“PEKAN MENYUSUI SEDUNIA”

“PEKAN MENYUSUI SEDUNIA”

31 July 2017 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


 

WABA (World Alliance for Breastfeeding Action) meluncurkan  “Pekan Menyusui Sedunia” setiap tahun dari tanggal 1 sampai 7 Agustus di lebih dari 170 negara, untuk mendorong pemberian ASI, dan meningkatkan kesehatan bayi di seluruh dunia. Hal ini memperingati “Deklarasi Innocenti yang ditandatangani pada bulan Agustus 1990,” oleh para pembuat kebijakan kesehatan, pemerintah, WHO, UNICEF, dan organisasi lain, untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui. Apa yang sebaiknya diketahui?

Menurut Dr. Flavia Bustreo, WHO Assistant Director-General, Family, Women’s and Children’s Health, pemberian ASI eksklusif adalah cara terbaik untuk memberi bayi, awal yang baik dalam hidupnya. Otak anak akan mengalami beberapa perubahan yang luar biasa dalam 3 tahun pertama kehidupan. Hubungan serabut saraf terbentuk lebih cepat daripada pada tahap lain. Selain menyediakan sumber gizi awal yang sempurna, dengan menyusui ibu juga memberikan cinta dan rasa aman yang tidak dapat tergantikan oleh cara apapun. Ibu yang menyusui bayinya memberikan awal terbaik dalam hidup bayi. Bukti pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat untuk basis perkembangan anak usia dini, tidak dapat dibantah.

Penelitian yang diterbitkan di ‘The Lancet’ awal tahun ini mengkonfirmasi apa yang telah lama kita percayai, bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif setidaknya selama 6 bulan pertama, memiliki kesempatan terbaik untuk berkembang normal  melalui masa anak dan remaja.

Kita sekarang juga tahu bahwa menyusui secara  eksklusif dapat memberi keuntungan seumur hidup. The Lancet menemukan hubungan yang jelas antara pemberian ASI eksklusif dengan nilai IQ yang lebih tinggi, pencapaian prestasi di sekolah dan karier dalam pekerjaan. Hal ini menyebabkan pendapatan yang lebih tinggi di kemudian hari, 12% lebih tinggi di negara berpenghasilan tinggi, dan 16% di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Namun demikian, manfaat pemberian ASI eksklusif tetap belum terealisasi di banyak bagian dunia. Hanya 1 dari 5 bayi yang disusui selama 12 bulan pertama di negara berpenghasilan tinggi, sementara sepertiga anak berusia antara 6 bulan dan 2 tahun tidak menerima ASI sama sekali, di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Hal ini menghambat jutaan anak untuk terjadinya perkembangan fisik dan mental yang optimal. Secara individu, hal ini akan membatasi kemampuan mereka untuk mencapai tujuan pribadi dan sosial. Secara kolektif, ini memiliki dampak negatif yang sangat besar pada masyarakat. The Lancet juga memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional sebesar US $ 300 miliar hilang setiap tahun, karena kapasitas mental warga negara yang tidak disusui secara eksklusif saat masih bayi.

Pembuat kebijakan di pemerintahan dapat memainkan peran yang jauh lebih besar, dalam hal ini dengan memperbaiki undang-undang agar mendukung ibu untuk menyusui secara eksklusif. Kebijakan ini termasuk meningkatkan waktu cuti hamil, memperkuat kualitas asuhan medis di fasilitas persalinan, dengan memasukkan konseling laktasi, dan melindungi ibu terhadap pemasaran agresif pengganti ASI, sehingga ibu dapat memperoleh kepercayaan diri terhadap kemampuan menyusui mereka.

Menurut Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2016, persentase bayi baru lahir di Indonesia yang mendapat Inisiasi Menyusui Dini (IMD) < 1 jam, sebagai langkah awal untuk keberhasilan pemberian ASI eksklusif, baru mencapai 42,7 %, dengan pencapaian  tertinggi di Aceh 57,8%.

Selain itu, bayi yang mendapat ASI ekslusif di Indonesia baru mencapai 29,5%, dengan pencapaian tertinggi di DI Yogyakarta mencapai 55,4% bayi. Pada tahun 2025 target nasional semua negara untuk tingkat pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi, naik hingga setidaknya 50%. Untuk mencapai hal tersebut, ‘the Global Breastfeeding Advocacy Initiative’ yang dipimpin oleh UNICEF dan WHO, mendorong semua negara untuk menerapkan aturan Internasional Pemasaran Susu Formula atau ‘the International Code of Marketing Breast-milk Substitutes’, memberikan cuti keluarga, kebijakan ramah menyusui di tempat kerja, dan memperbaiki akses terhadap dukungan menyusui di fasilitas kesehatan dan masyarakat.

‘The Sustainable Development Goals’ (SDGs) juga menyerukan akses terhadap perkembangan anak usia dini yang berkualitas, untuk semua anak laki-laki dan anak perempuan, termasuk menyusui. Untuk mendukung pencapaian SDG, ‘the Global Strategy for Women’s, Children’s and Adolescents’ Health’  merekomendasikan untuk melindungi dan mendukung pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi di semua negara, termasuk di wilayah dengan masalah kemanusiaan, peperangan, dan bencana alam. Memberikan ASI eksklusif adalah intervensi kesehatan yang hemat biaya atau ‘cost-effective’, praktis dan mudah, dalam kontribusi terhadap kelangsungan hidup, kesehatan dan perkembangan yang optimal pada seorang anak.

Data WHO dan UNICEF menunjukkan bahwa sekitar 200 juta anak yang bertahan hidup sampai balita, saat ini gagal mencapai potensi fisik, mental dan sosial mereka secara penuh, karena adanya faktor negatif yang menghambat perkembangan anak usia dini, di antaranya tidak mendapatkan ASI eksklusif. Menyusui dan memastikan nutrisi yang tepat saat bayi, akan menjadi komponen kunci perbaikan ini. Mendukung ibu menyusui kapanpun dan di mana pun, merupakan langkah awal untuk membantu semua anak mencapai potensi penuh.

Momentum Pekan Menyusui Sedunia 1-7 Agustus 2017, mengingatkan kita semua tentang pentingnya ASI untuk bayi. Perkembangan anak usia dini dimulai dari payudara seorang ibu. Apakah kita semua sudah berbelarasa kepada bayi di sekitar kita, agar mereka mendapatkan haknya?

 

Yogyakarta, 29 Juli 2017

Wikan Indrarto

Dokter spesialis anak di RS Siloam @ LippoPlaza dan RS Panti Rapih, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM