Penyataan Sikap “Menolak Kriminalisasi Dokter”

Penyataan Sikap “Menolak Kriminalisasi Dokter”

18 November 2013 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


Penyataan Sikap  ”Menolak Kriminalisasi Dokter”

IMG_5986 editDokter dalam menjalankan profesinya senantiasa mengedepankan kepentingan pasien dan berupaya memberikan yang terbaik dengan selalu menjunjung tinggi profesionalisme dan nila i-nila i etika.

Seringkali dokter dihadapkan pada keadaan ketidak-pastian dan kegawat-daruratan kondisi pasien yang secara medis sangat kecil harapan untuk bisa tertolong. Dalam kondisi tersebut dokter secara etika dan secara profesional tetap memiliki kewajiban untuk berupaya semaksimal mungkin dan sebaik-baiknya dengan segala kemampuan dan keahlian yang dimilikinya untuk memberikan pertolongan terhadap pasien tersebut. Namun terkadang pertolongan dokter tersebut tidak berhasil menyelamatkan jiwa pasien atau meninggalkan kecacatan pada diri pasien. Kejadian tersebut serta merta menimbulkan tudingan bahwa dokter telah melakukan kesalahan karena tidak berhasil menyelamatkan jiwa pasien ataupun karena tidak berhasil menyembuhkan pasien tersebut secara sempurna tanpa ada kecacatan sedikitpun.

Sudut pandang dan pemahaman tersebut sungguh tidak benar, karena dokter dalam menunaikan tugasnya menolong pasien seharusnya diukur dengan upaya yang dilakukan dokter tesebut dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemampuan dan keahliannya sesuai standar etika dan standar profesi (inspanning verbentenis) bukan diukur dengan hasil dari sebuah tindakan pengobatan dan Perawatan yang harus sempurna (resultante verbentenis).

Demikian dikatakan Ketua Umum PB IDI Dr. Zaenal Abidin, MH dalam sambutannya pada acara Diskusi bulanan yang bertema “Menguak Kriminalisasi Dokter Indonesia” yang diselenggarakan pada 18 November 2013 di Sekratariat PB IDI Jl, Samratulangi 29 Jakarta Pusat.

Dalam diskusi tersebut dipimpin oleh Dr. Daeng M Faqih, MH (Sekjen PB IDI) dan sebagai pembicara antara lain: Dr. N. Nazar, SpB, M.H. Kes (Ketua BHP2A PB IDI), yang memaparkan tentang “Pandangan IDI Terhadap Kroimonalisasi Dokter: contoh Kasus Tiga Dokter Obgin di Manado”. Kedua disampaikan oleh Prof. DR. Laica Marzuki, SH, MH (Pakar Hukum, Mantan Hakim Agung, Mantan Wakil Ketua MK) yang memaparkan tentang “Restorasi Justice dalam Penyelesaian Sengketa Medik”. Pembicara ketiga disampaikan oleh Dr. Muh. Nasser, SpKK D Law (Kompoinas) yang memaparkan tentang “Penerapan Prinsip Samaritan Law dalam Kasus Emergecy Medis”. Pembicara keempat, disampaikan oleh Drs. Amir Hamzah Pane, Apt SH, MH, MM (Praktisi Hukum) yang memaparkan tentang “Penerapan Daubert Standard sebagai Syarat Adminisinlitas Keterangan Ahli dalam Perkara Dugaan Malpraktek Medik”.

Zaenal lebih lanjut mengatakan, banyak fakta yang terjadi bahwa dokter cenderung disalahkan (dikriminalisasi) apabila dokter tersebut tidak berhasil menyelamatkan jiwa pasien ataupun tidak berhasil menyembuhkan pasien tanpa ada kecacatan sedikitpun. Padahal kejadian tersebut bisa disebabkan karena faktor kefatalan penyakitnya atau karena faktor resiko dari suatu tindakan medis yang tidak bisa dihindari, karena memang harus dan tidak ada pilihan lain tindakan medis tersebut dilakukan untuk menolong dan menyelamatkan jiwa pasien.

Adanya penangkapan terhadap dokter,  termasuk kasus terakhir ditangkap dan ditahannya Dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, Sp.OG oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara sejak tanggal 8 November 2013, berdasarkan putusan Mahkamah Agung No. 365/Pid/2012, dapat menimbulkan keresahan, keraguan dan ketidak-tenangan diantara kalangan dokter dalam menunaikan tugasnya dikarenakan adanya kekhawatiran akan tuntutan dan kriminalisasi dokter.

Atas kejadian tersebut, kata Zaenal, maka IKATAN DOKTER INDONESIA menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:

  1. Menyatakan sangat prihatin dan menyesalkan kejadian penuntutan, penangkapan dan penahanan sejawat Dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, Sp.OG
  2. Menyatakan menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap dokter.
  3. Menyerukan kepada seluruh Sejawat Dokter lndonesia untuk memakai pita hitam di lengan kanan selama 3 hari sejak hari selasa, 19 November 2013 sebagai ungkapan rasa duka mendalam atas kejadian tersebut.
  4. Menyerukan kepada seluruh Sejawat Dokter lndonesia untuk melakukan “Doa Keprihatinan Profesi Dokter” secara serentak selama 1 jam di tempat kerja masing-masing pada hari senin, 18 November 201-3 sebagai berikut::

-          Doa untuk seluruh pasien yang dirawat para dokter agar lekas disembuhkan dan rakyat lndonesia tetap disehatkan oleh-Nya.

-          Doa untuk seluruh dokter dan tenaga kesehatan agar dapat bekerja dengan baik dan aman di negeri ini serta tidak dikriminalisasi.

-          Doa untuk Sejawat dokter yang sedang ditahan di Manado agar diberi kekuatan dan ketabahan serta dapat dibebaskan.