakala diperlukan, semoga layanan kesehatan ini berkelanjutan, otoritas yg berwenang perlu memastikan hal itu.”