PDEI: Utamakan Keselamatan Selama Mudik Lebaran

PDEI: Utamakan Keselamatan Selama Mudik Lebaran

21 June 2017 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


 

Mudik adalah tradisi tahunan masyarakat Indonesia. Mudik melibatkan jutaan orang dan ratusan ribu kendaraan yg tersebar di ribuan titik rawan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas. Untuk itu, seluruh pihak baik pemerintah, swasta, media maupun organisasi masyarakat harus bersinergi dan bekerjasama meningkatkan kepedulian untuk menurunkan angka kecelakaan, angka kematian, angka kesakitan, kerugian dan tindak kejahatan pada masa arus mudik dan arus balik lebaran.

Pesan Menkes bagi para pengemudi selama arus mudik Lebaran, agar: 1) Menyiapkan fisik dan mental yang prima; 2) Memeriksa kesehatan sebelum mengemudi; 3) Menghindari penggunaan obat perangsang, obat keras dan alkohol; 4) Istirahat mengemudi setiap 4 jam; 5) Memanfaatkan Pos Kesehatan jika membutuhkannya; 6) Menyiapkan obat-obatan P3K dalam kendaraan; 7) Hati-hati mengemudi terutama pada saat cuaca buruk; dan  8) Disiplin dan mematuhi rambu lalu lintas. Sementara itu, kepada para pemudik, agar: 1) Menyiapkan fisik yang prima; 2) Memeriksakan kesehatan sebelum perjalanan; 3) Membawa makanan dan minuman yang cukup untuk pejalanan;  4) Menyiapkan obat-obatan pribadi; 5) Istirahat  cukup dalam perjalanan; 6) Memanfaatkan pos kesehatan jika membutuhkan;  7) Mencuci tangan pakai sabun sebelum makan; 8) Membuang sampah pada tempatnya; 9) Tidak buang air kecil atau air besar sembarangan dan selalu menjaga kebersihan toilet umum; 10) Mewaspadai tindak kejahatan.

Kementerian Kesehatan telah membuka 3.826 posko kesehatan yang tersebar di sepanjang jalur mudik Lebaran. Tahun ini disiagakan ambulans motor yang berfungsi memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan secara lebih cepat di kawasan macet. Mereka akan bertugas bersama motor kepolisian di pos terpadu sementara ambulans mobil sendiri disiagakan tiap dinkes kab/kota di setiap pintu tol. Koordinasi terkait kewaspadaan dini kasus luar biasa diare dan penyakit menular lainnya dan berkoordinasi dengan Kepolisian dan Dinas Perhubungan tentang informasi kejadian kecelakaan lalu lintas selama H-7 dan H+7.

Bersamaan dengan itu BPJS Kesehatan memberikan kebijakan penyederhanaan prosedur pelayanan kesehatan selama arus mudik, kasus emergensi dan emergensi bisa langsung ke RS yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan dgn membawa kartu KiS/JKN pelayanan bebas biaya berlaku sejak 19 Juni 2017 sampai dengan 2 Juli 2017. Selain itu, terdapat layanan kesehatan BPJS Kesehatan melalui Care Center 1500 400 yang hadir 7 x 24 jam, sementara khusus layanan konsultasi kesehatan dapat diperoleh pada Senin – Jumat pukul 07.00 - 20.00 WIB.

Di luar masa mudik saja sekitar 72-73 orang per hari atau 3-4 orang per jam orang Indonesia meninggal karena kecelakaan lalu lintas. 12 orang yang meninggal pada saat mudik tahun 2016 yang lalu bukan karena kecelakaan tetapi akibat kemacetan panjang di tol brexit, tidak adanya rest area, pos kesehatan, dan gagalnya rujukan ke RS terdekat tentu menjadi pelajaran penting. Padahal 98 persen dari jumlah kasus kecelakaan bisa dikendalikan, karena 78 persen penyebab kecelakaan adalah faktor manusia, faktor kendaraan hanya berkontribusi 6 persen, kondisi jalan 0,88 persen, dan lingkungan 0,23 persen. Sementara itu, mayoritas atau 71 persen yang terlibat kecelakaan ialah sepeda motor, 28 persen lagi mobil, dimana 3 persen diantaranya adalah bus. Selain merenggut ribuan nyawa dan tergerusnya produktifitas dan daya saing bangsa, kecelakaan lalu lintas juga merugikan sekitar 3 persen produk domestik bruto.

“Perhimpunan Dokter Eemergensi Indonesia (PDEI) senantiasa mendorong implementasi safety community,sebelumnya kita pernah menghadapi teror penembakan di sarinah, teror bom panci di kampung melayu, tapi kita tidak menyadari bahwa di hari-hari menjelang hari raya lebaran, kita juga menghadapi teror kecelakaan dan kematian di jalan raya, pada perjalanan mudik menuju kampung halaman. Semoga kita tidak abai, tidak memaksakan diri, tetap waspada, mendahulukan keselamatan dan tidak lupa menikmati perjalanan.”

Menurut Dr. Halik Malik, MKM, Ketua PDEI Jakarta, kemacetan arus mudik dan panjangnya perjalanan sangat berdampak bagi kesehatan pemudik. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, umumnya pemudik banyak yang mengalami hipertensi karena stress dan mengantuk akibat kelelahan. Pemudik agar tidak memaksakan diri, tetap waspada dan antisipatif terhadap masalah yang ditemui di perjalanan. Sebelum mudik agar memeriksakan kesehatan, mengecek kendaraan, mempersiapkan diri dan keluarga, mempelajari jalur dan memahami bagaimana mencari pertolongan jika menghadapi situasi emergensi.

“Disamping itu untuk menjamin keselamatan berkendara dan mengurangi stress di perjalanan edukasi dan cek kesehatan memang penting bagi pemudik, namun lebih dari itu negara harus hadir dalam momentum tahunan ini dan pemerintah agar mempersiapkan seluruh kesisteman, sarana dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk menunjang arus mudik.”