Terapi Baru TB Kebal Obat Diuji Klinis

Terapi Baru TB Kebal Obat Diuji Klinis

22 November 2018 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


Pengobatan TB

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit tengah melakukan uji klinis terhadap obat baru untuk penyakit tuberkulosis (TB) kebal obat atau TB multidrug resistant (MDR). Apabila berhasil, waktu pengobatan untuk pasien TB MDR akan lebih singkat.

Dokter spesialis paru dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan, dr Erlina Burhan SpP(K), mengungkapkan, jika umumnya pasien TB MDR harus menjalani pengobatan selama 2 tahun, dengan pengobatan baru diharapkan mereka hanya menjalani pengobatan selama 9 hingga 12 bulan.

“Obatnya sudah diuji klinis di berbagai negara dan direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kita juga sedang melakukan uji klinis,” ujar Erlina dalam diskusi panel bersama Kementerian Kesehatan dan Setop TB Partnership Indonesia (STPI) yang bertajuk Langkah Strategis Indonesia Menuju Eliminasi TB 2030, di Jakarta, kemarin. Hadir dalam diskusi itu Menteri Kesehatan Nila F Moeloek.

Erlina menjelaskan, pasien TB MDR merupakan pasien dengan bakteri Mycobacterium tuberculosis (kuman penyebab TB) dalam tubuhnya sudah kebal terhadap obat-obatan TB yang biasa (lini pertama) sehingga pengobatannya membutuhkan kombinasi obat yang lebih banyak dan waktu pengobatan yang lebih panjang.

Pasien TB MDR, lanjut Erlina, juga harus disuntik setiap hari selama masa pengobatan. Apabila pengobatannya tidak tuntas atau putus berobat, pasien TB MDR bisa menjadi TB XDR (extensively drug-resistant).

Pada pasien TB XDR, resistensi terjadi terhadap dua obat antituberkulosis terkuat lini pertama, ditambah kebal terhadap obat lini kedua.

“Uji klinis ini sudah setahun lalu. Diberikan pada pasien di beberapa rumah sakit, salah satunya RS Persahabatan,” imbuhnya.

Salah satu pasien TB MDR, Ully Ulwiyah, 31, mengungkapkan beratnya menjalani 2 tahun pengobatan. Ia bahkan sempat mengalami depresi dan hampir menyerah.

“Selama 2 tahun saya harus datang setiap hari ke rumah sakit untuk disuntik. Pernah dalam masa pengobatan saya harus minum obat 15 butir per hari. Saya menjadi pasien TB MDR karena dulu kurang paham sehingga tidak patuh berobat,” kata Ully.

Sumber : mediaindonesia.com