PDEI Jakarta Gelar Kampanye “Live Saving & Safe Community“ di Car Free Day Merespon Maraknya Aksi Teror, KLB Demam Berdarah dan Wabah Virus Zika

PDEI Jakarta Gelar Kampanye “Live Saving & Safe Community“ di Car Free Day Merespon Maraknya Aksi Teror, KLB Demam Berdarah dan Wabah Virus Zika

1 February 2016 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


image6 edit 

Indonesia berada di urutan ke-34 pada World Risk Index Report 2014. Pada laporan yang memetakan resiko suatu Negara menjadi korban terhadap suatu bencana tersebut, dijelaskan juga bahwa masyarakat Indonesia memiliki level kerentanan yang tergolong tinggi terhadap bencana yaitu sebesar 54,48%. Memasuki awal tahun 2016 terjadi serangkaian peristiwa kebakaran, ancaman banjir akibat musim penghujan, teror bom di jantung Ibukota DKI Jakarta, kejadian luar biasa demam berdarah (DBD), dan merebaknya wabah virus zika yang diyakini bisa menyebabkan pengecilan kepala.

Meskipun Pemerintah telah melakukan langkah-langkah strategis namun terkait hal ini yang menjadi perhatian penting dari sisi masyarakat adalah ketahanan masyarakat terhadap bencana, teror maupun wabah. Pertanyaannya, Sejauh manakah masyarakat kita mampu mencegah, merespon dan melakukan langkah pemulihan dan penanganan secara mandiri dan simultan dengan sistem tanggap darurat yang ada? Masyarakat khususnya secara individual diharapkan memiliki wawasan dan kapasitas ketanggap-bencanaan yang memadai sehingga kesenjangan persepsi akan hal kebencanaan dapat diminimalisir. Dalam hal ini konsep “live saving’ dan ‘safe community’ berperan sebagai wadah optimalisasi ketanggap-bencanaan di Indonesia khususnya di Jabodetabek.

Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia Cabang Jakarta (PDUI Jakarta) Dr. Abdul Halik Malik, MKM menegaskan, “Untuk membangun ketahanan terhadap bencana, terorisme hingga wabah penyakit maka perlu implementasi kesadaran ‘live saving dan safe community’ dalam suatu masyarakat yang mencakup kemampuan untuk bertahan hidup di situasi emergensi dan keterampilan untuk menangani masalah kesehatan secara mandiri baik di rumah atau di mana saja (self care)”

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah meluncurkan program ‘Ketok Pintu’ dengan slogan melayani dengan hati yang intinya adalah menyediakan pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat dengan mengutamakan skrining masalah dan kunjungan rumah. Awalnya di Rusun, sekarang sasarannya hingga ke rumah warga di wilayah Kumuh Padat dan Kumuh Miskin. Untuk itu Ahok saat ini telah menyediakan tim dokter, perawat, dan bidan yang siap turun ke masyarakat untuk setiap 3000 penduduk, bahkan kedepannya cita-citanyanya tiap rumah di DKI punya dokter atau dalam bahasa Ahok ‘Dokter Pribadi’.

“PDEI mengapresiasi inisiatif Pemprov DKI Jakarta menghadirkan layanan ‘ketok pintu’ ini sebagai bentuk kehadiran Negara di tengah-tengah warganya, pemerintah berupaya menjangkau yang tak terjangkau, dan menjadi bagian dari keseharian masyarakatnya. PDEI bisa turut berperan terutama dalam program pencegahan dan pertolongan pertama dengan membekali masyarakat terkait sikap saat menghadapi bencana atau keadaan emergensi, ini dapat dlakukan melalui simpul-simpul warga, bekerjasama dgn pemprov dan paguyuban masyarakat sampai ke tingkat RT/RW, misalnya bagaimana sikap saat menghadapi banjir, kebakaran dan korban kebakaran, korban kecelakaan lalu lintas, kecelakaan di tempat kerja, bahkan sikap masyarakat dan keluarganya ketika ada yang mengalami serangan jantung, stroke, atau demam berdarah yang marak belakangan ini”

Selain itu untuk menunjang layanan pengobatan di puskesmas atau RS Kecamatan di DKI Jakarta PDEI bisa turut serta berjasama  dengan pemda supaya semua tenaga kesehatan dapat dilatih oleh PDEI terkait penagananan semua kasus emergensi yg dapat terjadi di masyarakat, bahkan setiap fasilitas kesehatan per wilayah bisa direview oleh PDEI tingkat kesiapan dan tanggap daruratnya.