IDI dan Kepemimpinan Bangsa

IDI dan Kepemimpinan Bangsa

9 January 2013 | Posted in Artikel, artikel-ketua, berita-lengkap, Kolom


Oleh: Zaenal Abidin

Berkaitan dengan dalam suatu organisasi, Dr. Soetomo, pendahulu kedokteran Indonesia serta pencetus berdirinya gerakan Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, mengatakan bahwa “Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mempersiapkan pemimpin baru. Bila seorang pemimpin tidak menghasilkan pemimpin-pemimpin baru maka pemimpin tersebut telah kandas dalam kepemimpinannya”. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi yang dinamis harus secara terbuka menyilahkan kader-kader yang amanah untuk berkompetisi secara sehat untuk melanjutkan estapet kepemimpinan organisasi tersebut.

Di lingkungan IDI yang beranggotakan para dokter, proses pemilihan kepemimpinan itu juga sangat penting. Ia harus berjalan secara demokratis, tanpa ada tekanan, dan bebas dari politik uang.  Di semua tingkatan kepengurusan di jajaran IDI sudah ditetapkan bahwa dalam suatu jenjang kepengurusan,  seseorang hanya diperbolehkan untuk menduduki jabatan ketua umum atau ketua sebanyak dua kali masa kepengurusan. IDI tidak menginginkan adanya kepemimpinan yang stagnan. Hal ini juga berarti bahwa proses demokrasi harus berjalan terus di dalam tubuh organisasi ini. Oleh karena itu sebelum berakhirnya kepengurusan pada setiap jenjang organisasi sudah semestinya telah siap sederet kader-kader terlatih yang akan mengambli alih esapet kepemimpinan. Memimpin organisasi IDI adalah proses melatih diri untuk menjadi pemimpin organisasi yang lebih besar, yakni bangsa dan negara.

Kini dengan makin berkembangnya peradaban manusia, organisasi IDI pun dituntut untuk mengembangkan peran-peran strategisnya, selain peran yang selama ini berkaitan dengan pekerjaan yang banyak digeluti anggotanya, yaitu agent of treatment (mengobati orang yang sakit). Peran strategis yang akan dikembangkan di masa depan selain karena anggotanya adalah profesional kesehatan, ia juga dituntut untuk memerankan diri sebagai organisasi orang-orang terpelajar atau cendekiawan. Karena itu tentu IDI dan anggotanya sangat kompeten menjadi agent of change dan agent of development dalam pembangunan bangsa.

Peran di atas bukan hal yang mustahil bagi IDI, mengingat IDI beranggotakan orang-orang terdidik atau sarjana. Oleh karena itu yang diperlukan saat ini adalah bagaimana agar organisasi IDI dengan seluruh jajarannya dapat merevitalisasi peran pengabdianya. Di sektor kesehatan, IDI dan anggotanya diharapkan melebarkan lapangan pengabdiannya dengan berkontribusi seluas-luasnya dalam upaya menyehatkan bangsa secara komprehensif (fisik, mental, dan sosial).

Namun demikian, di luar lapangan kesehatan pun tidak tertutup bagi  IDI dan anggotanya. Ke depan bukan sesuatu yang tidak mungkin, semakin banyak anggota IDI yang berkipra di sektor pengambilan keputusan dalam makna yang lebih luas. Hal yang sama, juga semakin terbuka kemungkinan bagi dokter Indonesia untuk tampil menjadi pemimpin bangsa, baik secara formal maupun non formal, bahkan menjadi seorang negarawan sekalipun. Peluang menjalankan peran tersebut tentu selalu selalu ada  bila IDI dan anggotan berupaya untuk itu. Potensi untuk menjadi pemimpin bangsa dan menjadi negarawan, menjadi penyangga di tengah rakyat dan bangsanya juga dipunyai oleh dokter-dokter Indonesia.

Bila ditelusuri kebelakang ketika masih menempuh pendidikan, baik sebelum duduk di perguruan tinggi maupun setelah menjadi mahasiwa, tentu tidak sulit menemukan jejak organisasi pelajar (osis) atau organisasi mahasiswa (senat fakultas, senat perguruan tinggi, dan oranisasi ekstra universitas), justru dipimpin oleh mereka-mereka yang kini menjadi seorang dokter dan anggota IDI. Ini berarti bahwa potensi menjadi pemimpin bangsa dari kalangan dokter dalam arti yang lebih luas, nyata adanya. Ia bagaikan “mutiara” yang terpendam di bawah laut. Tinggal bagaimana mencari dan menemukan “mutiara” yang terpendam itu, kemudian memolesnya. Potensi kepemimpinan dokter sayang bila tidak ditemukan dan dikembangkan.

Pertanyaan kemudian muncul, siapa yang harus mencari, menemukan, dan memoles mutiara itu? Tentu yang mempunyai tugas adalah organisasi tempat para mutiara (dokter) itu berhimpun. Mengingat semua dokter Indonsia adalah anggota IDI maka tentunya IDI-lah yang memiliki tugas utama untuk menemukan, memoles dan menempanya. Karena itu proses kaderisai di lingkungan IDI harus dikembangkan guna menghindari munculnya pemimpin “karbitan”, yang sebelumnya tidak pernah berproses dan belajar secara dinamis di dalam aktivitas organisasi.  Karena itu pula di masa depan IDI mendapatkan satu tambahan tugas, yakni memoles, menempa, dan melahirkan pemimpin organisasi yang memiliki integitas pribadi baik. IDI harus menjadi lahan subur untuk bersemainya kader-kader pemimpin bangsa yang memiliki kemampuan ilmiah, dan etika moral yang tinggi. Pemimpin yang kelak yang mencintai dan dicintai rakyatnya.

Proses untuk melahirkan kader bangsa yang andal tentu saja tidak mudah. Namun IDI tidak boleh ragu-ragu, ia harus memilki keberanian untuk memulainya. Terlebih lagi bila  IDI menganggap bahwa tugas ini adalah sebuah keharusan sejarah dan tuntutan zaman. Berkaitan dengan ini, saya ingin menutup catatan kecil ini dengan mengutip ungkapan seorang cendekiwan muslim ternama Indonesia, Alm. Prof. Nurcholish Madjid. Cak Nur (panggilan akrab beliau) pada suatu forum diskusi yang kebetukan saya adalah salah seorang pesertanya mengatakan, yang intinya kira-kira begini, “apabila kalian masuk ke dalam masjid karena ingin sholat berjamaah, namun kebetulan imam tetap masjid tersebut berhalangan hadir, maka hendaklah diantara kalian yang memenuhi syarat untuk menjadi imam, tampil dan bertindak sebagai imam. Sebab bila kalian tidak segera melakukannya maka dihawartirkan “orang gila” yang kalian tidak kenal serta tidak memenuhi syarat, yang akan mengambil alih dan maju menjadi imam, memimpin sholat berjamaah kalian.” Yakin Usaha Sampai. Salam Sehat Indonesia!