Rangkuman Diskusi : Cerdas Mengelola Stres dan Emosi

Rangkuman Diskusi : Cerdas Mengelola Stres dan Emosi

23 June 2020 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


Cerdas pengelola stres & Emosi

Sambutan Pengantar

Dr. Zaenal Abidin (Mewakili penyelenggra diskusi)

Narasumber kita hari ini yang akan berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait tema   “Cerdas Mengelola Stres dan Emosi” ada tiga orang, yakni:  Dr. Sawedi Muhammad, S.Sos., M.Sc., yang akan menguraikan sesuai kepakarannya sebagai sosiolog. Dinuriza Lauzia, M.Psi akan membahasnya dari sisi psikologi sebagai seorang psikolog. Dan dr. Junuda RAF,  Sp. KJ., akan menjelaskan sesuai keahliannya sebagai seorang psikiater.

Forum “sedekah” ilmu dan pengalaman kita hari ini, Jumat (19 Juni 2020) ini terselenggara atas kolaborasi antara Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Koalisi Literasi Gizi (Koalizi), Literasi Sehat Indonesia (Lisan), Dep. Kesehatan BPP. Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, dan www.sadargizi.com.

Forum ini akan dipandu oleh Hasanuddin, S.IP., M.AP., ini sengaja mengangkat tema “Cerdas Mengelola Stres dan Emosi” setelah memperhatikan kondisi masyarakat kita akhir-akhir ini, yang penuh tekanan dan ketidak-pastian. Kondisi ini mungkin saja terjadi sebagai dampak dari pandemi covid-19, atau persolan lama yang tidak terselesaikan kemudian diperparah oleh hantaman wabah covid-19.

Pada forum berbagi kita Senin (16 Juni 2020) lalu, dokter-dokter relawan (merawat pasien covid-19) yang yang menjadi narasumber mengungkap bahwa mereka pun seringkali dihampiri rasa was-was saat bertugas di zona merah. Bahkan kita juga pun sering menyaksikan di layar kaca ada pejabat publik meluapkan amarah karena tak bisa kendalikan emosi. Dan seterusnya.

Terkait, covid-19, seperti sering kita baca bahwa karakternya baru dan sangat agresif, serta mempunyai tingkat penularan antar manusia yang tinggi. Pola penyebarannya luas dan cepat serta dapat menempel dan bertahan hidup di permukaan benda. Ia memiliki risiko komplikasi dan fatality rate yang tinggi.

Pandemi covid-19 telah membawa dampak yang sangat luas, menguji kehebatan suatu tatanan, antara lain:

  1. 1.    Bidang kesehatan: Mengobrak-abrik kekuatan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dan  Sistem Kesehatan Daerah (SKD), menguji apakah sistem kesehatan nasional dan sistem kesehatan daerah merupakan suatu sistem yang hidup dan terkoneksi satu dengan lainnya atau tidak, membuat pejabat publik di bidang kesehatan kelabakan dan keseleo lidah, beban kerja nakes overload dan fasyankes overcapacity.
  2. Bidang ekonomi: Tatanan ekonomi dunia berubah, perlambatan kerja manufaktur, inflasi tinggi, investasi, transportasi dan pariwisata lesu, dll.
  3. Bidang ketenagakerjaan: Pekerja dirumahkan atau bahkan PHK
  4. Bidang pendidikan: Metode pembelajaran berubah dari on site menjadi on line

Dampak dari pelemahan tatanan hidup di atas ternyata tidak berhenti di situ. Covid-19 juga mengakibatkan terujinya ketahanan hidup individu, keluarga, dan masyarakat.  Karena itu setiap kejadian luar biasa (KLB), pandemi, dan epidemi akan selalu disertai timbulnya KEPANIKAN di tengah masyakat.

Panik membuat masyarakat berbondong-bondong mendatangi fasitas kesehatan. Panik dapat mengakibatkan daya tahan tubuh menurun sehingga rentan terinfeksi civid-19. Panik menjadikan masyarakat resah, cemas, stres, dan emosi, akibat tidak adanya informasi yang dapat dipercaya, dari sumber yang kompeten dan kredibel.

Panik yang dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan masyarakat mengembangkan asumsi dan teorinya sendiri. Karena itu, muncullah asumsi “teori konspirasi”, menolak diperiksa, mengambil paksa pasien positif covid-19, dll. Karena itu, persepsi masyarakat terhadap pandemi covid-19 ini harus dikelola dengan baik untuk tujuan positif. Agar timbul pemahaman yang benar dan agar timbul semangat kebersamaan, kesetiakawanan sosial kesehatan, dll.

Perlu diingat, bahwa kesenjangan pesepsi dapat berakibat “bencana berkelanjutan.” Oleh sebab itu, setiap pandemi memerlukan adanya manajemen persepsi.

Hal yang sama, berkaitan dengan pemberitaan. Pemberitaan yang tepat akan menimbukan kesadaran kolektif di tengah masyarakat, bahwa pandemi itu sudah dekat atau pendemi itu sangat berbahaya, sehingga perlu perlawanan secara kolektif pula. Pemberitaan memiliki peran sentral dalam menghadapi setiap kejadian pandemi, epidemi, atau bencana lain di hadapi oleh masyarakat. Sebab, pemberitaan yang SIMPANG SIUR akan membingungkan masyarakat. Sementara kebingungan akan menimbukan kepanikan dan keresahan baru.

Sekali lagi, manajemen pesepsi dan manajemen pemberitaan yang konsisten serta kredibel merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam kondisi pandemi, kata Zaenal Abidin mengakhiri sambutan pengantarnya.

Dinuriza Lauzi, M.Psi

(Psikolog, Penulis dan Conten Creator)

Emosi adalah pilihan dan kita bertanggung jawab terhadap keputusan yang kita ambil.

Kejadian dan respon emosi bergantung pada apa yang kita butuhkan, apa skala prioritas kita, apa yang kita pikirkan dan berkaitan dengan kepribadian.

Pada situasi dan kondisi covid-19, kebijakan pemerintah tergantung pada kepribadian yang dimilikinya. Ada yang memberikan respon emosi bahkan memicu kegaduhan dan ada yang menanggapi persoalan dengan tetap tenang.

Untuk masyarakat, agar terhindar dari stres dan emosi, yang perlu dilakukan adalah :

  1. Memilah media sosial atau berita-berita yang mampu mempengaruhi diri kita sehingga menghindarkan kita dari stress dan emosi.
  2. Kontrol emosi, dimana kita akan menentukan sikap apakah kita akan berdamai keadaan, atau melawan keadaan.

Akibat dari tidak konsistennya antara kebijakan pemerintah dan fakta yang terjadi di lapangan mengakibatkan timbulnya stres yang memicu munculnya tagar Indonesia Terserah sebagai respon terhadap kondisi yang terjadi. Tidak ada perhargaan dan apresiasi terhadap pengabdian dan upaya yang telah dilakukan oleh tenaga kesehatan sehingga memicu emosi dari para tenaga kesehatan.

Jika situasi diluar control, yang perlu kita lakukan adalah :

  1. Mengidentifikasi perasaan yang kita alami.
  2. Menyehatkan jiwa kita dengan kembali pada dimensi agama, bahwa kita pasrakan semuanya pada Tuhan.
  3. Melakukan self terapi atau terapi dengan mengikhlasan segala sesuatunya.

Dr. Junuda RAF, Sp.KJ

(Psikiater RSUD Bahtermas Kendari / Ketua MKEK IDI Wilayah Sulawesi Tenggara)

Stress dan distres biasanya tumpang tindih dalam memaknai. Namun yang perlu kita hindari adalah distres, dimana krisis yang mampu menyebabkan gangguan jiwa.

Istilah stres dalam kehidupan sehari-hari cenderung disamakan, baik negatif atau positif.

Pengelolaan stress tergantung dari nilai-nilai luhur dalam diri kita. Sehingga menanggapi pandemi covid -19 ini, stres perlu diarahkan pada hal-hal yang positif sehingga kita bisa tetap produktif.

Dr. Junuda mencontohkan pengalaman terakhir ini ada pasiennya tambah stres sehingga mengalami gangguan jiwa berat. Terjadi waham corona, bahkan halusinasi corono. Tapi ada juga yang positif, tetangga saya seorang penjahit karena stres di tengah covid-19 sehingga ia mampu membuat APD, masker. Karena itu pendapatannya justru meningkat. Nah, itu respon yang kita harapkan, yang positif. Hal ini yang perlu kita lakukan. Ungkap dr. Junuda menutup paparannya.

Dr. Sawedi Muhammad, S.Sos, M.Sc

(Sosiolog Universitas Hasanuddin)

Bicara tentang pandemi covid 19, adalah bicara tentang resiko. Manusia selalu mengalami tingkat risiko seperti bencana alam, polusi, penyakit yang baru ditemukan, kejahatan, teroris, IT, Ardtificial Inteligen dan banyak lagi.
Risiko tidak hanya memengaruhi kelas atau tempat sosial tertentu. Risiko pandemic covid-19 adalah resiko antibias dan dapat memengaruhi semua orang, apa pun kelas Anda. Tidak ada yang bebas dari risiko ini, apapun agama, suku dan jenis kelaminnya. Pandemi juga tidak mengenal wilayah, meskipun dimulai dari China karena besarnya arus traveling manusia. Jepang, Korea Selatan, hingga ke Asia Tenggara dalam hitungan jam.

Manusia mampu membuat inovasi-inovasi terbaru tapi kurang mampu untuk melakukan mitigasi dari apa yang dilakukan.

 

Tiga karakteristik resiko pandemic covid-19:
1. Delokalisasi dimana covid-19 tidak mengenal lokasi.
2. Incaltulate risk dimana biaya pandemi covid-19 tidak dapat dihitung biayanya.
3. Non compensability dimana tidak ada yang mampu memberi kompensasi.
Kaitannya dengan ketakuatan, kecemasan, stres, dan emosi resiko pandemic covid-19 ini adalah resiko umat manusia buka hanya agama, ras dan suku tertentu saja, tapi ini menjadi bencana global.
Untuk itu, kita harus merumuskan langkah-langkah cerdas dalam hal memanajemen resiko sehingga kita tidak larut dalam kesedihan, larut dalam kecemasan yang tak ada ujungnya, larut dalam ketakutan yang berlebihan. Langkah itu adalah, sebagai berikut:
1.    Kita harus memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif;
2.    Mengenali kondisi kita dan orang-orang disekitar kita;
  1. Rekonsiliasi ketakutan dengan penerimaan terhadap situasi yang tidakpastian;
  2. Optimis bahwa pandemi ini pasti akan selesai;
  3. Hindari informasi yang tidak jelas; dan
  4. Berkontribusi dalam hal apa pun yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko yang mampu menghindarkan kita dari stres, emosi, cemas dan ketakutan.

Perlu pula kita memperhatikan lima tahapan ketika seseorang dalam mengalami keadaan krisis:

  1. Penyangkalan atau melawan terhadap realitas
  2. Marah terhadap situasi
  3. Tawar menawar
  4. Depresi yang jika tidak diobati maka akan menyebabkan tindakan fatalistic.
  5. Menerima situasi.
  6. Tahapan yang paling ideal ada meaning, dimana kita memaknai bahwa situasi yang terjadi adalah evaluasi terhadap diri kita sendiri.

Tanggapan terhadap pemerintah dalam situasi covid-19 :

  1. Pemerintah seharusnya menjadi institusi yang paling kompeten dan paling paham terhadap situasi pandemi covid-19.
  2. Harus memberikan informasi yang transparan dan berdasarkan paradigma sains.
  3. 3.     Pemerintah harus mendisiplinkan dirinya terhadap kebijakan yang dibuatnya. Jika masyarakat tidak puas dan tidak percaya terhadap kebijakan pemerintah, maka masyarakat akan mengalami public distress dan bahkan akan memunculkan gerakan sosial atau social movement.

Demikian rangkuman diskusi kami terkait “Cerdas Mengela Stres dan Emosi,” semoga memberi manfaat bagi masyarakat luas. Lebih lanjut dapat disimak di www.sadargizi.com.