Ratusan Anggota IDI Cab Sibolga Tolak Kriminalisasi Dokter

Ratusan Anggota IDI Cab Sibolga Tolak Kriminalisasi Dokter

29 November 2013 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


Ratusan Anggota IDI Cab Sibolga Tolak Kriminalisasi Dokter

IDI Sibolga editSeratusan dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Sibolga-Tapteng menggelar aksi damai di dua tempat berbeda, Rabu (27/11).  Aksi ini sebagai bentuk protes atas ditahannya dr Dewa Ayu Sasiary Prawani SpOG serta rekannya dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian, sejak 8 November lalu karena diduga melakukan kegiatan malapraktik. “Aksi ini berlaku bagi dokter kandungan yang khusus membuka praktik.”

Mereka tidak melayani pasien selama satu hari. Hal ini merupakan aksi solidaritas kepada dr Ayu, dr Hendry Siagian dan dr Hendry Simanjuntak,” kata dr Rivo Patricia, salah seorang dokter kandungan di sela-sela aksi solidaritas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sibolga, Rabu (27/11) di RSU FL Tobing Sibolga.

Diakui Rivo, rekan mereka sesama dokter, sebagian ikut menyampaikan aspirasi ke Jakarta bersama dokter-dokter lainnya yang tergabung dalam PB IDI. Hal itu dibenarkan salah seorang dokter yang namanya tak ingin dipublikasikan. Dikonfirmasi melalui telepon selulernya, dokter tersebut mengaku sedang berada di Jakarta.

Pelayanan Tidak  Terganggu

Sebelumnya, sekitar 70-an orang dokter yang tergabung dalam IDI Sibolga juga melakukan aksi solidaritas selama 30 menit. Aksi ini dipimpin langsung oleh Ketua IDI Cabang Sibolga dr Fauzan Amri. Mereka melakukan orasi untuk memberikan dukungan kepada ketiga dokter kandungan yang kini terjerat hukum karena dituduh melakukan malapraktik.

“Aksi ini kita lakukan sesuai hasil keputusan dari pengurus pusat Ikatan Dokter Indonesia untuk memberikan dukungan solidaritas atas persoalan yang dihadapi ketiga dokter kandungan yang saat itu bertugas untuk menolong pasien,” jelasnya.

Namun, kata Fauzan, aksi solidaritas yang mereka lakukan tidak sampai mengganggu pelayanan kepada para pasien yang akan berobat baik di puskesmas maupun rumah sakit yang ada di Sibolga.

“Sebagai wujud keprihatinan kita, selama menjalankan tugas di rumah sakit dan puskesmas, seluruh dokter yang tergabung dalam wadah IDI mengenakan pita hitam di lengan selama tiga hari berturut-turut saat melayani pasien,” jelasnya seraya mengimbau seluruh dokter yang tergabung dalam aksi itu agar tetap tenang dan kembali bekerja memberikan pengabdian kepada masyarakat. “Meski melakukan aksi solidaritas ini, tetapi pelayanan terhadap masyarakat jangan sampai terganggu,” tegasnya.

Pantauan METRO, meski aksi solidaritas dilakukan sejumlah dokter di daerah itu, namun pelayanan di rumah sakit seperti, RSUD FL Tobing, RS Metta Medika dan Puskesmas yang ada di Sibolga berjalan lancar. Pasien tetap dilayani sebagaimana biasanya. Bahkan sejumlah pasien mengerti dan sabar menunggu aksi para dokter itu hingga selesai.

“Kami datang ke RSUD FL Tobing pukul 09.00 WIB, namun baru pukul 10.00 WIB dilayani. Kita akui pelayanan terganggu selama 1 jam. Tapi kami tidak merasa keberatan, karena aksi yang mereka lakukan itu demi mendukung teman mereka,” ujar L Simatupang (40), salah seorang pasien di RSU FL Tobing Sibolga saat membawa anaknya berobat.

L Simatupang justru mendukung aksi para dokter tersebut. Sebab dokter juga manusia.
“Jika segala sesuatunya selalu berujung dengan hukum yang seperti itu, maka tidak ada lagi dokter yang berani memegang pasien khususnya menangani operasi caesar. Seharusnya aparat hukum bijaksana dalam mengambil keputusan,” tandas wanita berkulit sawo matang itu.

Lakukan Aksi Selama 3 Hari

Aksi serupa juga dilakukan sejumlah dokter yang bertugas di Tapteng. Sebanyak 32 orang dokter yang tergabung dalam IDI Cabang Tapteng menggelar aksi solidaritas di persimpangan jalinsum Pandan-Sidimpuan

“Aksi solidaritas yang kami laksanakan ini merupakan bukti dukungan yang kami berikan kepada ketiga rekan kami yang telah divonis MA bersalah akibat malpraktik,“ ujar Ketua cabang IDI Tapteng Dr Sempakata Kaban, Rabu (27/11).

Sebelum melaksanakan aksi, para dokter yang mengenakan jas putih dan mengikatkan pita hitam di lengan kanannya itu, terlebih dahulu berkumpul di RSUD Pandan. Setelah itu, mereka berjalan ke persimpangan Jalan Pandan Sidimpuan yang berada di sekitar RSUD Pandan. Para dokter melakukan aksinya dengan membentangkan spanduk bertuliskan, Ikatan Dokter Indonesia Cabang Tapteng aksi solidaritas. “Tolak kriminalisasi dokter”

Dikatakan Sempakata, kegiatan solidaritas yang mereka laksanakan ini akan dilaksanakan selama 3 hari yang diikuti para dokter umum dan dokter spesialis yang berada di RSUD Pandan dan puskesmas yang ada di sekitar Pandan. Selama melaksanakan aksi, mereka hanya melakukan pada pagi hari dan hanya sekitar satu jam.

“Aksi ini akan kita laksanakan selama 3 hari, yang diikuti para dokter umum, spesialis dan dokter yang ada di Puskesmas. Aksi yang kami lakukan ini hanya dilaksanakan pagi dan waktunya juga hanya satu jam,“ ucapnya. Amatan METRO, usai melakukan aksi damainya, para dokter langsung membubarkan barisan dan kembali bekerja seperti biasanya.

“Setelah melakukan aksi solidaritas, pelayanan di RSUD Pandan tetap berjalan dengan baik. Tidak semua dokter mengikuti aksi itu. Kita juga mempersiapkan dokter agar tetap standbay untuk memberikan pelayanan kepada pasien,” kata Sekretaris RSUD Pandan, Jongga Hutapea.