Vaksin Ketiga Sebagai Pelengkap Setelah Cakupan Terpenuhi

14 October 2021 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional


vaksin-virus-corona-covid-19

Para ahli merekomendasikan vaksin Covid-19 dosis ketiga untuk mereka yang memiliki gangguan kekebalan. Selain itu, kelompok lanjut usia yang mendapat vaksin buatan Sinovac dan Sinopharm direkomendasikan mendapat tambahan dosis sebagai pelengkap. Namun, Indonesia disarankan memprioritaskan pemerataan vaksinasi dosis pertama dan kedua.

Rekomendasi tentang pemberian vaksin ketiga ini dikeluarkan dalam pertemuan Kelompok Ahli Penasehat Strategis (Strategic Advisory Group of Experts/SAGE) tentang Imunisasi pada 4-7 Oktober 2021.

Disebutkan, orang dengan gangguan kekebalan sedang dan berat harus ditawari dosis tambahan dari semua vaksin yang telah mendapat otorisasi penggunaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagai bagian dari seri primer yang diperpanjang.

Perlu dosis tambahan ini karena mereka yang mengalami gangguan imunologis ini cenderung tidak merespons secara memadai terhadap vaksinasi dosis pertama atau kedua, sehingga berisiko parah jika terinfeksi Covid-19.

Khusus untuk pengguna vaksin Covid-19 dari virus yang dinonaktifkan seperti Sinovac dan Sinopharm, dosis tambahan dari vaksin homolog juga harus ditawarkan kepada orang yang berusia 60 tahun ke atas sebagai bagian dari seri primer yang diperpanjang. Penggunaan vaksin platform heterolog untuk dosis tambahan juga dapat dipertimbangkan berdasarkan pasokan dan akses vaksin.

Namun demikian, ketika sebelum menerapkan rekomendasi ini, negara harus memaksimalkan dulu cakupan dua dosis vaksinasi di masyarakat. Baru setelah itu, diberikan dosis ketiga, dimulai pada kelompok usia tertua.

Menanggapi hal ini, Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, yang dikonfirmasi Rabu (13/10) mengatakan, “Kita tetap fokus pada penyelesaian vaksin satu dan dua dulu. Ini juga ada dalam rekomendasi SAGE.”

Sesuai data Kementerian Kesehatan, hingga kini cakupan vaksinasi dosis pertama di Indonesia secara total mencapai 48 persen dari target populasi, sedangkan cakupan vaksinasi dosis kedua sebesar 27,59 persen. Kelompok lanjut usia (lansia) termasuk memiliki cakupan paling rendah, yaitu yang mendapat suntikan dosis pertama baru 33,6 persen dan suntikan kedua 21,7 persen.

Terkait dengan banyaknya warga yang kesulitan mendapatkan vaksin kedua yang sama, khususnya dalam hal ini kesulitan mendapat Astra Zeneca, Nadia meminta mereka tetap menunggu pasokan. Dia tidak menyarankan adanya suntikan dosis kedua yang berbeda dengan dosis pertama.

Dosis pelengkap

Peneliti vaksin dan biologi molekuler dari Indonesia di John Curtin School of Medical Research, Australia National University, Ines Atmosukarto mengatakan, vaksin berbasis virus yang dinonaktifkan pada dasarnya memiliki kemampuan membangkitkan kekebalan (immunogenic) lebih kecil dibandingkan platform lain.

” Oleh karena itu, vaksin ketiga yang diberikan untuk mereka yang mendapat dua vaksin inactivated (Sinovac dan Sinopharm) ini  disebut sebagai pelengkap, bukan booster,” ujarnya.

Menurut Ines, dengan disebut sebagai pelengkap, secara teknis vaksin berbasis virus yang dinonaktifkan ini memang lebih optimal apabila diberikan dalam tiga dosis dan bukan dua dosis. Dia juga mengingatkan, efikasi atau kemanjuran dua dosis vaksin Sinovac sekitar 50-65 persen.

Oleh karena itu, lanjut Ines, dalam rekomendasi SAGE ini disebutkan dosis ketiga untuk vaksin Sinovac atau Sinopharm ini sebagai pelengkap dosis 1 atau 2, bukan sebagai “booster” sebagaimana untuk vaksin mRNA.

Sekalipun vaksin ketiga dibutuhkan untuk mereka yang mendapatkan Sinovac, menurut Ines, saat ini Indonesia lebih mendesak memberi imunisasi dasar atau suntikan pertama dan kedua untuk sebanyak-banyaknya orang. “Pada saat yang sama, kita perlu memberi perlindungan terbaik untuk kelompok masyarakat paling rentan,” ungkapnya.

Epidemiolog Indonesia di Griifith University Dicky Budiman menyarankan, pemberian vaksin ketiga harus didasarkan pada batas minimal cakupan vaksinasi dosis kedua yang telah diberikan. “Daerah yang belum memiliki cakupan vaksinasi dosis kedua untuk populasi sebesar 50 persen dan 70 persen untuk kelompok rawan harus mengejar dulu cakupan vaksinnya, baru bisa memberi vaksinasi ketiga,” kata dia.

Sumber : Kompas cetak halman 1 (14 Oktober 2021)