Peringatan HBDI IDI Cabang Biak dan IDI Wilayah Papua Gelar Pelatihan ATLS

Peringatan HBDI IDI Cabang Biak dan IDI Wilayah Papua Gelar Pelatihan ATLS

13 November 2019 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


IDI Cab Biak

Dokter yang bekerja di fasilitas kesehatan  pelayanan primer akan menghadapi berbagai masalah kesehatan diantaranya kegawatdaruratan / emergensi yang bisa diakibatkan oleh kasus trauma ataupun medis ( seperti jantung, stroke dan lain sebagainya ).  Oleh karena itu seorang dokter harus mampu dalam menangani masalah-masalah tersebut, sehingga untuk itu mereka harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan dalam berbagai kasus kegawatdaruratan.  Kasus trauma adalah kasus yang paling sering ditemukan pada unit gawat darurat baik pada rumah sakit ataupun pada level Puskesmas dan klinik pada pelayanan primer. Seiring meningkatnya jumlah kendaraan bermotor, maka insiden terjadinya kecelakaan semakin tinggi.

Dokter umum di pelayanan primer merupakan garda terdepan dalam  pelayanan kegawatdaruratan  di masyarakat. Kasus trauma banyak terjadi di lapangan yang pertama kali akan ditangani oleh dokter umum di pelayanan primer sebelum dilakukan perujukan. Oleh karena itu perlunya di laksanakan pelatihan berkala tentang managemen kasus trauma pada dokter pelayanan primer Resusitasi jantung paru otak (RJPO) meliputi evaluasi dan intervensi serial untuk mendukung fungsi jantung dan paru. Ketika terjadi henti jantung, jantung berhenti berdenyut dan sirkulasi terganggu. Kematian organ akan segera berlangsung bila sirkulasi tidak segera diperbaiki.

Otak merupakan organ yang paling sensitif, di mana kerusakan permanen dan ireversibel akan terjadi bila terjadi henti jantung selama 4 sampai 6 menit. RJPO harus dikerjakan sedini mungkin untuk menghindari kematian dan kerusakan organ vital. Dokter pelayanan primer diwajibkan mampu melakukan tindakan RJPO sebagai komponen Life Saving yang memprioritaskan “Time Saving Is Life Saving”.

Dalam kaitannya dengan diatas IDI Wilayah Papua bersama IDI Cabang Biak Nufor melakukan pelatihan ATLS , kegawatdaruratan dan disaster bekerjasama dengan Komisi Trauma IKABI  sebagai rangkaian acara  Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) pada tanggal 7-9 November 2019 . Acara bertempat di gedung Akper Biak Papua . Peserta terdiri dari 2 kelas dengan masing-masing kelas 32 orang sehingga total 64 orang yang terdiri dari para dokter umum di wilayah Papua dan Papua Barat. Instruktur dari Komisi Trauma IKABI di Jayapura , Makasar dan Jakarta . Diantara para instruktur  terdapat nama-nama tokoh kegawatdaruratan Indonesia, yaitu Prof Dr dr Aryono D Pusponegoro SpB-KBD salah satu tokoh emergensi di Indonesia , pendiri Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118 yang juga pendiri perhimpunan dokter emergensi Indonesia (PDEI) . Terdapat juga Prof Dr dr Andi Asadul SpBSmyang juga Ketua PP IKABI . Acara ini juga dihadiri oleh Dr Moh Adib Khumaidi SpOT – Ketua Terpilih PB IDI yang juga Ketua Umum PP PDEI, serta Dr Silvanus SPOG- Sekretaris Dinas Kesehatan Provisi Papua.

Dalam sambutannya Wakil Ketua Umum PB IDI – Dr Adib Khumaidi, SpOT menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para sejawat dokter di wilayah papua yang tetap kompak dan solid dalam memberikan pelayanan kesehatan di wilayah Papua .  Hal ini juga memberikan bukti bahwa masih banyak para sejawat dokter yang melakukan pengabdiannya dalam menjalankan praktek kedokteran dan pelayanan kesehatan di wilayah Papua . Bahkan beberapa peserta juga dari daerah sangat terpencil di Papua yang tetap semangat untuk ingin mengikuti pelatiahn sekaligus sebagai bagian dari pendidikan kedokteran berkelanjutan(P2KB/CPD)  dalam rangka menjaga kompetensi dokter untuk memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat di wilayah Papua.

Dr Adib juga menyampaikan kepada pemerintah daerah Papua untuk lebih memperhatikan para dokter termasuk juga kebutuhan sarana/ prasarana, infrastruktur , obat, jenjang karir , kesempatan untuk dapat mengikuti pelatihan-pelatihan serta kesejahteraan para dokter di Papua . Termasuk juga mendorong pemerintah daerah untuk mau melakukan “investasi dokter “ sejak masa pendidikan dokter/ dokter spesialis melalui program putra daerah/ beasiswa sebagai jawaban untuk mengisi kekurangan dokter/ dokter spesialis di wilayah Papua dan Indonesia Timur lainnya .

Prof Aryono juga mernyampaikan bahwa daerah Papua adalah termasuk daerah yang rawan bencana baik itu bencana alam ataupun bencana karena ulah manusia termasuk bencana konflik horizontal sehingga diharapkan SDM kesehatan khususnya dokter siap untuk mengatasi kondisi kegawatdaruratan dan bencana yang bisa kapan saja terjadi.  Diharapkan juga masyarakat juga mendapatkan pelatihan2 kegawatdaruratan sehingga di Papua bisa terwujud “ Safe Community “ .

Dr Silvanus menyampaikan juga harapan pemerintah daerah untuk peningkatan kualitas kompetensi para dokter melalui pelatihan2 dan pemerintah daerah akan mensupport program2 kesehatan untuk masyarakat di Papua . Pelatihan emergensi dan disaster  dalam waktu dekat akan diprioritaskan khususnya untuk mempersiapkan kesiapan tim medis dalam menghadapi PON tahun 2020 .

Pada kesempatan ini juga dicanangkan pendirian Perhimpunan Dokter Emergensi (PDEI) Cabang Biak yang akan dikoordinatori oleh Dr Raja MN Sitorus SpB, Dr Andreas Pekey SpPD, Dr Beer Isach SoorenWopari M.Kes, Dr Jenggo Suwarko, Dr Aaron Rumainum .

Dalam sambutannya  Dr Donald SpB selaku Ketua IDI Wilayah Papua juga mengucapkan terimakasih atas perhatian PB IDI dan ke depan akan meningkatkan koordinasi dengan pusat dan stakeholder kesehatan di wilayah Papua serta menjaga kekompakan dan kesolidan para dokter dibawah Ikatan Dokter Indonesia .