Rangkuman Diskusi : “Suka Duka Relawan Medis Covid-19”

Rangkuman Diskusi : “Suka Duka Relawan Medis Covid-19”

18 June 2020 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


covid 19-2

 

Seperti pada diskusi sebelumnya, dr. Zaenal Abidin selaku perwakilan dari penyelenggara selalu menyempatkan diri untuk menyampaikan pengantar singkat, mengapa suatu tema diangkat untuk didiskusikan.

Zaenal kembali mengingatkan bahwa diskusi ini adalah semacam forum sedelah ilmu dan pengalaman, dengan meniru fungsi khutbah Jum’at bagi umat Islam. Yakni untuk memberi respon atas apa yang terjadi di tengah masyarakat satu pekan terakhir dan juga memberi prediksi serta antisipasi untuk satu pekan ke depan.

Diskusi yang dipandu dr. Iswanto ini terselenggara atas kolaborasi berbagai elemen, yakni: Literasi Sehat Indinesia (Lisan); Lembaga Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LK2PK); Komunitas Litersi Gizi (Koalizi); Yay. Gema Sadar Gizi; dan Dep. Kesehatan BPP. KKSS.  Tema kita hari ini (Senin, 15 Juni 2020) adalah

“Suka duka Menjadi Relawan Medis”.

Menurut dr. Zaenal, mungkin saja di antara kita yang ikut diksusi hari ini belum banyak mengetahui apa suka duka menjadi relawan medis Covid-19. Karena itu, tentu kita ingin sekali mendengarkan kisah dan pengalaman berharga dari empat narasumber kita.  Pengalaman yang akan disampaikan boleh jadi sudah pernah kita dengar atau baca dari penuturan relawan lain, namun bisa juga ada informasi baru yang sama sekali belum pernah diutarakan relawan oleh medis mana pun. Karena itu tentu kita semua ingin mendengarkannya.

Zaenal menceritakan ketika menjadi Sekjen PB IDI (Tahun 2006-2009). Katanya, biasanya ruangan sekjen  PB IDI itu selalu menjadi tempat kumpul-kumpulnya dokter-dokter yang masih muda, energik, dan idealis. Bila mereka tidak sedang  praktik atau jaga mereka sering datang ngobrol di tempat itu.

Dan jika ada kepanitiaan di PB IDI atau terjadi bencana, maka para dokter muda inilah yang paling banyak sibuknya. Sibuk rapat, sibuk kumpulkan donasi, sibuk menyiapkan logistik dan atur jadual tugas atau pemberangkatan relawan, dst. Bahkan mereka pun sibuk secara bergantian turun ke lokasi bencana menjadi relewan medis.

Suatu waktu sekitar jam 20.00 WIB., karena melihat lampu di kantor masih menyala dan terdengar banyak orang di dalam mampirlah seorang sejawat dokter senior. Menemui banyak anak muda di ruang tengah, yang sedang menyiapkan perbekalan relawan, maka dokter senior ini bertanya,

DS: Kalian ini masih muda-mudah, apakah kalian ini dokter-dokter?

DM: Dokter yang muda-muda tadi menjawab, ya kami dokter.

DS: Apakah kalian tidak praktik?

DM: Praktik, tapi sudah ada yang ganti untuk sementara.

DS: Kok sampai sekarang belum pulang?

DM: Masih ada kerjaan yang mau diselesaikan.

DS: Memang kalian dibayar berapa oleh PB IDI sampai betah malam begini?

DM: Dokter muda tersebut pada bengong. Bayar? Kami sudah biasa jadi relawan seperti ini, tidak pake bayar.

 

Sebelum dokter senior itu tinggalkan kantor PB IDI, dia berkata kepada saya, “kalau di tempat saya nanti, akan saya alokasi dana buat insentif biar adik-adik yang muda bisa lebih senang dan semangat.” Oh, iya.

Satu tahun kemudian, dokter senior tadi mampir lagi di ruangan saya di PB IDI menemui dr. Zaenal. Dia langsung mengatakan, “saya tidak berhasil membentuk tim relawan dr. Zaenal, padahal saya sudah umumkan dan siapkan insentif yang lumayan agar sejawat ingin jadi relawan tapi hanya berapa orang saja yang berminat, itu pun maunya hanya dua atau tiga hari berada di lokasi bencana.”

Nah, mungkin ada yang pernah membaca tulisan yang diposting dr. Hisbullah, Sp.An di Makassar, yang memiliki prinsip sendiri menjadi relawan, yakni “Berniaga dengan Allah.” Sejawat kami dr. Hisbullah tidak menampik jika dirinya  mengharapkan keuntungan besar, dengan perniagaannya tersebut.

Saya berkeyakinan, kata dr. Zaenal, bahwa banyak relawan medis yang memiliki prinsip serupa  yang dipegang oleh dr. Hisbullah tadi.

Jika relawan itu seorang muslim, boleh jadi mereka berpegang pada dalil berikut:

1. Sabda Rasulullah, Saw: “Sayangilah yang di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangimu.” (HR. At-Thabrani).

2. Atau, bahwa menjadi relawan adalah bahagian dari jihad, yang diperintahkan Allah dalam kitab suci:

“Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan PERNIAGAAN yang (tidak akan merugi), yang akan menyelamatkan kalian dari siksaan yang sangat pedih. Yaitu, kalian BERIMAN kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kalian pun BERJIHAD di jalan Allah dengan Harta dan Jiwa kaliaan. Hal itu lebih baik jika kalian mengetahui.” (QR. Ash-Shaff: 10-11).

Kembali ke cerita dokter senior dan dokter muda di atas. Sesama dokter yang beda usia saja sudah terjadi perbedaan sudut pandang berkaitan dengan relawan, apalagi masyarakat awam. Belum lagi bila relawan tersebut menggunakan MAZHAB “Berniaga dengan Allah” tentu makin sulit ketemu dengan orang yang bermazhab lain, yang mana setiap urusan harus diukur dengan uang atau materi.

Bahwa menjadi dokter itu tentu saja ada dukanya, tapi pasti suka atau gembiranya jauh lebih banyak. Ungkap Zaenal.

Dalam menolong orang atau merawat pasien, setidaknya dokter itu memperoleh tujuh kegembiraan, yakni:

1.    Gembira karena pasiennya telah datang meminta pertolongan kepadanya.

2.    Gembira karena pasiennya kooperatif.

3.    Gembira karena menemukan diagnosa panyakit pasiennya.

4.    Gembira karena pasiennya semakin membaik.

5.    Gembira karena pasiennya sembuh.

6.    Gembira karena memperoleh imbal jasah (rizeki) atas jasa profesi yang telah ia berikan.

7.    Gembira karena memperoleh imbal pahalah dari Tuhannya, kelak di hari pembalasan, in syaa Allah.

 

Dr. Hartati B. Bangsa

(Koordinator Medis RSDC Wisma Atlet)

 

Menurut dr. Tati, panggilan akrab dr. Hartati B. Bangsa, diawal – awal recruitment  relawan medis, kendala yang dihadapi adalah sulitnya relawan mendapatkan surat izin dari orangtua atau keluarga. Banyak yang mengundurkan diri oleh sebab tsb.

Saya ingat betul, saat diresmikan tanggal 23 Maret 2020, pukul 18.00 WIB kurang lebih 250 pasien mengantri untuk diberikan layanan, hari kedua sebanyak 300 pasien. “Yang paling berat adalah menguatkan mental pasien sementara mental kami sendiri down.” Saat itu, jumlah kami masih sedikit, terbagi dalam 5 tim. Setiap tim berjumlah 5 – 6 orang, bisa dibilang saya adalah relawan dokter sipil pertama yang bergabung bersama personil TNI dan Polri di RSDC wisma atlet. Kami menggunakan APD waktu itu bukan hanya delapan jam tapi sempat sampai 16 jam karena kondisi pasien tidak berhenti masuk dan harus melayani bila ada rujukan.

Pernah ada kluster rujukan, sebanyak 120 orang, triage tidak dilakukan sesuai alur pelayanan tapi kami lakukan setelah diruang perawatan.

Berat badan turun sampai 8 kg dalam 10 hari. Bagaimana tidak, saat itu kami 1 dokter bisa mencover 5 – 10 lantai. Yang setiap lantai terisi hampir  50 – 60 Pasien.

Jika ditanya perasaan saya saat itu, rasa was – was, gelisah dan ketakutan, tapi tetap semangat bekerja ikut campur aduk. Saya menerima hampir 200 panggilan telepon perhari dari keluarga, teman dan kerabat yang ikut mengkhawatirkan keadaan saya. Terutama “IBU”

Asumsi soal panggilan “pahlawan” bagi relawan, beliau menambahkan relawan atau aktivis kemanusiaan ini adalah jalan panjang pengabdian, bagi saya ini adalah panggilan jiwa. Dengan atau tidak disematkan sebagai “pahlawan” jalan ini akan tetap kami tempuh dan lakoni. Bagi kami yang berjuang digaris akhir masa pandemik ini, keluar dari redzone ( area terisolir dengan high risk transmision) dalam keadaan hidup atau tidak terinfeksi covid19 saja kami sudah cukup bersyukur “ jelasnya,

Menjadi relawan pertama kali, jaminan kesehatan ataupun kecelakaan saja tak terpikirkan apalagi soal insentif. Kami tidak pernah berpikir soal itu, karena memang belum ada kebijakan apa – apa saat tim relawan medis di gelombang pertama saya recrut. Kami hanya saling menyemangati dan saling menjaga satu sama lain bahwa ini adalah perjuangan kita bersama.

Pesan yang selalu saya sampaikan “tolong teman – teman pakai APD lengkap dan dekontaminasi ketat” hanya ini yang bisa kita upayakan.

Dr. Abdul Azis, Sp.U

(Ketua Satgas Covid-19 Wilayah Sul-Sel)

 

“Tidak ada duka dalam menjadi relawan, semua rasa suka. Karena kita bergerak dalam bingkai keikhlasan dan karena ada perniagaan untuk akhirat yang dikejar.” Demikian penyataan awal pemaparan dr. Abdul Azis, yang baru saja tiba dari bencana banjir dan lonsong di Sul-Sel, sekitar 4-5 jam dari dari Kota Makassar.

Banyak hal yang membuat kendala bagi relawan. Di antaranya kendala itu adalah :

-      Kebijakan dari pemerintah yang simpang siur. Sehingga dokter dan tenaga kesehatan menjadi korban dari kebijakan pemerintah yang menganggarkan biaya perawatan terhadap pasien covid-19. Ini tidak dijelaskan secara mendetail. Padahal di Makassar ini dana-dana besar digunakan untuk membangun fasilitas kesehatan, membangun ruangan-ruangan hampir di rumah sakit pemerintah untuk melawan covid-19. Untuk tenanga kesehatan, sampai sekarang “satu sen” pun saya belum pernah lihat, terang dr. Azis.

-      Edukasi kurang massif, sehingga membuat informasi simpang siur.

Menanggapi pengambilan paksa jenazah, dr. Azis mengatakan bahwa karena mereka, masyarakat tidak mengerti. Sehingganya perlu dilakukan edukasi kepada mereka. Ajak tokoh masyarakat, tokoh agama yang didengar masyarakat untuk bersama-sama mengedukasi mereka. Terkait ketidak-percayaan segelintir orang terhadap tenaga kesehatan, dr. Azis menyarankan untuk kita menunjukkan apa kerja kita, apa capaian yang telah kita lakukan, dan target apa yang akan kita lakukan sehingga menjadi bahan edukasi kepada masyarakat agar kita tetap dapat dipercaya oleh masyarakat.

Lebih lanjut dr. Azis mengatakan, terkadang kalau saya lewat dan melihat ada orang kumpul-kumpul, saya singgah menyapa mereka, menemani ngobrol, sekalian mengedukasinya agar tetap mengikuti protokol kesehatan.

Ada juga oknum yang membuat situasi tidak kondusif. Untuk itu, kehadiran pemerintah seharusnya ada untuk menenangkan masyarakat. Sehingga tidak menjadikan profesi tenaga kesehatan menjadi reaktif. Media center sangat penting untuk dibuat untuk menjadi sumber informasi, yang memuat tentang target, capain dan kinerja yang telah dilakukan oleh pemerintah sehingga masyarakat bisa bersama untuk menangani covid-19.

Menanggapi tudingan oknum tertentu terhadap tenaga kesehatan melakukan konspirasi dengan WHO, dr. Azis mengatakan bahwa tenaga kesehatan juga terlalu reaktif. Sehingga menjadikan provokasi menjadi lebih besar. Seharusnya tenaga kesehatan tidak perlu terlalu reaktif. Kalau kita reaktif, apatah lagi masyarakat jauh lebih reaktif dari kita. Jadi kita harus melihat lebih jernih. Cukup kita klarifikasi saja. Sebagai profesi medis, kita harus introspeksi diri, apakah yang dikatakan oleh oknum-oknum itu benar atau tidak, apakah kita harus mempolisikan mereka. Kemudian kita harus mengetahui tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Sebagai program untuk mememerangi penularan covid-19, saat ini Satgas Covid-19 IDI Wilayah Sulawesi Selatan membuat alur rumah sakit sesuai standar kementerian kesehatan dan WHO, sehingga masyarakat tidak tertular covid-19. Untuk agenda atau program berikutnya kami akan membuat video dan flyer untuk mengedukasi masyarakat secara masif tentang covid-19 serta apa sebenarnya yang disebut new normal life dan permasalahan kesehatan apa yang kemungkinan muncul pada penerapannya.

 

Dr. Muh. Fachrurrozy Basalamah

(Relawan Medis RSCD Wisma Atlet)

 

Berikut ini penuturan dr. Ozy, panggikan akrab dr. Muh. Fachrurrozy Basalamah, mengenai suka duka menjadi relawan medis dan pengungkapan pengalamannya menjadi relawan di RSDC Wisma Atlet.

“Mungkin ini pengalaman yang sangat berbeda dari saya karena sebelumnya saya sering terjun sebagai relawan seperti relawan banjir, tsunami, gempa bumi dan bencana-bencana lainnya. Tapi saat ini ada sesuatu yang berbeda kami relawan sekarang melawan bencana tak terlihat bahkan akhir dari bencana ini, kitapun tidak ada yang tahu, sehinggga hal tersebut membuat para relawan covid 19 haru bekerja ekstra termasuk saya,” ungkap dr. Ozy.

Dr. Ozy menjelaskan lebih lanjut. Bencana Covid-19 ini menjadi hal yang berharga bagi saya karena dengan harapan, ya, saya bisa membantu masyarakat.

Dari awal wabah ini saya sebagai direktur Bakornas LKMI HMI telah bekerjasama dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan, kesehatan dll., seperti KAHMI, KNPI dan beberapa OKP Cipayung langsung terjun untuk berbagi masker, hand senitizer, sembako, dan makanan kepada masyarakat yang membutuhkan. Dan sampai saat ini kegiatan tersebut masih berjalan berupa giat berkampanye serta memberikan edukasi kepada seluruh lapisan masyarakat.

“Selain itu, saya sebagai direktur LKMI bekerjsama sama dengan PB HMI mengadakan rapid test gratis kepada para tenaga medis yang dilaksanakan di sekretariat PB HMI pada pertengahan april lalu.

Setelah itu karena rasa kemanusian saya medorong untuk lebih aktif lagi, saya pun memberanikan diri dan memilih RSDC wisma atlet untuk menjadi relawan medis disini.

Sebenarnya, awalnya menjadi relawan di RSCD Wisma Atlet pasti ada rasa takutlah karena akan menghadapi pasien yang positif. Tapi, ini sudah menjadi pilihan saya dan dengan tekad yang kuat.

Awalnya orang tua pun keberatan dengan pilihan saya menjadi relawan medis di Wisma Atlet ya, tapi saya berusaha menjelaskan baik-baik ke orang tua dan alhamdulillah seiring berjalannya waktu mereka sudah menerima karena ini tanggungg jawab kami sebagai dokter yang telah disumpah sebagai dokter. Disitu ada tanggung jawab besar yang menjadikan seorang dokter ataupun tenaga medis lainnya berani berada di garda terdepan atas dasar kemanusiaan.

Dengan niat baik dan tulus dan yakin Allah selalu berada di samping kita dan sebagai dokter ini adalah amanah, dan orang tua juga menyampaikan bahwa jangan pernah menyusahkan orang tua, karena seorang dokter harus siap kapan saja untuk menolong orang-orang.

Intinya perjuangan orang tua sehingga saya bisa menjadi dokter merupakan penyemangat bagi saya dalam setiap pekerjaaan.

Ternyata di dalam RSDC Wisma Atlet berkumpul semua, baik dokter, perawat, apoteker, petugas lab, dan tenaga medis lainnya semua berkumpul dari berbagai daerah, suku, dari berbagai almamater saling membantu, bekerjasama, bahu membahu, saling menyemangati. Inilah yang membuat saya berkesan dan juga membuat  saya semakin bersemangat membantu masyarakat indonesia melawan covid-19 ini.

Hal menarik selama menjadi relawan, ya, salah satunya ketika memakai APD, biasanya saya memakai APD delapan jam, dan memakai dua masker, membuat udara yang kami hirup sangat terbatas, tapi kami siap  berperang.

Di RSDC ini kami terbagi menjadi lima tim jaga dan  saya berada di tim dua. Setiap tim dipimpin oleh ketua tim, dimana di tim saya dipimpin oleh dr. Indranu, dr. dodi, dimana kami selalu memantau pasien dari obat, terapi hingga kami follow up satu per satu. Ya, dalam sehari itu ada tiga tim. Jadi setiap tim itu delapan jam waktu jaganya. Kami saling melengkapi antar tim.

Alhamdulillah sampai sekarang sudah banyak yang negatif dan sembuh. Yang menjadi salah satu tantangan yaitu selama jaga delapan jam lamanya, kita harus menahan BAK dan BAB. Hal ini secara pribadi menjadi tantangan tersendiri buat saya. Bahkan selama delapan jam kita tidak boleh makan dan minum, tapi kami sebagai seorang muslim masih bisa, ya, karena sudah terbiasa berpuasa.

Seiiring proses adaptasi, alhamdulillah kami bisa menyesuaikanlah.

Alhamdulillah juga karena fasilitas buat kami semua terjamin di sini di RSDC Wisma Atlet, sehingga kami tetap semangat membantu. Banyak relawan tim medis di sini betah menjadi relawan tim medis di RSDC dan terus memperpanjang gelombang menjadi relawan tim medis.

Motivasi saya masih bertahan sampai sekarang adalah yaitu semangat dari dalam diri untuk membantu mereka sampai sembuh dari covid-19.  Setiap saya jaga pasti saya sangat senang berdialog, bercerita, dan menyemangati setiap pasien disini dengan jarak 4-5 meter.  Saya semakin bersemangat dan sangat senang ketika melihat pasien sembuh dan keluar dari RSDC wisma atlet ini.

Selama menjadi relawan, ya, pernah saya down karena memang kondisi saya menurun drastis. Mungkin karena kurang istirahat, tapi alhamdulillah hal tersebut tidak membuat saya mundur sedikit pun. Saya tetap bersemangat berjuang melawan badai ini.

Mari kita tetap saling berpikir positif dan berharap kepada semua masyarakat untuk tetap rilex, tetap santai, dan jangan mudah terprovokasi dengan hoax yang bereder, apalagi diluar sana sudah banyak terprovokasi dengan teori konspirasi.

Intinya mari kita berjuang bersama-sama, mari kita saling dukung. Tolong jangan berpikir negatif sebab sudah banyak dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya yang terinfeksi (positif). Bahkan sudah banyak yang meninggal. Sangat disayangkan masih banyak masyarakat yang berpikiran negatif, yang mengganggap dokter mendapat keuntungan, astaghfirullahalladzim. Ini para tenaga medis berjuang bahkan sampai ada yang meninggal masa tetap dianggap mendapat keuntungan.

Pernah suatu waktu saya follow up seorang pasien, pada saat itu pasien tersebut bertanya mengenai konspirasi ini. Singkat cerita, saya hanya menyampaikan untuk mendengar hal-hal yang positif dan berbasis data, jangan mudah terprovokasi. Saya juga bingung sebenarnya pas ditanya karena melihat kondisi ini sampai sekarang. Sebenarnya kita tidak boleh mengatakan ini gelombang ke 2, 3 dst., karena tren covid ini semakin meningkat.  Jadi kita tidak boleh terlena. mari kita tetap saling edukasi dan saling memberikan berita postif

Dalam menangani pandemi ini harus ada kerja sama antara pemerintah, masyarakat dan tenaga kesehatan. Bila salah satu komponen ini abai, maka pandemi ini akan semakin berkepanjangan.

Menutup penuturannya, dr. Ozy berpesan: “Mari kita saling mendukung dan memotivasi. Bukan saling menuding dan memprovokasi. Yakinlah tenaga kesehatan akan tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab atas nama kemanusiaan sesuai dengan sumpah profesi masing-masing.”

 

Dr. Rani Septiyani

 

Saya menceritakan dari awal.  Waktu itu dinyatakan positif pertengahan maret, pada saat itu rapid pun belum ada. Saat itu yang mengecewakan adalah karena telah menyampaikan ke kepala IGD bahwa keluarga juga bergejala. Ada yang Demam sampai 40 derajat.saat saya ke Dinkes sekitar rumah untuk dilakukan swab untuk keluarga saya, namun dikatakan reagen habis. Saya awalnya memahami karena saat itu serba sulit.  Namun sampai detik ini tidak ada tindaklanjut untuk keluarga. Saat ini keluarga saya memang sudah tidak bergejala lagi.

Untuk Saya sendiri melakukan swab 6 kali. 4 kali dinyatakan positif, 2 kali akhir April sudah dinyatakan negatif. Yang diharapkan sebenarnya masyarakat dan tenaga medis lebih mudah dalam memeriksakan diri.

Saat ditetapkan positif, Jujur saya takut, ada kakak saya yang lagi hamil. Takut menularkan ke dia. Untung nya saya punya teman yang baik, sampai dokter spesialis paru menanyakan kabar tiap hari.  Bagian yanmed RS juga selalu menanyakan hasil swab. Ada juga teman yang positif juga. Kami berbagi informasi terkait gejala. Mereka tidak bergejala hanya saya soalnya yang bergejala saya takut banget. ada jurnal yang mengatakan bahwa anosmia (tidak bisa mencium bau) pada pasien COVID-19 ada yang berlangsung permanen. Waktu itu, spesialis paru (dr Agus)menanyakan ke saya. jika saya tau itu mungkin saya bisa depresi.  waktu itu saya tidak bisa menghidu sama sekali selama 10 hari. Minggu kedua baru bisa menghidu itupun makan yang garamnya banyak. Yang disayangkan juga adalah saat saya ke dinkes kesehatan di sekitar rumah seperti mereka ada rasa jijik.

Setelah dinyatakan negatif dan bekerja kembali adalah Yang saya dapatkan banyak pasien langsung drop sampai marah, tidak terima, dan menolak. Saya di isolasi di rumah selama 1 bulan. Beda tempat dengan keluarga. Saya tinggal di lantai 1 dan keluarga saya di lantai 2 semua.

Yang ingin disampaikan ke masyarakat adalah untuk masalah covid ini nyata karena saya sendiri mengalami gejalanya. Dan Itu benar tidak dilebih-lebihkan. Semua yang dipresentasikan oleh dokter2 sesuai seperti, batuk kering, meriang, itu semua muncul di saya. saya ingin menyampaikan ke masyarakat jika terkena jangan takut datangi tim medis. Dan kalau positif ikuti prosedur yang ada. Karena kami hanya mengingkan kesembuhan masyarakat dan kalau bisa tidak menularkan ke masyarakat yang lain terutama masyarakat yang rentan. Melalui ini juga kami pertanyakan adalah bagaimana perlindungan untuk tim medis. Karena kan dilaporkan adanya kasus reinfeksi. Apalagi kan mall-mall sudah buka bagaimana yah. Pemerintah sebaiknya harus lebih sigap terkait ini.

 

informasi lebih lanut dari hasil diskusi ini dapat dibaca di www.sadargizi.com